Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

Hazel menegaskan pada Rhein jika dia tidak mau menjadi seorang model, apa lagi harus pakai baju renang.


"Kamu bekerja di club malam itu image kamu sudah jelek, Hazel, lebih baik menjadi seorang model."


"Aku malahan kalau bisa bekerja tidak keduanya. Aku ingin melanjutkan kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan besar suatu hari nanti," ucap Hazel lirih dengan Sorot mata membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi bagi Hazel.


Rhein dapat melihat ada suatu kesedihan yang sedang dirasakan oleh gadis pemilik iris mata coklat itu.


"Apa hanya itu keinginan kamu, Hazel?"


Hazel seketika melihat ke arah Rhein. "Iya, aku tidak pernah menginginkan hal lain setelah kepergian mamaku. Aku hanya ingin melanjutkan kuliah dan dapat bekerja dengan baik di sebuah perusahaan terbaik di sini. Apa itu terlalu besar keinginanku?"


"Terlalu besar untuk gadis yang tidak memiliki kedua orang tua dan hanya bekerja di club malam. Aku akan menghubungi Sean agar memecatmu."


"Hah? Kenapa kamu jahat sekali?"


"Jahat apanya? Justru aku baik sama kamu karena tidak membiarkanmu bekerja di tempat yang tidak sepantasnya untuk gadis perawan sepertimu."

__ADS_1


Hazel seketika berjalan dan mendekat pada Rhein. "Rhein, jangan lakukan itu. Kalau aku tidak bekerja di sana, bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk biaya hidupku? Hanya di sana aku bisa mendapatkan uang karena aku susah sekali mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Dan hanya di sana aku bisa mendapatkan uang lebih banyak."


"Kamu mau suatu saat ada pelanggan yang ingin kamu menemaninya lebih dari mengantar minum. Kalau mau, kamu jadi saja pelayanku di apartemen dan aku akan menggajimu dua kali lipat dari gaji yang kamu terima si club malam itu. Bagaimana?"


"Kamu serius?" Hazel mendelik.


"Memang wajahku terlihat bercanda? Tapi ada satu hal yang aku minta."


"Apa? Jangan meminta hal yang aneh-aneh."


"Apa memangnya?"


"Jangan sampai kamu jatuh cinta padaku karena keseringan dekat denganku di apartemen itu."


"Apa? Oh, God!" Hazel memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Rhein. Dia kemudian berjalan pergi dari tempat Rhein dengan berkata jika Rhein yang jangan sampai jatuh cinta padanya.


Pria tampan bernama Rhein itu seketika tertawa dengan kerasnya. "Gadis Perawan itu percaya dirinya sangat besar sekali. Aku suka dengan sifatnya itu."

__ADS_1


Awalnya Hazel memang takut pada Rhein, tapi setelah mengenal siapa Rhein, dia jadi merasa nyaman saja, apa lagi Rhein kadang orangnya suka bercanda walaupun bercandanya kadang menyebalkan.


Hazel yang sudah rapi menghampiri Rhein dan dia menyuapi Rhein yang harus makan sebelum nanti diberikan obat oleh dokter. "Hazel, bagaimana dengan tawaranku menjadi seorang model?"


"Rhein, aku tidak mau karena aku memang tidak bisa untuk berpose di depan kamera."


"Nanti akan ada yang mengajari kamu di sana. Jadi, kamu tenang saja."


"Aku tetap menolaknya, lagi pula kenapa harus aku? Bukannya kalau kamu sering berkecimpung di dunia bisnis seperti ini memiliki banyak kenalan model yang profesional dan sudah ahli dalam bidangnya?"


"Justru aku sudah biasa berkecimpung di dunia seperti ini, aku melihat wajahmu pantas untuk menjadi model dalam produk yang akan aku luncurkan dalam waktu dekat ini."


"Tapi aku bukan ahlinya, Rhein. Kalau nanti aku sampai berbuat salah dan malah membuat bisnis kamu hancur, bagaimana?"


"Tentu saja kamu harus membayar mahal. Bisa-bisa kamu bekerja denganku tanpa aku gaji, dan selamanya menjadi pelayanku."


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2