
"Bagus kalau kamu masih berpikiran seperti itu. Ya sudah kalau begitu, tidurlah nyenyak, Gadis Perawan." Rhein menutup panggilannya.
"Apa-apaan dia berkata seperti itu? memangnya aku ini dia?" Hazel yang kesal membanting sekali lagi tubuhnya di sofa. "Aku tadinya mau tidur nyenyak, tapi setelah mendengar ucapan bar-bar Rhein, hatiku seolah sangat kesal."
Rhein terdiam di tempatnya setelah menghubungi Hazel. Ponsel miliknya di ketuk-ketukan tepat pada dahinya.
"Aku ini kenapa? Kenapa aku begitu khawatir dengan gadis itu? Tidak melihatnya satu hari saja rasanya ada yang menggangguku," Rhein berdialog sendiri.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang membuat kamu tersenyum begitu?"
"Kamu," jawab Rhein singkat.
"Aku? Memangnya aku kenapa?"
"Aku baru menyadari jika kamu benar-benar seperti pahatan seorang masterpiece yang begitu sempurna." Rhein mengedipkan salah satu matanya.
Rhein mulai mengeluarkan jurus andalannya, yaitu rayuan berbisa yang manis.
"Rhein, aku sudah banyak sekali bertemu pria seperti kamu, dan aku tidak mempan dengan rayuan kamu itu."
__ADS_1
"Hahahaha! Aku Rhein, dan aku berbeda dengan para pria yang kamu katakan tadi."
Wanita itu seketika beranjak dari tempatnya dan mencondongkan sedikit badannya pada Rhein.
"Apa ada hal spesial dari diri kamu yang berbeda dengan para pria yang aku kenal?"
Rhein menatap dengan datar dan wajah menawan tapi terlihat dingin itu ditunjukkan Rhein.
Rhein mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jasnya. "Untuk kamu."
Wanita cantik itu seketika melihat heran pada apa yang Rhein berikan padanya. "Coklat?"
Wanita bernama Renata ini agak kaget dengan apa yang Rhein baru saja katakan.
Rhein berdiri dari tempatnya dan memberikan kecupan kecil pada bibir Renata.
"Rhein! Aku membencimu!" seru Renata kesal.
"Di kamarku nomor 1221 aku sangat mengantuk. Jadi, kalau kamu terlalu lama, aku akan tidur." Rhein berjalan pergi dari sana. Rhein tidak pernah memohon pada seorang wanita untuk bercinta, tapi para wanita itulah yang menginginkan seorang Rhein. Seperti malam inipun. Renatalah yang menginginkan seorang Rhein.
__ADS_1
"Dia memang berbeda, tapi aku menyukainya, dan sepertinya aku jatuh cinta sama kamu, Rhein."
Wanita itu berjalan mengikuti Rhein masuk ke dalam lift. Mereka berdua berdiri saling berdampingan.
Tangan Renata menengadah. "Mana kuncimu?"
Rhein lagi-lagi menunjukkan wajah mempesonanya dan dia memberikan ID Card kamarnya pada Renata.
Saat pintu lift terbuka Renata berjalan ala model di catwalk berjalan santai menuju nomor kamar yang Rhein sebutkan tadi.
Renata membuka kamarnya dan masuk dengan wajah menggodanya. Dia duduk di tepi ranjang dengan kaki menyilang sehingga memperlihatkan belahan gaunnya yang panjang sampai pahanya terekspos sempurna.
Rhein menutup pintu kamarnya dan sekarang dia berdiri tepat di depan Renata.
"Apa kamu tidak mau memakan dulu coklat yang sudah aku berikan?"
Renata seketika berdiri dari tempatnya. Tangannya melepas dasi milik Rhein, dan mendekatkan bibirnya pada telinga Rhein.
"Aku ingin menikmati coklat itu bersama kamu," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Aku sangat menyukai coklat, dan pasti lebih menyenangkan bisa menikmati coklat itu dengan cara yang berbeda." Tangan Rhein malah menurunkan satu lengan gaun Renata yang berbentuk seperti tali. Lalu, Rhein melanjutkan melepaskan lengan gaun satunya sehingga sekarang Rhein dapat melihat suatu pemandangan yang sering dia lihat.