Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Menunggu Jawaban part 2


__ADS_3

Hazel menceritakan pada Orlaf, dia mencintai pria yang pernah menolongnya saat kakak tiri dan ayah tirinya ingin membawanya untuk dijual. Haze nil bertemu dengan pria itu saat dia bekerja di klub malam bahkan hasil pun ditawari tinggal di apartemennya karena pria itu takut jika ayah tiri Hazel akan datang untuk kembali membawa hasil.


"Lalu apa yang terjadi? Kamu meninggalkannya?"


"Aku pergi meninggalkannya karena aku tahu dia tidak mencintaiku, dia tidak mau mengenal arti kata cinta, dia hanya ingin bersenang-senang dengan para wanitanya dan bodohnya, aku pernah menjadi salah satu wanita yang memuaskannya di atas ranjang."


"Jadi, kamu dan dia--?" Hazel mengangguk perlahan. Orlaf seketika menyandarkan tubuhnya pada bangku taman. "Apa kamu masih mencintainya sampai saat ini?"


"Rasa sakit yang dia berikan lebih besar daripada rasa cinta yang aku rasakan Orlaf, aku sudah melupakannya. Bahkan aku tidak mau mengingat namanya."


"Ternyata kamu memiliki kisah cinta yang menyakitkan. Pria itu pasti menyesal karena sudah mengabaikan cinta yang tulus dari gadis yang baik seperti kamu."


Hazel malah tersenyum miris. "Kamu salah, dia malah sama sekali tidak menyesal sudah menyakitiku karena mungkin hal itu yang dia inginkan. Dia tidak mencintaiku dan berharap aku menjauh dari hidupnya."


"Kamu tidak perlu memikirkannya lagi karena aku akan membuat kamu melupakannya."


Tangan Orlaf kembali membelai wajah Hazel. Dia juga menangkup wajah yang sekarang menjadi idolanya.


"Orlaf, apa kamu serius masih mau mencintaiku setelah mengetahui apa yang terjadi padaku?"


Orlaf memberikan senyum manisnya pada Hazel. "Tentu saja aku masih mau mencintaimu karena cinta yang aku rasakan ini tulus dan aku tidak mau melihat kekurangan yang ada padamu."


"Apa kamu yakin, Orlaf? Kamu tidak menyesal memilihku?"


"Sama sekali tidak. Hazel, aku tidak mau berjanji sama kamu, tapi percayalah kalau aku tidak akan pernah menyakitimu."


Hazel melihat pria di depannya ini terlihat sangat tulus dan Orlaf bukan Rhein yang tidak memiliki cinta di hatinya.


Hazel langsung memeluk Orlaf dan menangis. Hazel tidak menyangka jika masih ada seseorang yang mencintainya dengan tulus dengan keadaannya saat ini.


Hazel mungkin akan menerima Orlaf karena Orlaf tidak pantas untuk disakiti hatinya. Hazel akan berusaha untuk mencintai Orlaf, seperti Orlaf yang mencintainya.


"Jangan menangis." Orlaf menarik tubuh Hazel dan dia menghapus airmata Hazel.


"Aku sebenarnya tidak ingin menangis, tapi entah kenapa air mata ini malah keluar begitu saja."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mungkin itu air mata kebahagiaan." Orlaf malah tertawa dengan senangnya.


"Orlaf, sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu setelah kamu mengatakan menyukaiku."


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Orlaf, apa kedua orang tua kamu tidak apa-apa dengan hubungan kita ini?"


"Mommy dan daddyku?" Hazel mengangguk. "Kalau aku bilang mereka yang menginginkan hal ini, apa kamu percaya?"


"Maksud kamu?"


"Hazel, kamu mau tidak menikah denganku?"


"Apa?" Hazel benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Orlaf, bahkan mulutnya sampai menganga.


"Iya, kamu mau tidak kalau menikah denganku?"


"Me-menikah? Tapi kita masih muda dan aku juga baru saja masuk kuliah, apa lagi kita saja belum lulus kuliah."


"Kalau begitu bertunangan? Mau tidak kamu bertunangan denganku?"


"Orlaf, kenapa dari tadi mengatakan hal yang membuatku terkejut. Kamu jangan bercanda."


Orlaf memegang tangan Hazel dan dia berdiri dari bangku taman. "Kita mau ke mana?"


"Mau pulang, aku akan membuktikan sama kamu jika apa yang aku katakan semua itu tidak bercanda."


Orlaf mengajak Hazel pulang dengan berjalan kaki dan menggandeng tangan Hazel.


Hazel terdiam berjalan di belakang Orlaf mengikuti ke mana pria itu melangkah dan membawanya.


Dua orang itu tidak lama sudah sampai di rumah besar dan mewah milik keluarga Orlaf. Jujur saja detak jantung Hazel malah berdetak kencang. Entah kenapa dia merasa takut dan gugup, Hazel takut jika ucapan Orlaf itu benar. Orlaf akan mengajaknya menikah dan sebenarnya Hazel belum bisa menerima pernikahan yang begitu cepat. Hazel berharap menyembuhkan dulu luka di hatinya dan benar-benar mengeluarkan Rhein dari dalam hatinya.


"Sudah selesai jalan-jalannya? Bagaimana suasana di taman?"

__ADS_1


"Suasananya sangat menyenangkan, Mom, apa lagi ada sinar matahari yang sangat hangat dan meneduhkan seperti wajah Hazel." Orlaf melihat pada Hazel.


Hazel tampak bingung dan sekali lagi Orlaf membuatnya malu.


Kei melihat pada tangan Hazel yang digandeng oleh Orlaf.


"Apa mommy boleh tau maksud dari gandengan tangan kalian?"


"Aku dan Hazel sudah berpacaran, Mom."


"Apa? Ini serius?" Kei tampak berbinar bahagia.


"Tante, aku--?" Hazel tampak bingung.


"Selamat ya, Sayang." Keiko langsung memeluk hangat pada Hazel. Hazel tidak menyangka jika Keiko menanggapi hal itu dengan senang. "Tante sangat senang sekali kalian bisa menjadi sepasangan kekasih. Adrian pasti akan senang mendengar hal ini."


"Tante jangan bilang dulu sama Om Adrian. Aku takut," ucap Hazel lirih pada kalimat terakhir.


"Takut apa? Adrian itu sangat menyukaimu, apa lagi kamu bisa menjadi anggot keluarga kita yang baru, Hazel." Sekali lagi Keiko memeluk Hazel dengan erat.


Hazel sangat terharu karena keluarga Orlaf benar-benar menyayangi dan begitu mencintainya.


"Mom, apa benar-benar serius dengan Hazel, dan sesuatu hari nanti aku ingin menikah dengannya."


"Orlaf." Hazel masih tidak percaya jika benar Orlaf serius dengannya.


"Kalau begitu kalian bertunangan saja dulu dan bulan depan Mommy akan mengadakan pertunangan kalian. Bagaimana? Kalian berdua setuju?"


Hazel melihat ke arah Orlaf. Orlaf pun melihat ke arah Hazel dan mengatakan dia setuju untuk bertunangan dengan Hazel.


Seketika jantung Hazel terasa ada sesuatu yang menghantamnya dengan keras. Dia akan bertunangan dengan Orlaf? Seharusnya dia senang karena ada pria yang sangat mencintainya, tapi kenapa hatinya masih ada sesuatu yang terganjal?


Hazel berada di dalam kamarnya dan dia tampak duduk di atas tempat tidurnya. Hazel melihat pada jari manisnya yang masih ada gelang berwarna hitam yang melilit di sana.


Seketika air mata Hazel menetes membasahi pipi putih mulusnya. "Aku tidak mencintaimu, Rhein. Aku membencimu." Hazel memegang cincin pernikahannya dengan Rhein. Pernikahan pura-pura mereka saat di bianglala waktu itu.

__ADS_1


Hazel kemudian menangis dengan memeluk cincin yang masih melekat di jarinya, yang entah kenapa Hazel sangat berat untuk melepaskannya, walaupun si pemberi cincin itu sama sekali tidak peduli padanya, bahkan sudah menyakitinya."


"Tuhan, aku harus melupakan Rhein. Ada Orlaf yang sangat baik dan mencintaiku. Aku harus menghormati cinta yang sudah dia berikan untukku. Orlaf tidak berhak aku sakiti."


__ADS_2