Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Happy Ending part 2


__ADS_3

Hazel melepaskan ciuman dari pria yang sangat dia cintai itu. Jujur saja, beberapa hari ini perasaan Hazel tidak karuan karena dia memikirkan tentang pernikahan Rhein, dia bahkan sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Rhein, kita seharusnya tidak bisa melakukan ini. Aku tidak mau mengkhianati Orlaf." Hazel menunduk dan menangis dihadapan Rhein.


"Hazel, coba lihat aku." Rhein membuat Hazel melihatnya dengan menangkup kedua pipinya. "Apa kamu masih mencintaiku?"


"Aku bahkan tidak bisa melupakan kamu dari hidupku, Rhein." Hazel menangis lebih keras. Rhein dengan cepat memeluk gadis yang dia cintai itu.


"Aku juga sangat mencintaimu, Hazel. Hazel, kita pergi dari negara ini dan aku akan mengajakmu pergi sejauh mungkin ke tempat di mana hanya ada aku dan kamu. Apa kamu mau ikut bersamaku?"


Hazel menggeleng perlahan. "Aku tidak bisa Rhein. Aku tidak bisa."


"Apa yang membuatmu tidak bisa? Apa kamu mencintai Orlaf?"


"Bukan seperti itu, Rhein. Andai aku bisa mencintai orang lain, maka aku tidak akan tersiksa seperti ini."


"Ayolah, Hazel. Kita saling mencintai dan aku berjanji akan membahagiakanmu. Kita pergi yang jauh dari negara ini, kita akan membuat sebuah keluarga kecil kita nantinya. Hazel, aku ingin memiliki anak yang lucu-lucu darimu."


Hazel semakin merasa tidak karuan perasaanya saat ini. "Rhein, tidak semudah itu. Sekarang malah lebih sulit karen kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan pada Dinda."


"Hazel, aku tidak melakukan apapun pada Dinda. Dia hanya mengarang cerita, kalaupun aku harus bertanggung jawab, aku akan menikahinya dan memberinya harta yang menjadi haknya. Lalu, aku akan tinggalkan dia."


"Jangan sejahat itu, Rhein."


"Dia juga wanita yang jahat dengan berkata bohong pada keluargaku. Wanita seperti dia tidak akan mungkin aku pilih menjadi istriku."


Hazel sebenarnya percaya dengan apa yang Rhein katakan, tapi dia sendiri bingung bagaimana membuktikan hal itu?


"Tapi aku juga tidak mau berbuat jahat dengan meninggalkan Orlaf begitu saja. Rhein, aku minta maaf." Hazel berlari pergi dari sana.


Kedua rahang Rhein seketika mengeras menahan kepalanya. Dia segera meneguk segelas minuman dan kembali ke tengah acara.

__ADS_1


Acara berlangsung sampai hampir tengah malam. Beberapa orang sudah pulang, sedangkan keluarga besar Akira masih di sana termasuk Dinda dan keluarganya.


"Akira, apa aku boleh minta tolong supaya supirmu nanti mengantarkan Dinda dan keluarganya pulang."


"Rhein, memangnya kenapa tidak pulang sama kamu? Bukannya kamu dan keluarga Dinda datang dengan kamu?"


"Tolong Akira, kepalaku pusing dan aku mau istirahat di rumahmu saja nanti."


"Kamu sakit, Rhein? Apa mau aku antar ke dokter saja?" Dinda nyamber saja.


"Aku hanya butuh istirahat. Aku minta maaf jika tidak bisa mengantar kamu pulang karena mengemudi dengan keadaan sakit juga akan sangat membahayakan."


"Tidak apa-apa, Rhein, kamu istirahat saja dulu karena pernikahan kamu dan Dinda juga sudah dekat, jadi kamu harus menjaga dirimu agar tidak sakit." Wanita paruh baya yang adalah mamanya Dinda sedang berpura-pura prihatin.


Adrian yang melihatnya sangat geram, tapi dia tidak mau membuat masalah di sana karena masih ada beberapa tamu lainnya.


***


Pagi itu Rhein terbangun dan melihat Arthur duduk dengan kaki disilangkan, tangannya pun memegang kopi hangat.


"Tidak nyenyak sama sekali karena aku mendengar sesuatu yang tidak seharusnya aku dengar berasal dari kamarmu."


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Semalam aku dan Nala langsung tidur karena capek." Akira bangkit dari sofa duduknya dan berjalan menuju pintu kamar.


"Akira aku beberapa hari ini ingin menginap di rumahmu."


"Kenapa tidak tinggal di apartemenku saja?"


"Memangnya kenapa kalau aku menginap di sini?"


"Kamu akan menggangguku dan Nala, adikku." Akira bersidekap.

__ADS_1


Rhein malah menunjukan smirknya. "Memang itu yang aku inginkan. Aku ingin membuatmu ikut merasakan rasanya tidak bisa bermesraan dengan orang yang kamu cintai."


"Itu sudah nasibmu, Rhein." Akira berjalan keluar dari kamar Rhein. Rhein tersenyum seolah menertawakan dirinya sendiri.


Setelah menyiapkan makan pagi untuk suami dan adik iparnya, Nala izin pergi ke rumah mommy karena hari ini dia ingin mengajak Hazel jalan-jalan untuk membeli barang-barang yang nanti akan Hazel bawa ke rumah baru saat dia dan Orlaf menikah.


Rhein ikut Akira pergi ke kantornya. Dia ingin mengajak kakaknya bekerja sama, dahal selama mereka menjadi adik kakak, tidak pernah mereka melakukan kolaborasi ataupun kerja sama.


"Mba Nala, aku tidak perlu belanja banyak seperti ini. Bajuku di rumah tante Kei masih banyak dan bisa aku gunakan."


"Kamu itu jangan cerewet, aku ingin membelikan kamu banyak barang-barang lagi karena aku senang, kamu akan menjadi adik iparku." Wanita yang masih selalu terlihat cantik itu tersenyum pada Hazel.


"Mba Nala juga akan memiliki adik ipar lainnya, yaitu Dinda. Tidak enak kalau dia tau hanya aku yang diajak Mba Nala belanja."


Nala terdiam sejenak. "Minggu depan, aku akan mengajak Dinda belanja juga. Jadi, tidak akan ada yang iri. Aku juga suka pada Dinda. Dia gadis yang baik dan agak manja." Sekali lagi Nala tersenyum.


Mereka berjalan dengan membawa banyak belanjaan. Nala kemudian mengajak Hazel untuk makan siang karena memang mereka belajar sampai lupa waktu.


"Mba Nala, itu bukannya Dinda sama mamanya?"


"Oh iya, kalau begitu kita temui mereka."


"Apa tidak apa-apa?" Hazel menahan tangan Nala.


"Kamu tenang saja, nanti aku akan bilang pada Dinda sekalian, jika aku akan mengajaknya belanja Minggu depan." Hazel mengangguk.


"Wah! Kalian akan menjadi orang super kaya di kota ini jika Dinda menikah dengan salah satu putra dari keluarga Danner."


"Tentu saja, Tante. Aku dan mama tidak akan miskin. Menjijikan sekali jika harus membayangkan menjadi orang miskin dan tinggal di rumah kecil. Aku akan melakukan apapun agar bisa masuk ke dalam keluarga Danner. Rhein akan menikahiku, walaupun kamu memang tidak melakukan apapun padaku, setelah kita menikah dia nanti akan aku buat mencintaiku, kalaupun tidak bisa, setidaknya saat kita bercerai, aku bisa memiliki separuh dari harta Rhein."


"Dinda memang gadis yang cerdas. Dia tidak akan membiarkan keluarganya hidup menderita." Tangan wanita yang adalah mamanya Dinda mengusap lembut kepala putrinya.

__ADS_1


"Tentu saja, Ma. Aku juga tidak mau hidup miskin dan sederhana gara-gara rumah dan seluruh aset kita disita oleh bank. Rhein harus menikahiku karena dia sudah mengambil hal berharga dari diriku, meskipun sebenarnya tidak, tapi nanti aku akan benar-benar memberinya anak agar dia tidak bisa menceraikan aku, meskipun aku tidak suka anak kecil karena mereka membuat pusing saja." Bola mata Dinda memutar jengah.



__ADS_2