Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Keseruan Mereka


__ADS_3

Rhein seketika melepaskan pelukannya pada perut Hazel. Dia langsung terduduk untuk menjawab panggilan mommynya.


"Hai, Mom, ada apa?"


"Rhein, kamu masih tidur?"


"Aku semalam pulang larut, Mom." Rhein melihat pada Hazel yang juga sedang melihatnya duduk di sebelah Rhein.


"Kamu minum-minum lagi? Nak, kamu jangan sering pergi ke club malam dan menghabiskan malammu dengan berganti wanita. Carilah wanita yang bisa kamu jadikan istri dan bisa merawat kamu."


"Aku masih belum ingin mencari seorang istri karena pastinya akan merepotkan."


"Merepotkan bagaimana? Kamu akan ada yang mengurusmu nanti. Apa lagi saat kamu jauh dari mommy."


Rhein sekali lagi melirik pada Hazel. "Aku sudah ada yang mengurus di sini, Mom. Bahkan dia juga bisa menemani aku tidur." Rhein mengedipkan salah satu matanya pada Hazel.


Hazel langsung menunjukkan wajah mengkerutnya.


"Apa maksud kamu, Rhein? Rhein, kamu jangan bermain-main dengan perasaan seorang wanita karena nanti kamu bisa menyesal."


"Perasaan Rhein yang sudah dipermainkan oleh Nala, Mom." Seketika wajah Rhein berubah kesal.


"Rhein, Nala tidak pernah mempermainkan perasaan kamu. Dia wanita yang baik, dan dia sangat mencintai kakakmu. Dia juga sudah berusaha menolak kamu, tidak memberimu harapan palsu.ni


"Sudahlah, Mom. Aku ingin melupakan semua hal buruk tentang aku dan Nala, dan aku masih berusaha menerima semua ini. Mommy ada apa menghubungiku?"


"Rhein, beberapa bulan lagi Daddy kamu berulang tahun. Apa kamu tidak mau pulang untuk merayakannya?"


"Sepertinya tidak bisa, Mom. Aku ada pekerjaan yang tidak bisa aku tunda saat hari ulang tahun Daddy dan aku sudah jauh hari mengatakan hal ini pada daddy."


"Hm! Kamu selalu mencari alasan agar tidak pulang."


"Mom, aku memang sedang banyak pekerjaan, dan aku ingin membuat Daddy bangga padaku selain Daddy bangga pada Akira."

__ADS_1


"Daddy dan mommy bangga pada kalian bertiga. Kalian bertiga putraku yang memiliki kemampuan yang tidak bisa dibanding-bandingkan."


"Aku tau. Mom, nanti kita bicara lagi. Aku masih mengantuk dan kepalaku pusing. Aku mau istirahat sejenak."


"Ya sudah kalau begitu. Rhein, kamu jaga kesehatanmu karena kamu jauh dari mommy."


"Mommy tidak perlu khawatir."


Mereka berdua mengakhiri panggilanya. Hazel sekarang melihat pada Rhein dengan tatapan serius. "Kenapa malah melihatku seperti itu?"


"Tangan kamu sudah sembuh ya?"


"Ini?" Rhein menuju ke arah tangannya yang memang masih dibalut perban. "Lihat saja masih diperban."


"Aku tau itu memang masih diperban, tapi kenapa kamu bisa menindihnya? Rhein kamu jangan bohong? Tangan kamu sudah sembuh dan tugas aku menjadi pelayan sudah selesai."


"Memangnya kenapa kalau sudah tidak terasa sakit? Kata dokter aku tetap tidak boleh melakukan pekerjaan berat dengan tanganku."


"Kamu sewa saja pelayan untuk membantumu."


"Aku bisa bertanggung jawab, tapi tidak perlu menjadi pelayan kamu. Apa lagi harus menuruti perintah kamu seperti menemani kamu tidur. Aku bukan gadis yang bisa kamu ajak bercinta seenaknya Rhein."


"Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin bercinta sama kamu. Kamu bukan tipeku, Hazel Waltz."


"Dari mana dia tau nama asliku," gerutunya pelan, tapi Rhein masih bisa mendengarnya.


"Aku tau namamu karena data tentang dirimu aku sudah memegangnya."


"Apa? Memangnya untuk apa kamu mencari data tentang diriku? Aku juga tidak selamanya akan menjadi pelayan kamu."


"Aku mencari datamu karena siapa tau kamu menimbulkan masalah saat tinggal di apartemenku."


"Aku bukan seorang pembawa onar. Lebih baik aku pergi ke dapur saja untuk memasak."

__ADS_1


"Iya, sebagai istri yang baik itu memang harus menyiapkan makanan untuk suaminya." Rhein menarik sudut bibirnya.


Hazel yang tangannya hendak menekan handel pintu seketika berhenti dan menoleh ke arah Rhein.


"Kenapa istriku? Bukannya kamu senang bisa menjadi istriku?"


"Aduh! Aku lupa jika ada kamera CCTVnya di sini." Hazel menepuk dahinya.


"Jangan lupa, kamu jangan capek-capek karena kamu sedang mengandung," lanjut Rhein.


Hazel yang ketahuan drama yang dia mainkan segera keluar dari kamar Rhein.


"Dia pasti sudah melihat dari kamera CCTV. Aku juga kenapa bisa sebodoh ini sampai lupa? Sudahlah! sekarang lebih baik aku memasak saja dan membuat sarapan."


Hazel mulai berkutat dengan alat masak, sedangkan Rhein melanjutkan tidurnya yang tadi terganggu.


Hampir satu jam lebih Hazel berkutat dengan penggorengannya.


"Sudah selesai dan siap untuk makan. Hazel melihat ke arah pintu kamar Rhein dan tidak ada tanda-tanda Rhein akan keluar kamarnya.


"Dia itu sebenarnya tidur apa pingsan sih? Kadang susah sekali membangunkannya?" Hazel menggaruk tengkuk lehernya yang sebenarnya tidak gatal.


Hazel bingung, dia makan duluan apa harus menunggu Rhein? Sedangkan Hazel tidak tau kapan Rhein bangun dan keluar dari kamarnya.


Hazel mondar-mandir di depan meja makan dan sesekali dia melirik pada makanan yang dibuat dengan tangannya sendiri.


"Cacingku sudah kelaparan. Rhein ini benar-benar menguras kesabaran."


Hazel berjalan menuju kamar tidur Rhein dan mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada yang menjawabnya.


Hazel membuka pintu kamar Rhein perlahan dan dia melihat Rhein tidur di atas ranjangnya.


"Dia tidur lagi dan ini sudah jam berapa? Dia benar-benar pemalas."

__ADS_1


Hazel berjalan mendekat dan melihat wajah Rhein yang sedang tidur tampak menunjukkan ekspresi yang tidak nyaman.


__ADS_2