Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Apa Ini Jatuh Cinta? Part 2


__ADS_3

Hazel mengatakan semua bajunya bagus, hanya saja terbuka.


"Terbuka bagaimana? Kamu ini akan menghadiri acara besar dan mewah, Hazel, dan aku sudah sering menangani masalah ini."


"Iya, tapi apa tidak ada baju yang tidak memperlihatkan belahan dadaku? Atau baju yang tidak memperlihatkan belahan pahaku yang sangat panjang itu. Aku tidak nyaman sama sekali."


"Rhein, bisa tidak gadis ini aku pindahkan ke planet mars."


Rhein malah tertawa mendengar keluh kesah wanita yang sudah lama kenal baik dengan Rhein ini.


"Kamu maklumi saja. Hazel, itu gadis yang masih sangat polos dan lugu."


Kedua mata wanita itu melihat Hazel dari atas ke bawah. "Kamu serius dia masih lugu? Rhein dia hidup dan tinggal dengan seorang Casanova seperti kamu dan kamu belum menyentuhnya sama sekali?"


"Hei! Aku bukan wanita pemuas ranjangnya Rhein. Aku di sana bekerja sebagai pelayan, bukan sebagai teman tidur Rhein," terang Hazel dengan semangat.


"Ahahah! Berarti kamu istimewah bagi Rhein. Tunggu saja, nanti Rhein pasti akan menjadikan kamu ratu di hidupnya," bisik Laia dan dia kemudian menggandeng Hazel masuk ke ruangan khusus miliknya.


"Aku pokoknya tidak mau memakai baju terbuka, Kak Lala."


"Lala? Namaku Laia, Hazel. Jangan merubah nama seseorang dengan seenaknya.


"Iya, maaf, Kak Laia."


"Rhein, aku nanti akan pilihkan baju yang sesuai keinginannya, tapi kalau kamu mendapat malu di acara pesta itu jangan salahkan aku."


Rhein menatap pada Hazel. "Dia tidak akan membuat malu, malahan dia akan menjadi bintang di sana."


Hazel diberikan sebuah baju berwarna merah maroon dengan dengan model mini dress ruffles long Sleeve. Hazel terlihat tampak senang dengan bagian atasnya tertutup walaupun bagian bawahnya agak pendek.


Rambut Hazel pun dikuncir biasa dan ada beberapa helai di buat keriting besar di kedua sisinya.


"Cantik juga walaupun penampilan kamu tidak terlalu glamour," puji Laia.


Hazel memakai sepatu dengan hak tidak terlalu tinggi karena dia tidak akan bisa jalan jika haknya terlalu tinggi.


Rhein juga sudah dipilihkan setelah jas berwarna hitam dengan bahan satin. Rhein tampak gagah dan sangat tampan dengan rambut yang juga dirapikan sedikit.


"Kita berangkat sekarang saja." Rhein meletakkan tangan Hazel melingkar pada lengan tangannya.


Mereka berangkat ke tempat acara. Di sana juga sudah banyak orang, bahkan Darren dengan membawa mobil sendiri datang ke sana.

__ADS_1


"Kamu Hazel?"


"Iya, Kak Darren. Kak Darren malam ini tampan sekali."


"Terima kasih, Hazel. Kamu juga sangat cantik sekali malam ini dan aku tidak mengenali kamu sama sekali."


Hazel melepaskan tangannya yang tadi bertaut pada tangan Rhein karena Hazel ingin bergandengan dengan Darren.


"Hei! Kamu ke sini datang sama siapa?" Rhein menarik tangan Hazel dan menggandengkan dengan tangannya kembali.


"Rhein, aku ingin berpasangan dengan Kak Darren saja karena di sini pasti banyak wanita yang ingin berdampingan dengan kamu."


"Malam ini kamu adalah pasanganku di acara ini. Darren kamu pergi saja dan urus semua yang sudah kita rencanakan untuk acara ini."


Rhein memberi perintah dengan gerakan matanya. Darren melihat pada Hazel dan kemudian dia izin pergi dari sana.


"Rhein, kasihan Kak Darren sendirian di sini."


"Kata siapa dia sendirian. Dia bersama dengan beberapa karyawanku lainnya. Lagi pula Darren di sini banyak yang harus di kerjakan."


Hazel terdiam dengan wajah agak ditekuk. Rhein membawa Hazel berjalan masuk ke ruang utama.


Seketika tangan Hazel memeluk erat lengan tangan Rhein. Rhein yang merasakan pelukan erat tangan Hazel tampak bingung.


"Rhein, kenapa banyak orang yang datang dan kelihatannya mereka semua orang penting."


"Kamu nervous? Mereka memang orang-orang penting dan para pengusaha kaya raya."


"Rhein, apa kamu tidak salah mengajak aku ke sini?"


"Hei! Kamu yang akan menjadi bintangnya di sini karena kamu model dari berlian itu, dan mereka tidak hanya tertarik dengan berliannya, tapi juga modelnya." Rhein melirik Hazel dengan mata nakalnya.


"Rhein, kamu mau menjualku pada pengusaha kaya di sini ya?" celetuk Hazel ngasal.


Mereka ini berbicara dengan saling berbisik.


"Tentu saja, kamu bahkan bisa lebih mahal harganya dibandingkan dengan berlian yang aku tawarkan karena kamu masih perawan."


Hazel langsung melepaskan pegangan tangannya dan menatap Rhein kesal.


"Aku pergi saja dan kamu boleh ambil uangmu yang sudah kamu berikan padaku."

__ADS_1


"Hazel, tunggu!" Rhein memegang tangan Hazel dengan cepat. "Kamu ini kenapa malah dibuat serius ucapanku? Kalau aku mau menjualmu, kenapa menunggu begitu lama?"


"Ucapan kamu itu mengingatkan aku dengan kedua orang yang suka menyiksaku itu, Rhein."


"Hazel, aku tidak akan menjual kamu. Maksudku, kamu itu memang lebih berharga dari pada sebongkah berlian. Kamu tidak ternilai."


Deg


Sekali lagi ada yang berdetak kencang tepat di jantung Hazel.


Rhein akhirnya mengajak Hazel pergi menemui salah satu rekan kerjanya yang ingin tau siapa model cantik yang ada di majalah bisnis paling depan. Model yang tentu saja menjadi idola karena dia baru pertama kali mereka lihat. Apa lagi membawakan produk termahal dari perusahan terkenal milik Rhein.


"Rhein, kenapa sekarang para wanita itu melihatku? Mereka seperti ini menelanku saja. Apa salahku, ya?"


"Salahmu karena kamu malam ini begitu cantik dan berjalan dengan seorang Rhein."


Kedua alis Hazel mengkerut. "Memangnya kamu begitu istimewah dan terkenal ya?"


"Menurut kamu?"


Hazel hanya dapat menghela napasnya panjang. Hazel kemudian berkenalan dengan beberapa orang di sana. Istri para pengusaha itu memuji kecantikan Hazel dan mereka mengatakan jika Hazel sangat cocok jika menikah dengan Rhein.


Tidak hanya cocok, penderitaan Hazel pun akan semakin bertambah jika menjadi istri si Rhein yang sukanya bermain dengan banyak wanita.


"Rhein, apa boleh model kamu ini aku minta untuk mengiklankan produk baru dari perusahaanku."


"Produk apa?"


"Istriku berencana akan meluncurkan gaun tidur dengan brand memakai nama butiknya. Hazel pasti sangat cocok sekali jika menjadi modelnya.


Uhuk ... uhuk


Hazel yang tidak makan atau minum langsung terbatuk karena tercekat mendengar keinginan salah satu rekan bisnis Rhein.


"Maaf, aku tidak bisa mengizinkannya, dan Hazel pun sepertinya tidak akan mau karena dia pemalu jika harus terlalu membuka tubuhnya. Iya, kan, Hazel?"


"I-iya, aku tidak bisa, Tuan. Aku minta maaf. Sebenarnya setelah menjadi model di perusahaan Tuan Rhein, aku sudah mau berhenti menjadi model."


"Sayang sekali, padahal jika diteruskan, kamu bisa menjadi terkenal dan berlimpah uang."


"Sudah cukup apa yang aku dapatkan."

__ADS_1


"Kamu seorang gadis yang sangat sederhana ya?" Pria itu melihat ke arah Rhein. "Tentu saja cukup, Rhein memberi kamu kebahagiaan lebih besar daripada kamu harus berusaha payah berkerja," lanjutnya kemudian.


Hazel mencoba mencerna ucapan pria yang adalah rekan bisnis Rhein.


__ADS_2