
Hazel berpikir jika dia pergi saja dari sana karena merasa kebohongannya mengaku istri Rhein sudah terbongkar dan pastinya dia hanya akan mendapat tawa dan hinaan, apalagi Rhein pasti membela wanitanya itu.
"Hazel, kamu mau ke mana?"
"Aku mau ke belakang saja. Kamu sudah kelihatan lebih baikkan sekarang."
"Apa kamu mau meninggalkan suami kamu dengan wanita lain?"
Deg
Hazel seketika terhenti langkahnya. Pun dengan wanita di sebelah Rhein yang tampak kaget dan melongo mendengar apa yang baru saja Rhein katakan.
Hazel menoleh dan melihat Rhein dengan wajah herannya. "Rhein?"
"Rhein, kamu jangan bercanda! Gadis ini tidak mungkin istri kamu. Dia saja sudah berbohong kalau dia hamil anakmu. Dan aku tau dia bukan tipe kamu, jadi, dia tidak mungkin istrimu."
"Dia memang belum menikah denganku, tapi aku sudah menganggap dia menjadi istriku, oleh karena itu aku menyuruhnya tinggal di sini denganku." Rhein menatap datar pada wanita di depannya.
__ADS_1
"Apa kamu sedang membuat lelucon padaku, Rhein?"
"Aku tidak sedang melucu. Walaupun dia bukan tipeku, tapi kalau dia pNtaz menjadi istriku, aku akan menikahinya. Apa kamu bisa paham? Jadi, sebaiknya sekarang kamu pergi saja dari sini dan tidak perlu menemui aku lagi."
"Kamu sangat menyebalkan, Rhein!" Wanita itu dengan marahnya pergi dari apartemen Rhein dengan menabrak pundak Hazel dengan kasar.
Rhein yang tubuhnya memang masih sakit. Menunduk untuk mencoba mengatur rasa tidak enak pada tubuhnya agar lebih nyaman.
"Rhein, kamu tidak apa-apa?" Hazel menyangga tubuh Rhein.
"Bawa saja aku ke kamar karena aku mau beristirahat."
Tidak lama Darren datang dengan wajah tergesa-gesa masuk ke dalam apartemen Rhein yang pintunya memang terrbuka. "Maaf, Hazel dan Tuan Rhein. Tadi di jalan saya terjebak macet karena ada kecelakaan dan saya ikut menolong, saya menghubungi tim medis dan menunggu di sana sampai tim medisnya datang."
"Kamu Kenpa malam mementingkan orang lain? Aku dan Hazel di sini menunggu kamu untuk membawaku ke rumah sakit."
"Iya Tuan Rhein, sekali lagi saya minta maaf. Sekarang saja kita pergi ke rumah sakit."
__ADS_1
"Kak Darren, tolong bawa Rhein ke dalam mobil dulu karena aku harus mengambil tas dan mantel Tuan Rhein."
"Iya, kita tunggu saja kamu di dalam mobil." Darren membantu Rhein berjalan turun lift menuju mobilnya. Hazel segera menyusul dan Rhein duduk di belakang berbaring pada pangkuan Hazel. Hazel memberikan mantel Rhein.
"Apa kamu sudah lebih nyaman, Rhein?" Rhein hanya membalas dengan anggukan kepala.
Mereka menuju rumah sakit. Hazel terus saja mengompres dahi Rhein dengan kain tebal seperti waslap yang dia bawa dari tadi.
"Kak Darren, kenapa suhu tubuh Rhein semakin panas saja? Lebih baik Kak Darren lebih cepat mengemudianya."
"Iya, ini akan aku percepatan, kamu pantau saja terus suhu tubuhnya."
Tidak lama mobil itu berhenti dan Darren keluar untuk meminta tolong, dan kebetulan tenaga medis di sana sangat bergerak cepat. Rhein segera diperiksa dan luka pada tangannya juga
"Dok, bagaimana dengan keadaan Rhein?"
"Aku sarankan agar dia mau di rawat di sini untuk beberapa hari sampai panasnya turun."
__ADS_1
"Di rawat?" Hazel melihat pada Kak Darren yang mukanya bingung mendengar perkataan dokter.
"Iya, Rhein harus dirawat di sini sampai keadaannya membaik lagi."