Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Happy Ending Part 1


__ADS_3

Adrian sudah memutuskan jika tanggal pernikahan Rhein dan juga Dinda sudah ditentukan.


Rhein tidak mau membantah atau berdebat dengan daddynya. Dia hanya terdiam dan akhirnya pergi dari sana.


Hazel yang mendengar semua itu seketika tidak karuan perasaanya saat ini.


"Kei, beritahu pada Dina jika kita sudah menentukan tanggal pernikahan mereka dan lusa kita akan mengundang mereka makan malam untuk membicarakan tentang hari pernikahan Rhein.


"Iya, aku akan memberitahu tentang masalah ini."


Semua berjalan seperti biasa, sampai hari itu tiba di mana keluarga Adrian mengadakan makan malam dengan keluarga Dinda.


Di sana tampak hadir Nala dan suaminya, Rhein pun juga hadir di sana, tapi Rhein tidak banyak bicara. Dia lebih banyak terdiam sembari menikmati minumannya.


"Aku senang sekali akhirnya kita akan bisa menjadi sebuah keluarga besar, Kei." Dina memeluk Kei dengan bahagia.


"Rhein, aku senang akhirnya kita bisa menikah, dan aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu."


"Aku tidak membutuhkan istri yang baik, apa lagi sepertimu. Pembohong." Rhein berdiri dari tempatnya.


"Rhein! Jaga sikapmu!"


"Dia juga harusnya menjadi sikapnya untuk menjadi orang yang jujur." Rhein pergi dari sana.


Adrian tampak geram, tapi Nala dengan cepat menenangkan ayah mertuanya itu. "Biarkan saja dia, Dad. Biar nanti aku yang bicara dengannya." Nala mengusap perlahan lengan tangan ayah mertuanya. Adrian benar-benar terlihat kesal pada Rhein.


Rhein berjalan keluar rumah dan dia melihat ada Hazel berdiri sendirian di sana. Rhein tampak melihat punggung gadis yang sangat dia cintai, tapi tidak bisa dia miliki.


"Hai, Hazel," sapa Rhein yang membuat Hazel kaget.


"Rhein, kamu ada di sini? Apa kamu tidak makan malam dengan keluarga Dinda? Apa mereka sudah pulang?"


"Kenapa kamu tadi tidak di sana bersama lainnya?"


"Aku dan Orlaf memilih tidak ikut pembicaraan para orang tua yang sangat penting itu."


Rhein tersenyum miring. "Penting dari mana? Pernikahan itu hanya sebuah kebohongan yang diciptakan dari kebohongan. Aku tidak pernah berbuat apapun dengan Dinda."


"Rhein, tapi apa salahnya jika kamu menikah dengan Dinda? Siapa tau dia melakukan hal itu karena dia sangat mencintaimu."


"Aku tidak peduli dia mencintaiku atau tidak. Aku hanya mencintaimu." Rhein pergi dari sana.

__ADS_1


Hazel memeluk sendiri tubuhnya dan menangis. Sampai akhirnya dia melihat Orlaf berjalan ke arahnya. Dia langsung menghapus air matanya.


"Rhein pergi dari acara makan malam. Dia benar-benar suka mencari masalah dengan Daddy."


"Mungkin karena dia tidak ingin menikahi Dinda."


"Tapi dia tidak bisa pergi begitu saja karena tidak ada bukti jika Rhein memang tidak berbuat apa-apa."


"Iya, aku tau. Rhein mau tidak mau harus menikahi Dinda."


"Iya, kasihan sekali jika menikah tanpa ada rasa cinta."


Hazel terdiam karena sebentar lagi dia juga akan menjalani masa itu.


***


Hari itu ada acara ulang tahun pernikahan Nala dan Akira semua keluarga besar datang dan mereka juga mengundang Dinda dan mamanya.


Dinda tampak cantik dengan balutan gaun berwarna merah. Dia menggandeng lengan tangan Rhein yang sebenarnya malas jika harus berdekatan dengan Dinda, tapi karena permohonan sang mommy agar Rhein bisa bersikap baik dengan calon istrinya. Maka, Rhein mau melakukan hal itu.


"Orlaf ini mana? Kenapa dia belum datang dengan Hazel?" Kei mencoba menghubungi putra bungsunya itu yang memang tadi masih berada di butik dengan Hazel.


Namun, belum sempat menekan tombol ponselnya, terlihat sepasang kekasih yang memakai warna baju senada, yaitu hitam masuk ke dalam area taman di mana acara itu berlangsung.


Rhein langsung menjatuhkan pandangannya pada gadis yang memang terlihat sangat cantik malam ini.


"Maaf, apa aku dan Hazel datang terlambat?"


"Tentu saja tidak adikku sayang. Acara akan segera dimulai setelah semua keluarga kita berkumpul dan kamu Hazel, kamu sangat cantik malam ini."


"Terima kasih, Kak Nala. Kak Nala juga sangat cantik malam ini."


Acara dimulai dan semua memberi ucapan selamat pada Nala serta Akira. Mereka mendoakan agar pernikahan Nala dan Akira langgeng terus sampai kakek dan Nenek.


"Orlaf, aku mau ke kamar mandi sebentar."


"Iya, aku akan menunggumu di sini, Hazel."


Hazel berjalan dengan hati-hati karena dia sedang memakai high heels dan dia memang belum terlalu terbiasa menggunakan sepatu itu.


Selesai dari kamar mandi dan saat melewati lorong dia berpapasan dengan Dinda dan mamanya. Hazel tampak kesulitan berjalan karena lantai di sana agak licin.

__ADS_1


"Hazel, kamu baik-baik saja, Kan?"


"Aku tidak apa-apa Dinda.


Bruk!


"Ups! Maaf, kamu itu harusnya berhati-hati. Hazel, aku minta maaf tidak bisa menolongmu karena nanti gaunku menjadi kotor kalau harus berjongkok."


Dinda dan mamanya malah terkekeh dan berjalan pergi dari sana. "Dia nanti akan menjadi menantu juga di keluarga Danner. Aku baru tau jika dia anak sahabat Tante Kei yang jatuh miskin di luar negeri. Apa lagi dia juga pernah bekerja di club malam. Hish! Memalukan sekali kalau nanti dia menjadi menantu dan harus bersaingan denganku."


"Mama yakin, kamu akan lebih di sayang oleh Kei dan Adrian dan mengalahkan Nala."


Hazel tidak menyangka jika Dinda akan berbuat seperti itu. Dia mencoba berdiri dengan hati-hati.


Blub!


"Rhein? Kamu kenapa ada di sini?" Hazel kaget karena tiba-tiba Rhein menggendong tubuh Hazel dan membawanya ke tempat yang sepi.


"Kalau tidak nyaman memakai sepatu itu, kenapa harus kamu pakai?" Rhein melepaskan sepatu Hazel dan memeriksa kaki Hazel.


"Orlaf yang memilihkan untukku dan aku juga menyukai sepatunya."


"Apa kamu benar menyukai sepatunya?" Kedua alis tebal Rhein mengkerut.


Hazel terdiam sejenak. "Rhein, aku mau kembali ke tempat acara." Hazel takut jika ditatap oleh Rhein seperti itu.


"Jujur saja. Aku beberapa hari ini sangat kesal dan marah sama kamu, Hazel."


Hazel menghentikan langkahnya saat mendengar apa yang Rhein katakan. Hazel pun tidak berani menoleh ke arah Rhein saat ini.


"Sakit sekali rasanya harus melihatmu bersama dengan Orlaf."


"Rhein, kamu juga nanti akan melupakan aku saat sudah menikah dengan Dinda."


Rhein membalikkan tubuh Hazel. "Apa kamu benar serius ingin melihatku menikah dengan Dinda?"


"A-aku--." Hazel bingung harus menjawab apa dari pertanyaan Rhein.


Sepersekian detik kemudian Rhein menciumi bibir Hazel dengan lembut. Hazel membiarkan hal itu karena dia juga merindukan ciuman yang Rhein pernah berikan untuknya.


Rhein yang tidak mendapat penolakan dari Hazel semakin memperdalam ciumannya, bahkan Hazel pun terbawa suasana dengan ciuman Rhein.

__ADS_1


Dari tempatnya Kei ternyata melihat hal itu dan dia sangat amat terkejut. Sekarang dia tau jika gadis yang pernah dikatakan oleh Rhein sudah membuatnya ingin memikirkan masa depan adalah Hazel.


__ADS_2