Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Hazel Di Tempat Baru part 1


__ADS_3

Rhein mengatakan jika dia mencari Hazel karena dia peduli pada gadis yang hidup sebatang kara di dunia ini. Rhein kasihan pada Hazel.


"Hanya Kasihan, Tuan?"


"Tentu saja Darren, apa lagi? Kamu berharap aku mengatakan jika aku mencintai dia? Ayolah, Darren! Dalam kamusku tidak ada hal yang namanya cinta. Cintaku sudah mati dengan perasaanku yang dulu, di mana ada seorang wanita yang sangat aku cintai, tapi dia lebih memilih kakak kandungku untuk menjadi suaminya."


"Kalau begitu, Tuan Rhein tidak perlu mencari Hazel. Biarkan Hazel bahagia dengan hidupnya, mungkin saat jauh dari Tuan Rhein, dia akan lebih bahagia."


Rhein tidak menjawab, dia memutuskan panggilan teleponnya. "Mungkin lebih baik aku tidak perlu mencari Hazel."


Rhein kembali ke apartemennya dan dia melihat masih ada Renata di sana. Renata tampak masih dengan keadaan polos berbaring di atas ranjang Rhein.


"Kenapa masih di sini?"


"Sayang, aku menunggumu. Kenapa kamu malah mencari gadis pelayanmu itu. Kalau kamu butuh seorang pelayan, aku bisa mencarikan kamu seorang pelayan yang lebih baik dari gadis bodoh itu."


"Jangan suka menghina Hazel. Dia gadis yang baik dan sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya."


"Dia terlalu bertanggung jawab, bahkan sampai urusan ranjangmu pun dia juga mengurusinya."


"Apa maksudmu?"


"Ayolah, Rhein! Dia sudah menjual dirinya padamu, kan? Dasar gadis miskin tidak tau diri. Segala cara dia gunakan untuk menjeratmu. Menjerat pria kaya raya sepertimu, dia pandai sekali memanfaatkan dirimu yang memang suka sekali dengan para wanita."


"Pakai bajumu dan cepat pergi dari sini," titah Rhein tegas.


Renata tidak percaya jika Rhein mengusirnya dari sana. Renata beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba merayu pria itu.

__ADS_1


"Sayang, kenapa marah begitu? Bagaimana jika hari ini aku akan membuatmu bahagia? Kita memasak bersama dan makan bersama." Jemari Renata mengusap lembut rahang tegas Rhein.


"Aku ingin beristirahat. Sebaiknya kamu pergi dari sini." Rhein berjalan menuju pintu kamarnya dan dengan santainya mempersilakan Renata keluar.


Wajah Renata seketika marah dan dia segera memunguti bajunya dan berjalan keluar.


Rhein menutup pintunya dengan membantingnya marah.


"Lihat saja, kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan Hazel karena dia sudah tidak ada di negara ini. Hazel sudah aku kirim jauh dari negara ini." Renata tersenyum devil.


Di dalam kamar dia duduk di atas ranjang dengan memegangi kepalanya. Rhein marah pada dirinya sendiri, kenapa dia begitu gelisah saat tau Hazel pergi dari apartemennya.


"Gadis perawan bodoh! Kenapa dia harus memilih pergi dari sini, padahal di sini hidupnya akan lebih baik? Kalaupun aku tidak membalas cintamu, setidaknya kita masih bisa berhubungan yang lainnya. Kamu bisa menjadi teman di atas ranjangku dan aku tidak akan mencari wanita lain untuk bersenang-senang."


Rhein melempar bantal dan guling yang ada di atas ranjangnya. Dia tampak kesal ingin meluapkan kekesalannya.


Dia menyalakan ponselnya dan melihat ada foto Hazel di sana. Rhein tampak terkejut melihat potret Hazel yang sedang memegang foto Rhein dan Hazel tampak tersenyum memandangi foto Rhein.


Rhein tersenyum melihat foto Hazel. "Gadis perawan bodoh. Kenapa dia bisa sangat mencintaiku? Padahal ada pria yang lebih baik dia cintai. Darren misalnya," Rhein berdialog sendiri.


Di beranjak dari tempat duduknya dan membuka lemari bajunya untuk mengambil piyama tidur miliknya. Rhein tampak terdiam melihat baju yang ada di dalam lemarinya


Rhein mengambil piyama tidur milik Hazel yang dia belikan untuk Hazel. Piyama itu masih memiliki aroma khas Hazel. "Kamu di mana, Hazel? Entah kenapa rasanya aku merindukan kamu?" Rhein menggenggam erat baju Hazel. Ada rasa kesal yang ingin dia luapkan, tapi kenapa dia kesal? Apa karena Hazel pergi tanpa Izin dengannya dulu, atau dia kesal karena hatinya merindukan Hazel, tapi dia tidak bisa menemuinya.


Malam ini Rhein tidak bisa tidur dengan nyenyak karena dia malah teringat dengan Hazel, teringat saat Hazel dia peluk saat tidur.


***

__ADS_1


Hazel yang sekarang berada di dalam pesawat, dia duduk sendirian melamun menatap ke arah luar jendela yang ada di sana.


"Keputusan yang aku ambil ini sudah sangat benar. Aku tidak mungkin harus terus tinggal dengan Rhein karena sama saja aku akan menyiksa diriku sendiri. Aku juga berhak bahagia." Hazel mengusap air mata yang menetes pada pipinya.


Dia naik pesawat pribadi milik Renata yang sengaja Renata siapkan untuk Hazel saat Hazel mengatakan ini pergi Meninggalkan negara tempat kelahirannya sekaligus negara yang sudah memberikan semua kenangan manis dan buruk. Hazel ingin pergi ke rumah sahabat mamanya karena siapa tau sahabat mamanya itu orang baik dan mau menerimanya.


Hari itu, Hazel yang baru saja menginjakkan kakinya di negara yang baru dia datangi tampak Hazel melihat suasana yang ada dihadapanya.


"Aku sebaiknya bertanya pada siapa?"


Hazel mencoba menunjukkan alamat yang dia bawa pada supir mobil online yang ada di sana, dan orang itu mengangguk mengetahui alamat yang diminta oleh Hazel.


Hazel tampak senang dan langsung naik ke dalam mobil online itu. Hazel duduk dibangku belakang sambil melihat suasana dari luar jendela kaca mobil itu.


Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti. Hazel yang sangat polos mengira jika dia sudah sampai ke alamat yang dia inginkan, tapi ternyata supir mobil itu meminta Hazel menyerahkan semua uangnya dan barang berharga miliknya.


Hazel yang panik kemudian memberikan tas ransel miliknya, tapi dasar Hazel yang pandai. Dia malah memukulkan tas itu pada tangan supir yang sedang menodongkan senjata ke arahnya.


Supir itu yang terkejut tidak sengaja menekan tombol untuk membuka semua pintu mobil. Hazel yang merasa memiliki kesempatan untuk lari, dia langsung lari dengan cepat.


Hazel berlari ke tempat di mana dia bisa lari tanpa melihat ke arah depan. Hazel akhirnya menabrak motor seseorang yang diletakkan di pinggir jalan.


"Hai! Kamu ini bagaimana? Kenapa berlari tanpa melihat ke depan?"


"Aku minta maaf sama kamu, tapi aku benar-benar ingin menyelamatkan diriku dari orang jahat yang menodongkan pisau padaku karena dia ingin merampokku." Hazel berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Kebetulan orang yang sepeda motornya ditabrak oleh Hazel mengerti ucapan Hazel.


"Kamu baru datang ke sini?" Dia juga membalas ucapan Hazel dengan menggunakan bahasa Inggris. Hazel mengangguk perlahan. Orang itu kemudian melihat keadaan sekitar yang tidak ada orang yang sedang mengejar Hazel. "Sepertinya orang itu sudah tidak mengikuti kamu, dia sudah pergi, jadi kamu tidak perlu khawatir."

__ADS_1


"Tapi aku masih takut karena aku sendiri tidak tau ini di mana?"


__ADS_2