
Hazel menghentikan pukulannya pada tubuh Rhein saat sadar jika Rhein tidak merasakan apa-apa dari pukulan Hazel, tapi Rhein malah melihat Hazel dengan pandangan tersenyum seolah dia mendapatkan kemenangan dan Hazel sadar jika Rhein sedang memandangi dirinya di dalam air.
"Jangan melihatku seperti itu, Rhein!" Hazel kembali menutup tubuhnya dengan menyilangkan tangannya.
"Dengar ya, Gadis Perawan. Apa yang membuat kamu malu padaku? Aku malah sudah sering melihat tubuh banyak wanita yang lebih bagus dan sexy daripada tubuh kamu itu. Jadi, kamu tidak perlu malu aku lihat." Tapi jujur saja, ini Rhein benar-benar menyukai tubuh Hazel yang baginya mempesona jiwa dan raganya, beda sekali dengan tubuh wanita lainnya yang sering dia lihat.
"Tetap saja aku tidak nyaman kamu lihat."
"Buat nyaman saja." Sekali lagi Rhein mendekat pada Hazel. Hazel sudah melihat takut pada Rhein yang semakin mendekat padanya.
"Mau apa?"
"Mau mengajak kamu lomba berenang."
"Apa?"
"Lomba berenang, Hazel, dan nanti ada hadiah yang akan pemenang terima."
"Hadiah? Hadiah apa?" Hazel masih saja menutup tubuhnya yang masih di dalam air dengan tangannya.
"Jika aku menang, kamu harus menemani aku tidur malam ini."
"Hah?" Mulut Hazel sampai menganga. "Ti-tidur? Maksud kamu, aku bercinta denganmu?"
"Ahahah! Apa itu yang ada dipikiran kamu selama ini? Apa kamu diam-diam ingin bercinta denganku? Hah?"
Muka Hazel seketika mengkerut. "Bahkan bermimpi pun aku tidak pernah Rhein."
"Jangan berbohong! Karena biasanya mulut seorang wanita itu tidak sama dengan hatinya. Mulutnya bicara yang tidak sesuai dengan hatinya, dan aku tau kamu pasti menginginkan aku, hanya saja kamu malu."
Hazel memutar bola matanya jengah. "Aku serius, Rhein. Sekarang katakan saja apa hadiah buat pemenangnya? Apa kalau aku menang, aku bisa keluar dari sini dan kamu tidak boleh melihatku?"
"Baiklah, itu hadiahnya. Dan kalau kamu kalah kamu hanya menemani aku tidur, tapi jika kamu menginginkan lebih tidak masalah, kamu bilang saja." Rhein sekali lagi mengedipkan salah satu matanya.
Rhein akhirnya mengajak Hazel untuk lomba berenang, dan siapa yang mencapai tepi kolam lebih dulu, dialah pemenangnya.
Hazel dan Rhein sudah bersiap. Rhein menghitung satu sampai tiga dan lomba di mulai. Hazel sangat yakin jika dia akan menang, apa lagi dia dulu adalah juara lomba renang dia sekolahnya. Hazel berenang sangat cepat.
"Sudah bisa ditebak siapa pemenangnya," ucap Rhein sombong yang ternyata lebih dulu tiba di sana."
"Kamu itu keturunan putri duyung ya, Rhein?"
__ADS_1
"Hah? Putri duyung? Enak saja, kedua orang tuaku itu asli manusia."
"Kenapa aku bisa kalah sama kamu? Aku itu juara berenang di sekolahku," gerutu Hazel lirih, tapi Rhein bisa mendengarnya.
"Tentu saja kamu bisa kalah. Kalau kamu mengatakan juara lomba berenang di sekolahmu, aku juara lomba berenang tingkat nasional."
"Apa kamu atlet?"
"Itu dulu, tapi aku sudah melupakannya."
Rhein naik ke atas permukaan dan menutupi tubuhnya dengan handuk. Hazel masih di dalam kolam yang airnya semakin dingin karena suasana di sana sudah mendekati malam hari.
"Gadis Perawan, naik sini! Apa kamu mau mati kedinginan?"
"Tidak mau kalau disuruh mengambil handukku sendiri." Hazel terlihat kedinginan, dia semakin mengeratkan pelukannya.
Rhein mengambilkan handuk untuk Hazel. Dia berdiri tepat di arah tangga naik yang ada di dalam kolam.
"Ini handuk kamu dan cepat naik."
"Berikan saja padaku?"
Hazel berjalan naik karena dia melihat Rhein menutup kedua matanya. Rhein dengan kedua mata tertutup memakaikan handuk pada Hazel.
"Su-sudah, Rhein, terima kasih."
Rhein melihat wajah Hazel yang tampak kedinginan. Bahkan mulut Hazel sampai bergetar karena dingin.
Rhein mendekap dari depan tubuh Hazel yang sudah memakai handuk model kimono tebal.
"Apa kamu sangat kedinginan?" Hazel mengangguk dengan cepat.
Rhein sekali lagi tampak terpukau melihat wajah Hazel yang terlihat dengan rambut basahnya itu.
Bibir Rhein perlahan mendekat dan mengecup dengan lembut bibir Hazel. Gadis itu mendelik melihat pria yang sedang mencium bibirnya dengan dalam.
Rhein menunjukkan keahliannya dalam berciuman. Hazel yang mencoba mendorong tubuh Rhein, tapi Rhein malah mendekapnya dengan erat seolah dia tidak mau Hazel pergi darinya.
Gerakan Rhein membuat Hazel mulai menikmati ciuman yang Rhein berikan. Ada sensasi baru pertama kali yang Hazel rasakan saat ini, bahkan dia dengan reflek membalas ciuman yang Rhein berikan.
Beberapa menit kemudian, Rhein menghentikan apa yang dia lakukan karena dia tidak mau sampai melakukan hal lebih pada gadis polos itu.
__ADS_1
Kedua mata mereka saling menatap, bahkan Hazel tidak malu melihat pada Rhein. "Kamu sudah mulai pintar berciuman, gadis perawan, dan aku menyukainya. Jadi seorang wanita itu jangan terlalu polos karena hal itu tidak baik untuk kesehatan."
Hazel seketika mengerutkan wajahnya mendengar kalimat terakhir Rhein. "Apa hubungannya kepolosan seseorang dengan kesehatan?" Hazel melihat bingung pada Rhein, tapi pria itu hanya membalas dengan senyuman.
Rhein menggendong Hazel untuk dia bawa ke kamarnya. Rhein meletakkan Hazel di atas tempat tidur. "Rhein, aku belum membuatkan makan malam untuk kamu."
"Tidak perlu, aku pesankan saja. Kamu diam saja di situ."
Rhein menghubungi restoran yang ada di dekat sana untuk memesan beberapa makanan.
Hazel yang kedinginan menarik selimut di tempat tidur Rhein dan menyelimutkan pada tubuhnya. Rhein menyalakan pemanas di ruangan itu.
Ternyata di luar sedang turun salju. Oleh karena itu malam ini jadi dingin sekali.
Tidak lama pesanan makanan Rhein datang. Rhein membawanya ke dalam kamar agar bisa dia nikmati berdua dengan Hazel.
Mereka makan malam berdua di meja tamu yang ada di dalam kamar itu. Hazel dan Rhein pun sama-sama masih memakai kimono handuknya.
"Makanan ini enak sekali."
"Tentu saja enak, makanan ini mahal, Hazel."
"Kalau tau ini sangat mahal, lebih baik tadi aku memasak sendiri."
"Kelamaan, aku bisa-bisa pingsan menunggu kamu selesai memasak."
"Tapi, kan, masih mending aku memasak sendiri, jadi uang kamu tidak habis untuk membeli makanan ini."
"Kamu tenang saja, uangku masih banyak," ucap Rhein sombong.
"Jangan seperti itu. Nanti kalau kamu tidak memiliki uang, bahkan satu sen pun kamu akan sayang sekali mengeluarkannya."
"Iya, cerewet." Rhein kemudian beranjak dari duduknya dan mengambil sesuatu dari dalam saku kemejanya. Dia kembali pada kursinya dan menyodorkan kartu ATM pada Hazel.
"Apa ini, Rhein? Aku tidak membutuhkan kartu ATM kamu."
"Ini bukan kartu ATM aku, tapi milik kamu."
"Milikku?"
"Iya, dan di sana ada uang bayaranmu saat jadi model untuk perusahaanku."
__ADS_1