
Darren mengatakan ingin menjemput Hazel, tapi Hazel bilang dia masih ingin jalan-jalan sebentar dan nanti dia bisa pulang sendiri.
"Ya sudah kalau begitu kamu jaga diri baik-baik, Hazel. Kamu jangan melakukan hal yang membuat kamu sakit karena kamu di sini seorang diri."
Kak Darren memang sosok orang yang sangat baik dan perhatian. Hazel serasa memiliki seorang kakak laki-laki yang sebenarnya.
"Kak Darren jangan khawatir karena aku akan menjaga diriku dan tidak ada di dalam pikiranku untuk melakukan hal lainnya."
"Kalau begitu aku akan memberitahu Tuan Rhein kamu di mana. Bye, Hazel."
"Iya, Kak." Mereka mengakhiri panggilan teleponnya.
Hazel beranjak dari tempat duduknya dan ingin pergi dari sana, tapi kemudian dia melihat seseorang yang dia kenal sedang berdiri di depan stand makanan cepat saji, yaitu burger. Hazel mendekat dan ternyata itu kakak tirinya yang sedang berjualan burger.
"Kamu?"
"Hai, adik tiriku. Apa kamu mau burger, tapi aku tidak memberinya gratis karena aku berjualan untuk mencari uang."
"Kamu berjualan burger? Apa tidak salah?" Hazel benar-benar terkejut.
"Kamu lihat sendiri, aku memang berjualan burger dari uang yang kamu berikan waktu itu. Sudah saatnya aku berpikir untuk masa depanku, aku juga tidak mau sampai berakhir dan mati di penjara."
Hazel mengangguk perlahan. Dia sangat tidak percaya jika kakak tirinya yang dulu sangat Hazel benci perilakunya bisa berubah seperti sekarang.
"Kamu memang harus memikirkan tentang masa depanmu yang lebih baik."
Hazel mengeluarkan beberapa lembar uang yang tadi Nyonya Matthew berikan sebagai bonus.
"Apa ini?"
"Uang untuk kamu. Siapa tau uang ini berguna untuk usahamu lebih baik lagi."
"Kamu serius memberikan aku uang ini?"
Hazel mengangguk. "Ambillah."
Kakak tiri Hazel mengambil uang itu dan mencium aroma uang yang lumayan banyak itu.
__ADS_1
"Kamu apa menjadi simpanan pria itu? Kenapa uang kamu banyak sekali?"
'Simpanan? Hazel sendiri bingung bagaimana dia menyebut dirinya sendiri saat ini. Dia pelayan, tapi juga tidur satu ranjang dengan Rhein, bahkan pernah melakukan hal lebih dengan Rhein. Namun, Rhein tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Hazel benar-benar bingung?
"Hai! Kamu melamun apa?"
Teguran pria di depan Hazel itu seketika membuat Hazel sadar dari lamunannya. "Kalau kamu jadi simpanan pria itu juga tidak masalah. Jadikan hidupmu lebih bahagia."
"Aku bukan simpanan pria itu, tapi aku bekerja menjadi pelayan dan model di perusahaannya."
Seketika terdengar tawa lepas dari pria itu. Hazel tau jika dia akan ditertawakan saat mengatakan dia jadi seorang model, tapi Hazel tidak peduli.
"Kamu menjadi seorang model?" Dia melihat Hazel dari atas sampai bawah. "Kamu mana ada bagusnya jadi seorang model, kamu telanjang saja belum tentu bagus."
"Terserah kamu percaya atau tidak. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Hazel tunggu!"
Hazel menoleh dan pria itu seperti sedang mengambil sesuatu dari dalam stand kecil miliknya.
"Ini milikku." Hazel tampak senang melihat kotak berharga miliknya yang memang masih berada di rumah mereka.
Hazel tampak senang melihat kotak kenangan milik kedua orang tuanya. yang di dalamnya banyak sekali foto-foto mendiang kedua orang tuanya.
"Terima kasih, aku pergi dulu."
Kakak tiri Hazel hanya memandang datar pada Hazel, dia terdiam sambil memperhatikan Hazel yang berjalan dengan senangnya memeluk kotak miliknya itu.
"Dia sangat sayang kepada kedua orang tuanya. Andai mamaku tidak meninggalkan aku dari kecil, pasti aku juga akan sayang padanya," dialognya sendiri.
Hazel sampai di rumah dan seperti biasa dia melakukan pekerjaannya. Sampai malam hari dia tidak melihat Rhein pulang bekerja, dan Hazel sudah paham jika Rhein pasti pergi ke club malam atau menginap di tempat para wanitanya itu.
Sakit? Tentu saja sakit, tapi Hazel harus sadar jika Rhein pria bebas tidak memiliki hubungan dengan siapapun.
Malam itu dia memilih tidur di atas sofa. Tepat jam dua belas malam Rhein datang dan melihat Hazel tidur di sofa ruang tamu. Rhein yang dalam keadaan setengah sadar karena minuman yang dia minum memilih langsung tidur di dalam kamarnya tidak memindahkan Hazel ke kamarnya seperti biasa.
***
__ADS_1
Pagi itu Hazel terbangun dan melihat dirinya masih di ruang tamu dan dia melihat ada mobil Rhein di depan.
"Rhein pulang ternyata, jadi dia tidak menginap di tempat salah satu wanitanya." Ada sedikit senyum pada bibir Hazel.
Hazel masuk ke dalam kamar Rhein dan melihat pria itu tengah tertidur dengan baju yang masih lengkap. Hazel melepas sepatu Rhein, dia juga melepas kemeja milik Rhein, dan di sana dia mencium bau minuman. Hazel melepas satu persatu kancing kemeja Rhein.
Hazel memandangi wajah Rhein dengan lekat. Pria yang sedang tertidur itu tidak tau jika ada seorang gadis yang sangat mencintainya sedang menatapnya.
"Kenapa aku harus jatuh cinta padamu? Aku harusnya memberikan hatiku pada pria yang lebih baik dan mencintaiku," dialog Hazel sendiri.
Hazel menyelimuti Rhein dan membawa baju Rhein keluar untuk mencucinya. Setelah Hazel keluar Rhein membuka kedua matanya. Ternyata Rhein terbangun saat dia merasakan Hazel membuka kancing kemejanya, tapi dia membiarkannya. Dia berpura-pura tidur saja karena dia menyukai sentuhan lembut yang dilakukan oleh Hazel.
"Kamu memang salah sudah mencintaiku Hazel, harusnya kamu mencintai pria lain yang mencintaimu juga. Bukan aku."
Rhein memilih tidur lagi karena dia masih merasa pusing akibat banyak minum kemarin malam.
Hazel sedang membuat masakan di dapurnya agar Rhein nanti bisa makan pagi.
Beberapa makanan sudah tersedia. Hazel mendengar suara bel pintu. Dia mengira jika itu pasti Kak Darren, tapi senyumnya hilang saat dia membuka pintunya.
"Hai pelayan, aku mau bertemu dengan Rhein."
"Rhein masih tidur di dalam kamarnya."
"Kalau begitu biar aku yang membangunkannya karena hari ini aku ada janji makan pagi dengannya. Oh ya! Kamu tidak perlu susah payah membuatkan Rhein makanan karena dia akan makan di luar denganku."
Renata melangkah masuk begitu saja, tapi saat dia akan menuju kamar Rhein, Hazel berhasil menghalanginya.
"Jangan mengganggu Rhein, dia baru saja pulang."
"Aku tidak mengganggunya, dia pasti akan senang jika melihatku di sana. Lebih baik kamu minggir saja." Tangan Renata mendorong tubuh Hazel.
"Setidaknya kamu jangan lancang masuk ke kamar seseorang tanpa permisi," ucap Hazel lantang dan tegas.
"Apa?"
"Hazel, biarkan dia masuk ke kamarku, tadi aku yang menghubunginya."
__ADS_1
Tiba-tiba suara Rhein di sana. Mereka berdua melihat ke arah Rhein yang berdiri tanpa memakai atasan.