Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Cemburu part 1


__ADS_3

Malam itu Hazel yang sudah sampai di rumah dari tadi bersama Orlaf langsung berpamitan sama Orlaf dia ingin segera tidur. Hazel juga menyuruh Orlaf untuk segera tidur agar besok pagi dia lebih segar menghadapi pertandingan.


Hazel di dalam kamarnya tampak menangis dengan menutup separuh wajahnya dengan selimut.


"Ini memang yang aku mau, aku mau melupakan Rhein. Aku mau yang aku ingat tentangnya hanyalah rasa sakit.


"Dia akan menikah dengan Dinda dan aku dengan Orlaf. Dinda gadis yang baik dan semoga Rhein tidak menyakitinya."


Hazel kembali menyembunyikan suara tangisnya dibalik selimut putih tebal miliknya.


Saat sedang menangis, tiba-tiba Hazel terkejut ada sebuah tangan memelukmu dari belakang dan ceruk leher Hazel terasa hangat karena kecupan seseorang.


"Kak Rhein, apa yang kamu lakukan di sini? Dan bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"


Hazel yang mau menoleh tidak bisa karena kepalanya ditahan oleh kepala Rhein. Jadi, Hazel hanya bisa berbaring dengan miring.


"Kamu lupa jika di sini adalah rumahku? Dan aku pasti memiliki semua kunci cadangan setiap ruangan yang ada di sini.


"Kak Rhein, jangan seperti ini."


"Apa yang sedang kamu tangisi, Hazel?" tanya Rhein masih dengan tetap memeluk Hazel dari belakangan. Posisi ini adalah posisi yang sangat Rhein sukai.


"Siapa yang menangis? Aku tidak sedang menangis."


"Jangan bohong, Hazel. Aku tau kalau kamu baru saja menangis."


"Jangan sok tau, Kak Rhein."


"Damn! Aku sangat membenci kamu memanggilku itu. Dengar ya, Hazel! Jangan memanggilku dengan sebutan kakak lagi atau aku akan membuat kamu menyesal memanggilku dengan sebutan itu."


"Kamu memang akan menjadi kakak iparku, Kak Rhein."


Hazel ini seolah sedang memancing sang Casanova. Dia mungkin ingin tau apa yang bisa Rhein lakukan jika dia tetap memanggilnya kakak.


"Kamu tidak berubah, suka sekali menentangku."


Rhein membalikkan tubuh Hazel menghadap ke arahnya dan sekarang Rhein tepat berada di atas tubuh Hazel.


"Kamu mau apa, Rhein?"


"Mau membuat kamu agar jera dan tidak memanggilku dengan sebutan Kak Rhein."


"Rhein, jangan berbuat hal yang bisa membuat kita dalam masalah. Sebaiknya kamu pergi dari sini atau aku akan berteriak."

__ADS_1


"Teriak saja, malahan hal itu yang aku tunggu. Jika kamu berteriak dan mereka datang ke sini, maka akan dengan mudah mereka tau tentang apa yang terjadi dengan kita."


"Rhein, apa yang kamu inginkan? Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Bukannya kamu sudah mendapatkan gadis yang akan bersamamu dan aku akan bahagia dengan Orlaf."


"Siapa maksud kamu? Dinda? Kamu cemburu dengannya?"


"Cemburu? Siapa yang cemburu? Aku bahkan tidak peduli dengan hal itu. Aku ikut senang jika kamu akan mau serius dengan seseorang."


"Kamu membohongi diri kamu sendiri Hazel. Kamu cemburu dan ada sakit di hati kamu."


"Tidak ada, Kak Rhein, aku tidak cemburu."


"Kak Rhein ... Kak Rhein. Kamu benar-benar membuatku kesal."


Rhein mengecupi leher Hazel, dan Hazel yang merasa kegelian mencoba mendorong Tubuh Rhein.


"Hentikan, Rhein." Hazel mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar dari luar.


"Panggil aku Rhein."


"Tidak mau."


"Akan aku buat tanda merah besar pada leher indah kamu ini agar tidak dilihat oleh adikku itu."


"Baiklah, aku menyerah. Aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan kakak lagi."


Hazel terdiam di tempatnya. "Rhein, apa kamu mau tidur di kamarku?"


"Hem!" Rhein berdehem dengan mata yang sudah tertutup.


"Kalau ada yang tau bagaimana? Kita akan menjadi orang yang paling jahat yang akan melukai hati semua orang terutama Orlaf."


"Tidak akan ada yang tau akan hal ini Hazel. Sekarang kamu tidur saja. Aku sudah mengantuk."


Rhein malah mengeratkan pelukannya. Hazel hanya bisa menghela napasnya pelan. Dia bingung harus bagaimana sekarang?


"Rhein, kenapa kamu malah membuat aku sulit untuk melupakan kamu," Hazel berdialog dengan pelan.


***


Pagi itu Hazel terkejut karena pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Hazel yang ingat semalam dia tidur dengan Rhein, Hazel mencari di mana Rhein,tapi ternyata Rhein sudah tidak ada di sana. Perasaan Hazel sedikit lega saat mengetahui Rhein sudah pergi dari kamarnya, tapi apa tidak ada yang tahu saat dia keluar dari kamarnya?


Hazel membuka pintu kamarnya dan ternyata ada tante Kei berdiri di depan kamar Hazel.

__ADS_1


"Tante Kei, ada apa?"


"Tante hanya ingin membangunkan kami, Sayang, kamu katanya mau melihat Orlaf bertanding basket."


"Iya, aku ingin melihat Orlaf bertanding basket. Apa Orlaf sudah berangkat, Tante Kei?"


"Iya, dia tadi pagi sekali sudah berangkat, tapi dia tidak mau membangunkan kamu, katanya dia tidak ingin mengganggu tidurmu, Sayang."


'Ya sudah! Kalau begitu aku mau bersiap-siap dulu. Terima kasih Tante sudah mau membangunkan aku "


"Aku tadi juga mengetuk pintu kmara Rhein, tapi sepertinya dia masih tertidur. Anak itu kalau tertidur memang benar-benar susah dibangunkan."


"Kalau begitu biar nanti aku yang membangunkan dia."


"Ya sudah, kamu bersiap-siaplah."


Wanita cantik itu keluar dari kamar Hazel dan Hazel segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Hazel keluar dari kamar mandi dan dia segera menuju lemari bajunya. Hazel dengan seenaknya melepaskan handuk yang menutupi bagian dada sampai atas lututnya dengan seenaknya.


"Masih indah seperti dulu," suara seseorang terdengar di sana.


Hazel yang berdiri di samping cermin besarnya tampak mendelik dan dia melihat dari pantulan kaca cerminnya ada sosok pria yang semalam tidur dengannya.


"Rhein?" Hazel mencoba meraih handuk mandinya yang terjatuh di bawah, tapi gerakannya kalah cepat dengan gerakan Rhein.


Rhein lebih dulu mengambil handuk itu dan tidak mau memberikan pada Hazel.


Hazel yang tidak menyerah dia mengambil selimut yang ada di tempat tidur. Rhein yang mengetahuinya juga ingin menghalangi niat Hazel, tapi kali ini dia kalah cepat dari Hazel.


Hazel berhasil menutupi tubuhnya dengan selimut itu, bahkan sampai batas kepala.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Rhein? Bukannya kamu sudah keluar dari kamarku, tadi?"


"Aku masih berada di sini dan aku mendengar mommyku mengetuk pintu. Jadi aku tadi bersembunyi di bawah tempat tidurmu."


"Aku tadi mengira kamu sudah keluar dari kamarku. Kalau begitu kamu sekarang keluar saja dari kamarku karena aku mau berganti baju."


"Kenapa harus keluar? Kamu berganti baju saja. Lagi pula aku tidak akan melihatnya."


"Tidak mau, Rhein, kamu keluar dari kamarku. Aku malu harus ganti baju jika ada kamu di sini."


Rhein berdiri dan berjalan mendekati Hazel. Hazel yang berselimut Handuk tampak mundur karena dia takut dengan Rhein.

__ADS_1


"Kamu tadi bilang malu karena aku lihat? Apa tidak salah? Aku bahkan masih mengenali setiap tanda lahir yang ada di bagian tubuh kamu, Hazel."


"Cukup Rhein! Aku tidak mau membahas hal itu lagi."


__ADS_2