
Darren berjalan mendekat ke arah ruangan pribadi Rhein dan mendengar suara seseorang di dalam sana, tapi Darren tidak berani untuk mengetuk pintu kamar itu.
"Nona itu ternyata ada di dalam? Apa dia tidak tau ada makanan yang disediakan untuknya di sini?"
Rhein tiba-tiba masuk dan membuat Darren yang tadi sedang menguping pada pintu ruangannya menjadi terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?" Lihat Rhein curiga pada asistennya itu. "Kamu sedang mengintip gadisku itu?"
"Tuan Rhein, saya tadi sedang mencari nona yang Tuan Rhein bawa ke sini, saya kira Nona itu pergi, tapi dia sepertinya berada di dalam ruangan pribadi, Tuan."
"Dia tidak makan?" Rhein melihat makanan di atas meja yang masih belum tersentuh sama sekali.
"Seperti dia tidak tau ada makanan di sini."
"Gadis itu! Apa jangan-jangan dia pingsan di dalam kamarku?" Rhein seketika masuk ke dalam kamar dan melihat Hazel terduduk di bawah ranjangnya.
"Tuan Rhein?"
"Gadis Perawan, kamu sedang apa?" Rhein melihat heran pada Hazel yang duduk di bawah ranjang dengan memegangi perutnya.
Hazel terlihat lemas, bahkan untuk berdiri dia tidak sanggup. "Aku lapar," ucapnya lirih.
Rhein berjongkok melihat pada Hazel yang juga menatapnya dengan mata satu.
"Kalau lapar, kenapa tidak makan? Bukannya aku sudah menyiapkan makan pagi untukmu?"
"Makan pagi? Apa yang ada di depan itu?"
"Tentu saja itu makanan yang sudah aku siapkan untuk kamu." Rhein sampai menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya pada Hazel.
"Aku kira itu makanan untuk kamu, jadi aku tidak berani untuk memakannya."
Rhein berdiri dan menarik salah satu tangan Hazel untuk berdiri. Gadis itu berusaha berdiri. "Sekarang kamu makan dan jangan membuat aku dalam masalah." Rhein menarik tangan Hazel agar gadis itu berjalan keluar.
"Hazel!" seru Darren terkejut melihat gadis yang dibawa oleh Rhein.
Hazel dan Rhein seketika menoleh pada Darren.
"Kakak Darren? Kamu benaran Kakak Darren?" Hazel langsung mendelik ke arah Darren.
"Iya ini aku." Darren tampak tersenyum.
__ADS_1
Hazel langsung memeluk Darren dengan erat dan senangnya.
"Kak Darren, aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi."
"Iya, aku juga senang bisa bertemu dengan kamu, Hazel." Darren menepuk-tepuk punggung Hazel.
Rhein yang melihat hanya dapat menunjukkan wajah malasnya.
"Bagaimana kabar kamu, Hazel. Mama kamu bagaimana?"
Hazel menarik tubuhnya dari pelukan Darren. "Mamaku sudah meninggal, dan aku sudah tidak tinggal di rumahku itu lagi, Kak?"
"Apa? Mama kamu sudah meninggal? Maaf, aku tidak tau Hazel."
Hazel menggeleng perlahan. "Sejak mama meninggal. Rumahku dijual oleh Hugo dan kita tinggal di sebuah flat kecil, tapi aku pergi dari rumah karena Hugo dan anaknya tidak merawatku dengan baik."
"Aku pernah mencari kamu di rumahmu yang dulu, tapi para tetangga mengatakan kamu pindah. Aku tidak tau lagi harus mencari kamu di mana."
"Kalian ini sepasang kekasih?" celetuk Rhein.
"Bukan, Tuan Rhein. Hazel dan saya adalah tetangga dulunya. Saya mengenal keluarga Hazel, bahkan kita juga satu sekolah. Hazel adik kelas saya, tapi saat keluarga saya pindah, kita sudah tidak pernah berkomunikasi lagi. Setelah beberapa tahun saya menyelesaikan kuliah di Kanada, saat saya mencari Hazel di rumahnya, tapi dia sudah pindah."
"Apa benar, kalian tidak memiliki perasaan apapun. Kamu bagaimana, Hazel?" Rhein melihat pada Hazel.
Rhein terkekeh tidak percaya. Gadis yang dia panggil gadis perawan ini masih ingat makan saja. "Habiskan semua kalau kamu sanggup."
Rhein berjalan menuju meja kerjanya. Dia melihat dokumen yang tadi dibawa oleh Darren.
"Tuan, ini untuk Tuan Rhein." Darren memberikan saputangan untuk Rhein.
Rhein melihat heran pada saputangan yang di sodorkan oleh Darren.
"Untuk apa kamu memberikan saputangan kamu?"
"Itu bibir dan pipi Tuan Rhein ada bekas lipstiknya."
Rhein agak terkejut dan langsung mengambil saputangan Darren. Dia mengelap lipstik yang menempel pada wajahnya.
"Ini, terima kasih." Rhein memberikan saputangan kembali pada Darren. Darren yang tentu saja tidak berani menolak Rhein memasukkan saputangan itu pada sakunya. Ini Rhein memang suka berbuat sesukanya, tidak merasa berdosa.
"Tuan, semua sudah saya pelajari dan proyek itu bulan depan akan kita laksanakan."
__ADS_1
"Bagus. Oh ya!" Rhein melihat ke arah Hazel sebentar yang sedang menikmati makanannya dan Rhein tersenyum kecil melihat tingkah Hazel. "Dia seperti orang yang tidak makan selama berbulan-bulan."
"Tuan Rhein, apa ada lagi yang bisa saya kerjakan?"
"Apa kamu sudah membereskan CCTV di ruangan rapatku?"
"Sudah saya bereskan. Tuan, saya mau mengingatkan jika CEO Renata orang yang sangat cerdas dan--."
"Aku sudah tau, kamu tenang saja."
"Saya harap Tuan Rhein bisa berhati-hati."
"Dia yang harus berhati-hati berurusan denganku. Sekarang kamu boleh pergi dan aku mau makan pagi dulu dengan Gadis Perawan itu." Rhein tersenyum miring.
"Maaf, Tuan Rhein, apa saya boleh tau di mana Tuan Rhein bertemu dengan Hazel?"
Rhein dengan santai menyandarkan punggungnya pada kursi kebanggaannya. "Kenapa? Apa yang ingin kamu tau?"
"Setahu saya Hazel gadis yang baik dan dia masih sangat muda untuk berkencan dengan Tuan Rhein."
"Kamu sangat perhatian dengannya. Hazel memang masih muda, tapi dia harus belajar tentang kehidupan yang berat yang dia jalani saat ini."
"Saya ingin membantunya, Tuan. Setahu saya dia tinggal dengan ayah dan kakak tiri yang memiliki perilaku yang tidak baik, apa lagi setelah mamanya meninggal pasti dia hidup menderita." Wajah Darren tampak prihatin.
"Aku bertemu Hazel di club malam di mana dia bekerja."
"Apa? Hazel bekerja di club malam?"
"Iya, Kak Darren, aku bekerja di sana karena itu jalan satu-satunya di mana aku bisa melanjutkan hidupku."
"Lalu, bagaimana kamu bisa bersama Tuan Rhein? Apa Tuan Rhein sedang menyewa kamu?"
"Maksud, Kak Darren?"
"Aku menolong Hazel dari ayah tirinya yang ingin melecehkannya."
Hazel berdiri dari tempatnya dan mendekat pada mereka berdua yang sedang membicarakannya.
"Aku selama ini tinggal dengan temanku, tapi Hugo mengetahuinya dan dia beberapa kali ingin melecehkanku, bahkan mau menjualku pada teman-temannya, dan untuk sementara aku tinggal di tempat Tuan Rhein, Kak Darren, tapi nanti kalau Bella serta kekasihnya kembali dari liburannya, aku akan kembali ke flatnya," jelas Hazel.
"Oh begitu. Hazel, apa kamu yakin jika teman kamu kembali, akan tetap aman untukmu?" Tangan Darren memegang kedua pundak Hazel.
__ADS_1
Hazel terdiam. Sebenarnya Bella juga tidak mungkin bisa melindunginya, apa lagi Hazel tua bagaimana perilaku ayah tirinya itu. Hazel pernah melaporkan, tapi karena tidak ada bukti dan Hazel adalah anak tirinya, jadi, dia Hugo pun dilepaskan.