
Sahabat Hazel mengatakan jika Hazel tidak ada di rumahnya, tapi Hazel semalam mengirim pesan pada Bella. Pezan yang berisi ucapan Terim kasih Hazel pada Bella yang selama ini sudah sangat baik membantu Hazel. Hazel juga mengatakan jika dia meminta Bella mendoakannya agar di tempat barunya Hazel akan mendapatkan kebahagiaan.
"Tempat baru? Di mau ke mana? Bukannya dia sudah tidak memiliki keluarga lagi? ****! Gadis itu benar-benar menyebalkan! Rhein ini khawatir jika Hazel akan berurusan dengan kakak tirinya yang sudah bebas dari tahanan. Dia takut Hazel dibawa untuk dijual oleh kakak tirinya.
Rhein ini belum mengetahui jika Bill sekarang malah bersikap baik pada Hazel.
"Apa kamu telah menyakiti Hazel, Rhein?"
Rhein melihat dengan tatapan datarnya. "Menyakiti? Aku dan Hazel tidak ada hubungan apa-apa, jadi untuk apa aku menyakiti Hazel? Hazel di bekerja menjadi pelayan di aparetemenku, tapi aku memperlakukan sangat baik dirinya."
"Dia tidak akan pergi dari tempat seseorang, jika orang itu tidak membuat hatinya sangat terluka. Sangat terluka Rhein, bukan hanya terluka, seperti apa yang dilakukan oleh ayah dan kakak tirinya."
Rhein teringat jika mungkin semalam apa yang di lakukan dengan Renata sangat menyakiti Hazel, padahal Rhein tau jika Hazel menyukainya, dan mungkin Rhein yang dalam keadaan mabuk sudah berkata kasar padanya.
"Bella, kalau begitu aku permisi dulu. Tolong kamu hubungi aku jika Hazel menghubungimu. Aku ingin tau dia di mana?"
"Jika dia memberitahu di mana dia berada, Rhein."
Rhein berjalan pergi dari sana. Rhein bersandar di kap mobilnya dan mencoba berpikir, kira-kira Hazel berada di mana?
"Aku akan mencoba mencari Hazel di rumahnya yang dulu. Siapa tau si brengsek itu menculik Hazel. Aku habisi jika dia berani menyentuh Hazel."
Rhein kembali masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana menuju rumah Hazel yang dulu. Dia sudah mendapatkan alamat itu sejak lama.
Sesampai di sana, rumah itu tampak kosong, hingga ada sosok pria yang tak lain adalah kakak tiri Hazel keluar dan berjalan menuju arah food container miliknya yang dia parkirkan tepat di depan rumahnya.
"Hei! Kamu mau apa?" Bill sangat terkejut saat Rhein tiba-tiba mencengkeram bajunya.
"Katakan di mana Hazel?" Pandangan mata Rhein sangat tajam.
__ADS_1
"Hazel? Bukannya dia bekerja di apartemen milikmu?" Bill agak bingung juga dengan pertanyaan Rhein.
"Dia tidak ada di apartemenku. Semalam dia pergi dari apartemenku dan aku yakin kamu ada hubungan dengan hal ini."
"Kamu jangan asal menuduhku. Lepaskan!" Bill mencoba melepaskan tangan Rhein yang mencengkeram bajunya. "Aku sama sekali tidak tau di mana Hazel. Terakhir aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Waktu itu di taman dekat apartemen kamu. Setelah itu aku tidak tau lagi.
Rhein melihat food container milik Bill yang sangat bagus, dan pasti ini harganya sangat mahal. Dia curiga, darimana kakak tiri Hazel mendapatkan uang untuk membeli ini?
"Kamu pasti menjual Hazel pada pria hidung belang agar mendapatkan uang yang banyak, dan bisa membeli mobil ini."
"Aku tidak menjual Hazel. Malahan aku kira Hazel menjadi gadis simpananmu yang bisa setiap saat menjadi pemuas untukmu karena setiap bertemu denganku dia selalu memberiku banyak uang dan akhirnya aku memanfaatkan uang itu untuk membeli mobil ini dan menata hidupku."
"Apa? Dia memberimu uang?" Rhein tidak percaya jika Hazel melakukan hal itu.
"Dia memberiku uang dan aku disuruh untuk menata hidupku agar lebih baik dengan uang pemberiaanya. Dia juga memberitahukan jika dia mungkin tidak bisa memberinya uang lagi karena Hazel ingin pergi jauh dari kota dan mengara ini."
"Tidak mungkin Hazel berkata seperti itu? Memangnya dia mau ke negara mana? Sedangkan di sini saja dia tidak memiliki siapa-siapa?"
"Itu karena kalian berdua yang selalu berbuat kejam padanya!"
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari dalam rumah Bill. Rhein yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Bill, langsung berlari menuju ke dalam rumah Bill.
Rhein berharap dia akan menemukan Hazel di sana. Rhein mendobrak pintu di mana suara itu berasal. Namun, malah dia melihat seorang wanita bersandar di atas ranjang dan ada gelas jatuh di sampingnya.
"Kamu siapa?" Wanita itu melihat marah pada Rhein yang masuk seenaknya.
"Jaga sikap kamu! Jangan main masuk rumah orang seenaknya. Dia bukan Hazel, tapi kekasihku. Lebih baik sekarang kamu pergi saja dari sini, cari saja Hazel di tempat lain, atau mungkin dia sudah pergi dari negara ini ke tempat di mana sahabat mamanya tinggal."
"Di tempat sahabat mamanya tinggal? Apa kamu tau di mana itu?"
__ADS_1
"Aku tidak tau, cuma mendiang mamanya Hazel pernah menyuruh Hazel pergi ke rumah sahabat mamanya karena di sana dia pasti serasa memiliki keluarga."
"Terima kasih kalau begitu atas infonya."
"Sebaiknya kamu tidak perlu mencari Hazel, aku yakin dia pasti bisa tetap bertahan hidup. Dia itu gadis yang kuat dan pemberani, lagi pula untuk apa kamu mencarinya? Kamu menyukainya?"
Rhein terdiam sejenak. "Bukan karena itu. Aku pergi dulu kalau begitu." Rhein pergi dari sana.
Di dalam mobil dia melihat ponselnya berdering dan ada nama Darren di sana. "Tuan Rhein, Anda di mana?"
"Aku sedang di luar mencari Hazel."
"Mencari Hazel? Memangnya Hazel pergi dari apartemen Tuan Rhein?"
"Iya, dia semalam pergi dari apartemenku. Dia meninggalkan pesan, mengucapkan terima kasih atas kebaikanku selama ini."
"Ya Tuhan! Ke mana dia akan pergi? Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini."
"Aku ke rumah kakak tiri Hazel dan dia mengatakan mungkin saja Hazel pergi ke tempat di mana sahabat mamanya tinggal. Darren, apa kamu bisa mencari tau di mana rumah sahabat mamanya Hazel tinggal?"
Darren terdiam sejenak. "Nanti saya coba tanyakan kepada orang sekitar di tempat tinggal keluarga Hazel yang dulu, mungkin mereka tau, atau saya akan tanyakan pada keluargaku yang pernah dekat dengan mama Hazel."
"Cepat kabari aku, Darren."
"Baik, Tuan Rhein. Tuan Rhein, apa saya boleh bicara sesuatu?"
"Bicara saja?"
"Apa Hazel memiliki masalah dengan Tuan Rhein? Kalau tidak memiliki masalah dengan Tuan Rhein, sebaiknya biarkan saja Hazel pergi mencari di mana dia ingin berada. Tuan Rhein tidak perlu mencarinya."
__ADS_1
Rhein seketika terdiam sejenak. Dia sendiri bingung kenapa merasa kebingungan dengan kepergian Hazel? Hazel tidak memiliki masalah dengannya, dan Hazel pergi atas kemauannya sendiri. Dia bahkan dulu belum mengenal Hazel juga tidak ada masalah dengan hidupnya.