Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Sebuah Dukungan


__ADS_3

Di dalam kamarnya Rhein terlihat marah mengingat Hazel yang tangannya digandeng oleh Orlaf.


"Apa sebegitu bencinya kamu padaku, Hazel, sehingga kamu tega menyakitiku seperti ini?"


Dahal kalau diingat, Rhein yang lebih dulu menyakiti Hazel dan itu sangat menyakitkan dibanding apa yang Hazel lakukan pada Rhein.


Tidak lama ponsel Rhein berdering dan itu dari Darren. Rhein lupa belum memberitahu Darren jika dia sudah menemukan di mana Hazel berada.


"Tuan Rhein."


"Iya, ada apa Darren?"


"Tuan, saya mau melaporkan jika kita memenangkan tender lagi dan sudah saya kirim dokumen yang perlu Tuan tanda tangani."


"Nanti akan aku buka di ruang kerja Daddyku. Darren, apa semua di sana baik-baik saja?"


"Baik, Tuan. Tuan Rhein tidak perlu khawatir dengan keadaan di sini karena saya bisa mengatasi semua urusan Tuan Rhein yang ada di sini."


"Bagus kalau kamu memang bisa mengurusnya."


"Tuan, apa saya boleh bertanya sesuatu pada Tuan Rhein?"


"Tanya apa? Soal Hazel?"


"Iya. Bagaimana, apa Tuan Rhein sudah bertemu dengan Hazel?"


"Sudah, Darren."


"Lantas, apa Tuan Rhein sudah mengatakan tentang perasaan Tuan Rhein pada Hazel?"


Rhein terdiam sejenak. "Tuan, kenapa tidak menjawab? Apa Tuan dan Hazel ada masalah?"


Terdengar suara helaan panjang dari napas Rhein, dan Darren dapat mendengarkannya.


"Hazel memang sudah aku temukan, tapi dia sudah menjadi milik orang lain."


"Apa? Apa maksud, Tuan Rhein? Apa Hazel sudah menikah dengan orang lain? Tapi bagaimana itu bisa?"


"Dia belum menikah dengan orang lain, Darren, tapi dia sudah memiliki kekasih dan dia akan bertunangan dengan pria itu."


"Apa? Hazel akan bertunangan? Tapi itu tidak mungkin, Tuan."

__ADS_1


"Kenapa tidak mungkin? Mereka berdua sama-sama sendiri, dan Hazel juga tidak memiliki hubungan apa-apa denganku. Dia berhak memiliki hubungan dengan siapapun."


"Iya, saya tau, tapi Hazel itu sangat mencintai Tuan Rhein, dan saya yakin jika Hazel sampai detik ini mencintai Tuan Rhein. Bisa saja dia melakukan hal itu karena dia ingin sekali melupakan sakit hatinya pada Tuan Rhein."


"Aku juga berpikiran begitu. Apa yang sudah aku lakukan memang sangat menyakiti hatinya."


"Tuan Rhein masih mencintai Hazelkan?"


"Apa maksudnya kamu bertanya lagi seperti itu? Tentu saja aku masih mencintai Hazel, bahkan sampai kapanpun. Memangnya kenapa?"


"Tidak, saya kira Tuan Rhein sudah berubah perasaannya pada Hazel karena di sana bukannya Tuan Rhein memiliki perasaan cinta dengan wanita yang sekarang adalah kakak ipar Tuan Rhein."


"Oh God! Bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu?"


"Saya minta maaf karena takutnya, perasaan cinta Tuan Rhein yang dulu timbul lagi saat bertemu dengan wanita yang membuat Tuan Rhein jatuh cinta pertama kali."


"Dengar ya, Darren. Nala itu sekarang adalah kakak iparku, dan kamu tau sendiri jika aku tidak pernah mau mendekati wanita yang masih memiliki hubungan dengan seseorang. Itu juga berlaku untuk kamu."


"Kenapa saya?"


"Kamu mencintai istri orang dan tidak salah jika suaminya marah padamu."


"Soal Marta? Tuan, hal itu pengecualian karena Marta sering dipukuli seorang pria yang sudah mengikat janji pernikahan, tapi tidak bisa menepati janji pernikahan mereka. Marta kasihan sekali harus hidup dengan monster seperti suami. Coba Tuan jadi saya dan harus melihat wanita yang Tuan cintaku dipukuli begitu."


"Itu yang ingin saya lakukan, tapi Marta tidak mau karena katanya nyawa anaknya nanti yang akan menjadi taruhannya."


"Kejam sekali dia."


"Saya masih mencari cara lain agar dia mau melepaskan Marta."


"Aku senang kamu mau berjuang untuk mendapatkan cintamu."


"Cinta itu harus diperjuangkan, jika kita menganggapnya pantas untuk kita perjuangkan, Tuan, dan aku yakin aku tidak salah dalam memperjuangkan cintaku kali ini. Marta dan anaknya harus hidup bahagia."


"Kamu benar, selama cintai kita tulus dan tepat kita harus perjuangkan."


"Kalau begitu Tuan Rhein tunggu apa lagi? Perjuangkan cinta Hazel, rebut kembali hatinya, Tuan Rhein."


"Kalau aku katakan pria yang menjadi kekasih Hazel sekaligus calon suami Hazel adalah adik kandungku sendiri, bagaimana tanggapan kamu?"


"Ha...! Tuan, ini Tuan Rhein tidak sedang bercanda denganku, kan?'

__ADS_1


"Tentu saja aku serius, Darren. Sahabat mama Hazel yang Hazel sedang cari selama ini adalah mommyku dan Hazel sekarang berada di rumahku. Dia tinggal di sana, bahkan aku setiap harian harus melihat dia sangat dekat dengan adikku dan seolah-olah mereka pasangan kekasih yang bahagia. Damn! Sakit sekali melihat hal itu, Darren."


"Sakit sekali, Tuan. Sepertinya ini hukuman yang Tuhan berikan pada Tuan Rhein."


"Apa katamu?"


"Maaf, tapi Tuan Rhein, kan suka mempermainkan banyak wanita dan sekarang Tuan mendapat balasannya bagaimana rasanya dipermainkan perasaanya, tapi ini sangat pedih karena Hazel malah dengan adik tuan Rhein sendiri."


"Lantas, apa yang sekarang harus aku lakukan, Darren. Apa kamu punya solusi dari masalahku ini?"


Darren terdiam sejenak, Darren sepertinya juga bingung mau memberi solusi apa? Dia juga kenal adik Rhein serta dia tau jika Orlaf pria yang baik.


"Tuan, cinta itu akan indah jika kita mendapatkan, tapi juga bisa sangat menyakitkan. jika tidak diperoleh."


"Darren, kamu jangan membuat orang malah berpikir dengan ucapan kamu. Katakan saja apa yang harus aku lakukan?"


"Rebut kembali cintamu, Tuan Rhein. Hazel berhak bahagia hidup bersama dengan orang yang dia cintai. Begitupun dengan orang itu juga berhak mendapatkan kebahagiaan."


"Tapi ini adikku, Darren?"


"Kenapa memangnya kalau adik Tuan? Ini bukan hanya sekadar mengambil Hazel dari tangan adik Tuan, tapi juga meluruskan hal yang salah."


"Hal yang salah?"


"Iya, Tuan Rhein dan Hazel saling mencintai, tapi kenapa malah berpisah? Hazel juga akan berbohong pada Orlaf tentang hatinya. Kasihan Orlaf harus dibohongi terus oleh kalian."


Apa yang dikatakan oleh Darren benar juga. "Darren, terima kasih atas masukkan."


"Tuan Rhein, jika Tuan Rhein gagal dalam mengambil cinta Tuan hari ini, maka Tuan pasti akan menyesal selamanya karena akan kehilangan orang yang Tuan Rhein sayangi selamanya."


"Iya, terima kasih, Darren."


"Berjuanglah, Tuan."


Mereka mematikan panggilan ponselnya.


"Aku mencintaimu Hazel, dan benar apa kata Darren. Jika aku harus memperjuangkan cintaku. Aku akan membuat kamu mengaku padaku jika rasa cintamu itu masih ada untukku Hazel, dan jika itu terbukti bahkan Orlaf pun tidak akan bisa membuat aku mengalah kali ini karena cinta memang harus diperjuangkan."


Tidak lama pintu kamar Rhein diketuk oleh seseorang. Rhein membuka dan ada mommynya di depan kamar Rhein.


"Mommy, ada apa? Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak begini?"

__ADS_1


Mommy Kei hanya menanggapinya dengan senyum santai.


__ADS_2