Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Belanja Berdua


__ADS_3

Hazel melihat terheran di dalam mobil Rhein. Jujur saja dia tidak pernah datang ke butik sebagus ini walaupun dia lama tinggal di kota itu.


"Untuk apa kita ke sini, Tuan?"


Rhein melepas sabuk pengamannya. "Untuk menonton bioskop," jawab Rhein seenaknya.


"Bioskop? Tapi ini bukan gedung bioskop, inikan toko baju yang besar itu."


"Kalau sudah tau, kenapa bertanya? Ayo turun! Aku tidak punya banyak waktu, Gadis Perawan."


Hazel segera melepaskan sabuk pengamannya dan turun dengan masih memegangi celana piyama yang kedodoran.


"Oh my God, Rhein! Kamu tidak pernah datang ke sini, tapi sekalinya datang membuat orang kebingungan saja."


"Pilihkan baju yang pas dengan gadis ini." Rhein mendorong Hazel sampai gadis itu terkejut heran.


Wanita dengan rambut cepak dan make up menornya itu melihat Hazel dari atas ke bawah kembali ke atas lagi.


"Dia pelayan kamu?"


"Pelayan? Nama saya Hazel dan--."


"Bisa tidak bicaranya nanti saja? Kamu carikan saja sekitar sepuluh baju yang sesuai dengan gadis ini, Laia. Aku tidak punya banyak waktu karena aku harus pergi ke kantor."


"Huft! Dia tidak perlu di make over, kan?"


"Tidak perlu karena dia sudah cantik, dia tidak butuh di make over," celetuk Rhein yang membuat Hazel tampak tertegun dengan ucapan pria yang sudah menjadi pahlawannya.


"Ayo ikut aku." Jari wanita itu mencubit baju Hazel seolah dia sedang menjinjing benda yang kotor.


Hazel diajak ke tempat yang penuh dengan pakaian khusus wanita. Gadis polos itu tampak menganga melihat yang ada di dalam sana.


"Ini pakaian semua?"


"Tentu saja. Apa kamu tidak pernah melihat pakaian bagus seperti ini?"


"Yang aku tau pakaian biasa yang sering aku pakai. Celana jeans dan t-shirt."


"Huft! Pakaian orang miskin," ejeknya pelan.


"Aku bukan orang miskin, hanya saja aku memang tidak suka dengan hal yang mencolok."


"Alasan. Aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa kamu membuat seorang Rhein berani mengganggu tidur pagiku hanya untuk mencarikan baju untuk kamu?" Wanita bernama Laia ini sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku tidak meminta Tuan Rhein membelikan aku baju," terang Hazel lirih.


"Huft! Katakan, berapa berat badan, tinggi dan apa warna kesukaan kamu?"


"Em ...!" Hazel tampak berpikir.


"Lama." Wanita itu berjalan dengan gaya ala catwalknya. Dia menuju arah lemari kaca besar dengan baju yang masih berada di dalam plastik besar.


Tangannya dengan luwes mengambil beberapa baju di sana, dan kembali menuju arah Hazel yang masih berdiri memperhatikan wanita itu.


"Coba ini semua." Wanita itu langsung memberikan sekitar lima baju pada Hazel.


"Semua ini? Aku cuma butuh satu baju saja, nanti aku akan ambil di flatku."


"Flat? Oh my God! Coba saja sana, kamu jangan membuat kepalaku tambah pusing." Tangan Laia mendorong tubuh Hazel agar masuk ke ruang ganti.


Hazel yang tidak mau tambah membuat wanita cantik, tapi tidak bersahabat itu tambah mengeluh, mau tidak mau dia pergi ke ruang ganti.


Rhein yang sejak tadi melihati jam tangannya tampak gusar menunggu gadis yang dia antar membeli baju.


"Lama sekali! Dia hanya aku suruh memilih baju dan berganti sebentar. dia tidak perlu mencoba semuanya."


Rhein yang kesal menunggu lama, akhirnya berjalan menuju ruangan di mana Hazel sedang berganti baju.


"Sebentar, aku masih menaikkan resletingnya."


Rhein masuk ke sana dan dia hanya melihat Laia sedang berdiri memegang beberapa baju yang tadi dia pilihkan.


"Rhein?"


"Mana dia?" Wajah Rhein tampak kesal.


"Dia masih di dalam ruang ganti." Telunjuk Laia menunjuk ke arah ruangan di sampingnya.


"Hazel, buka pintunya." Rhein mengetuk pintunya dengan agak keras.


"Sebentar, Tuan," jawab Hazel dari dalam.


"Kamu itu sedang apa? Kenapa lama sekali?" suara Rhein terdengar kesal.


"Ini resletingnya susah naiknya."


"Buka pintunya, biar aku membantu kamu."

__ADS_1


"Apa? Tidak mau!"


"Hazel! Kamu jangan membuat aku marah! Kalau kamu tidak membuka pintunya dan membuat aku terlambat datang ke acara rapat. Aku pastikan kamu menyesal pernah mengenalku," ancam Rhein yang jelas saja membuat Hazel ketakutan.


Pintu dengan cepat dibuka oleh Hazel, dan gadis itu berdiri dengan tidak nyaman karena resleting bajunya belum terpasang sempurna sehingga punggungnya masih bisa terlihat.


Rhein melihat punggung Hazel dari pantulan cermin. Punggung Hazel terlihat putih mulus dan ada tali bra berwarna hitam.


"Tuan, saya belum selesai memakai bajunya."


Rhein tidak menjawab, dia malah membalikkan tubuh Hazel dan tangannya menaikkan resleting baju Hazel, membuat gadis itu tampak menahan napas beberapa detik.


"Sudah selesai dan sekarang ikut denganku." Tangan Rhein menggandeng tangan Hazel. "Laia, masukkan semua baju Hazel dan kirim jumlah uang yang harus aku bayar."


"Okay, tampan." Wanita itu tampak tersenyum. Dia dengan cepat memanggil asistennya untuk memasukkan baju yang Rhein beli ke dalam mobilnya.


Hazel duduk terdiam di dalam mobil Rhein. Dia tidak berani menatap pria yang sedang serius mengemudi mobilnya.


Beberapa menit kemudian, Rhein sampai di kantornya. "Tuan, kenapa membawaku ke kantor kamu?"


"Apa aku harus menurunkan kamu ke tepi jalan. Sebaiknya kamu diam saja dan jangan bicara jika tidak aku izinkan."


Hazel hanya mengangguk dan mereka naik ke lantai atas. Beberapa karyawan inti di sana yang sudah datang melihat ke arah Rhein yang saat itu datang masih dengan baju piyamanya.


Rhein naik ke lantai paling atas kantornya dan dia masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Hazel.


"Darren, ke ruanganku sekarang." Rhein sudah menghubungi Darren agar datang lebih cepat darinya, kalau tidak bisa datang duluan dari pada Rhein, Darren bisa-bisa kehilangan separuh gajinya.


"Baik, Pak, saya segera ke sana."


Hazel memperhatikan ruangan Rhein, tapi tiba-tiba dia kaget saat tangan Rhein menariknya dan mengajaknya masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di dalam ruangan kerja Rhein.


Hazel melihat ruangan itu lebih mirip kamar tidur dengan di dominasi warna putih. Sangat bersih dan rapi, apa lagi sangat harum.


"Hazel, siapkan kemejaku dan letakkan di atas tempat tidur. Aku mau mandi dulu."


Rhein masuk ke dalam kamar mandi yang ada di sana. Hazel tampak bingung, kedua matanya mengedip beberapa kali.


Dia kemudian mencari lemari baju dan membukanya. Di sana berjejer rapi berbagai macam warna kemeja lengkap dengan suitnya.


"Tuan Rhein mau pakai kemeja warna apa? Aku tidak pernah memilihkan baju untuk seseorang, apa lagi seorang pria." Hazel berpikir sejenak, lalu dia mengambil kemeja berwarna putih dan suit serta celana berwarna grey.


"Dasi, biasanya orang bekerja di kantor memakai dasi." Hazel mengambil dasi berwarna grey juga. Hazel meletakkan di atas tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2