
Ternyata di sana ada seorang pria yang sedang mengamuk dan sebenarnya Rhein juga tidak mau peduli akan hal itu. Namun, kedua mata Rhein menangkap hal yang membuat seketika darahnya mendidih karena dia melihat pria yang sedang mengamuk itu adalah ayah tiri Hazel. Ayah tiri Hazel itu sedang menarik paksa Hazel agar mau ikut dengannya. Para penjaga di sana pun mencoba menangani keributan, tapi di halangi oleh Bill yang tak lain adalah kakak tiri Hazel.
Sean yang ternyata sedang tidak ada di tempat membuat keributan itu semakin besar.
"Rhein, kamu mau ke mana?" Lady mencoba menarik tangan pria yang hampir dalam genggamannya, tapi tiba-tiba pria itu menepis tangan Lady dan berjalan menuju tempat keributan.
"Aku tidak mau ikut dengan kamu, Hugo! Lepaskan tanganku!" teriak Hazel mencoba melepaskan pegangan tangannya.
"Aku membutuhkan kamu untuk membayar semua hutangku, gadis tidak tau diri! Kamu harus ikut pergi denganku karena aku tidak mau mati sia-sia." Pria itu dengan kuat menyeret tangan Hazel.
"Lepaskan dia pria brengsek! Atau aku akan membuat kamu menyesal!" seru Rhein dengan nada marah.
"Rhein."
"Kamu jangan ikut campur. Hazel adalah putriku dan dia harus mau menuruti semua perintahku."
Rhein tidak banyak bicara dia menarik baju pria itu dan Menatapnya tajam. "Kamu benar-benar berani melawanku?" Pria yang di bawah pengaruh minuman keras itu seketika agak takut melihat kemarahan pada wajah Rhein. Dia kemudian melepaskan pegangan tangan Hazel dan Rhein yang sudah tidak tahan ingin menonjok wajah pria itu dengan cepat melayangkan pukulannya sampai pria itu jatuh tersungkur.
"Papa, Papa tidak apa-apa?" Bill melihat kemudian pada Rhein dan saat dia ingin melayangkan pukulannya. Rhein dengan cepat menghindar dan sekarang Rheinlah yang memukulnya. Rhein terlibat baku hantam dengan dua orang itu.
Para penjaga club malam itu yang ingin membantu Rhein, malah tidak diperbolehkan oleh Rhein karena dia ingin bermain-main sejenak dengan dua orang brengsek yang sukanya menyiksa Hazel.
__ADS_1
"Kalian kenapa malah diam saja?" sergah Lady marah dengan beberapa penjaga di sana.
"Nona dengar sendiri kalau Tuan itu tidak mau di bantu."
"Berdiri kalian! Dasar pengecut, kalian cuma berani dengan seorang gadis seperti Hazel."
Dua orang itu tersungkur di atas lantai tidak berdaya. Rhein melihat pada Hazel yang berdiri di sana dengan menangis. Rhein berjalan mendekati Hazel.
"Kamu tidak apa-apa?"
Hazel hanya menggelengkan kepalanya perlahan dengan salah satu tangannya memegang tangan satunya. "Tangan kamu kenapa?" Rhein mencoba memeriksa tangan Hazel, tapi gadis itu seolah tidak mau tangannya di periksa oleh Rhein. "Lihat, tangan kamu, Hazel!" Rhein sangat membenci penolakan, apa lagi ini seorang gadis kecil yang menolaknya.
Rhein tetap memaksa dan akhirnya dia dapat melihat bekas cengkraman pada tangan Hazel. "Brengsek! Pria itu benar-benar kasar.
"Rhein, awas!" Hazel melihat ayah tirinya akan menyerang Rhein dengan menggunakan pisau yang dibawanya. Hazel yang akan menghalangi malah ditarik oleh Rhein sehingga Rhein yang terkena sebetan pisau itu.
"Argh... !" Warna merah seketika merubah lengan kemeja putih yang Rhein pakai.
"Rhein!" Sean yang baru datang dengan cepat menarik tubuh Hugo dan menghajarnya. "Bawa mereka pergi dari sini, dan nanti kalian berdua akan berurusan dengan pihak berwajib."
Para penjaga club malam itu membawa Hugo dan Bill pergi dari sana untuk diamankan. Hazel segera memeriksa tangan Rhein yang terluka akibat terkena pisau.
__ADS_1
"Rhein, sebaiknya kamu ke rumah sakit untuk memeriksakan tangan kamu."
"Aku tidak apa-apa."
"Hazel, sebaiknya kamu pergi saja dari sini karena semua ini salah kamu." Lady tampak marah pada Hazel. Hazel yang merasa bersalah karena menyebabkan Rhein terluka akhirnya pergi dari sana. "Rhein, aku akan mengobati tangan kamu."
"Aku tidak apa-apa, Lady."
"Rhein, tangan kamu harus segera diobati." Sean kemudian menyuruh salah satu anak buahnya mengambilkan kotak obat dan Lady yang akhirnya membalut luka Rhein.
"Rhein, sebaiknya kamu nanti ke rumah sakit karena aku takut jika nanti akan terjadi infeksi pada luka kamu."
"Ini tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja."
Setelah Lady membalut luka Rhein, Rhein izin untuk pulang saja dan beristirahat. Namun, Sean memaksa untuk mengantarkan Rhein ke rumah sakit dan kembali ke apartemennya.
"Aku bukan anak kecil, Sean."
"Aku tau, tapi kamu terluka seperti itu karena salah satu pegawaiku dan di tempatku. Aku harus bertanggung jawab dan kamu jangan membantah, atau aku tidak mau menganggap kamu teman lagi."
Rhein mau tidak mau akhirnya dia menerima tanggung jawab Sean untuk mengantarkan dia ke rumah sakit lebih dahulu sebelum kembali ke apartemenny.
__ADS_1