
Rhein sampai di depan rumahnya. Penjaga gerbang membuka pintu dan Rhein masuk ke dalam rumahnya. Rhein melihat di dalam rumahnya sudah gelap dan sepi, sepertinya orang-orang di rumah Rhein sudah tidur.
Rhein segera naik ke atas lantainya dan saat dia mau masuk ke dalam kamarnya. Rhein berpapasan dengan sosok gadis yang dia cintai.
Hazel yang keluar dari kamarnya karena ingin mengambil air minum malah berpapasan dengan pria yang ingin dia hindari.
Namun, kali ini saat dia melihat Rhein pulang dengan keadaan wajah memar, dan ada darah juga di sekitar wajah Rhein. Ada perasaan cemas yang di rasakan oleh Hazel.
Rhein hanya melihat Hazel sekilas, lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Hazel tampak bingung. Hatinya berperang dengan keras. Dia ingin tidak peduli dengan keadaan Rhein, tapi hatinya seolah berkata lain.
Hazel masuk ke dalam kamar Rhein. Dia melihat pria itu sedang menuangkan cairan di atas kapas dan mengoleskannya pada dahinya yang ada darahnya.
"****! Perih sekali!" umpatnya kesal.
"Sini, aku bantu oleskan pada dahimu, Kak Rhein." Hazel melihat Rhein kesulitan mengoleskan pada dahinya.
Dia mengambil kapas baru dan menuangkan cairan pada kapas itu. Hazel mengoleskan pada dahi Rhein.
Rhein memejamkan kedua matanya menahan perihnya. "Kamu bertengkar dengan siapa, Kak Rhein?"
"Bisa tidak kamu memanggilku tanpa ada kata Kak? Aku tidak suka mendengarnya. Kamu belum menjadi adik iparku, Hazel."
"Mulai sekarang aku akan membiasakan diriku memanggilmu Kak Rhein."
Rhein menatap wajah Hazel yang sedang membersihkan darah pada luka Rhein.
"Kenapa kamu masuk ke sini? Apa kamu tidak takut orang rumahku curiga dengan kita?"
"Memangnya apa yang kita lakukan? Aku hanya menolong kakak iparku yang pulang dengan keadaan wajah babak belur. Tidak ada salahnya, Kan?"
"Kakak ipar? Hazel, aku belum menjadi kakak iparmu. Lagi pula aku adalah satu-satunya orang di sini yang tidak setuju kamu menikah dengan Orlaf."
"Kenapa? Apa aku tidak cocok dengan Orlaf?"
"Karena kamu tidak mencintai Orlaf, dan hal itu sama saja kamu sudah membohongi perasaanmu dan Orlaf."
Hazel terdiam di tempatnya. Dia menata Rhein datar. "Aku akan belajar mencintai Orlaf. Suatu saat nanti aku pasti akan bisa jatuh cinta dengan pria sebaik Orlaf."
"Apa kamu yakin?" Jemari Rhein membelai perlahan wajah Hazel.
Hazel kesal sekali dengan pria di depannya ini. Kenapa sentuhan kecil pria ini bisa membuatnya ingin menangis. Jujur saja jika Hazel menyukai sentuhan Rhein.
"Kak Rhein, luka kamu sudah selesai aku bersihkan. Aku mau mengambil air minum dulu." Hazel berdiri dari tempatnya.
__ADS_1
"Hazel," panggil Rhein dan dia juga berdiri dari tempatnya.
"Ada apa, Kak Rhein?"
"Katakan padaku, Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak memanggilku Kak Rhein lagi? Panggilan itu benar-benar membuat telingaku sakit."
"Tidak ada yang bisa kamu lakukan."
Rhein mendekatkan bibirnya pada telinga Hazel. Detak jantung Hazel tiba-tiba berdetak dengan cepat.
"Panggil saja namaku Rhein, seperti saat kamu memanggilku waktu malam indah yang kita nikmati berdua. Aku suka suaramu memanggil namaku malam itu."
Hazel mendorong tubuh Rhein menjauh darinya. "Aku tidak ingat dengan malam itu, bahkan aku berharap malam itu tidak akan pernah terjadi."
Hazel berjalan pergi dari sana. Dia langsung menuju ke lantai bawah untuk mengambil minuman sekaligus menangis.
"Aku membencimu, Rhein, sangat membencimu." Hazel membuka wastafel dan mencuci mukanya agar tidak ketahuan dia menangis.
***
Keesokan harinya, semua sudah berkumpul makan pagi, kecuali Rhein. Dia belum turun dari kamarnya.
"Bi, tolong panggilkan tuan muda Rhein. Dia semalam sudah pulang, kan? Aku melihat ada mobilnya di luar."
"Iya, ada mobil tuan muda Rhein di luar."
"Mom! Biar aku saja yang panggilkan dia." Orlaf segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju anak tangga, dia naik ke lantai atas kamarnya Rhein.
Orlaf mengetuk pintu kamar Rhein beberapa kali, tapi dia tidak mendapat jawaban.
"Rhein, bangun! Kamu ditunggu seorang wanita di bawah. Dia bilang ingin bertemu denganmu."
"Seketika pintu langsung dibuka dari dalam. "Siapa, Orlaf?" tanya Rhein kaget.
Orlaf malah tertawa melihat Rhein yang takut akan hal itu. "Kamu takut, ya? Tumben sekali? Biasanya kamu biasa saja kalau ada seorang wanita yang mencarimu di rumah, tapi sekarang kenapa kamu terlihat takut begitu?"
"Dasar Nakal! Aku kira ada wanita benaran yang mencariku. Aku itu sedang menghindari para wanita karena aku sudah bosan dengan mereka." Rhein menggaruk-garuk rambutnya.
Rhein itu takut bukan karena para wanita itu, tapi dia takut Renata yang datang atau wanita lainnya yang nantinya bisa membuat Hazel tidak percaya jika dia benaran ingin berubah.
"Kamu ditunggu yang lainnya makan pagi, Rhein. Eh, tunggu sebentar." Orlaf mendekatkan wajahnya melihat lebih dekat wajah Rhein. "Wajah kamu kenapa, Kak?"
Rhein baru ingat jika dia sengaja tidak mau turun agar luka di wajahnya tidak diketahui orang rumahnya, terutama mommynya, tapi gara-gara kebohongan Orlaf, Rhein jadi ketahuan.
__ADS_1
"Wajahku tidak apa-apa. Sebaiknya kamu kembali ke meja makan, dan bilang pada mommy kalau aku tidak makan pagi kali ini."
"Mom ...! Ke sinilah cepat! Lihat apa yang terjadi dengan Rhein!" teriak Orlaf.
"Hei! Anak nakal! Kenapa kamu malah memanggil mommy?" Orlaf langsung dipiting oleh Rhein. Mereka berdua sekarang saling bercanda.
"Orlaf, Rhein! Kalian ini sedang apa? Dan tadi kenapa kamu berteriak memanggil mommy?"
"Lihat wajah, Rhein, Mom. Wajah tampannya babak belur."
"Apa?" Kei melihat pada putranya yang membuang muka tidak mau memperlihatkan wajahnya. "Rhein, perlihatkan wajahmu pada mommy."
"Oh God! Aku tidak apa-apa, Mom."
"Rhein! Mommy ingin melihatnya," ucapnya tegas.
Rhein menghela napasnya panjang dan menoleh ke arah mommynya. Wanita cantik itu tampak terkejut dan memeriksa wajah putranya. "Ini kenapa Rhein? Siapa yang memukuli kamu, Rhein?"
"Sudah aku bereskan, Mom. Dia hanya salah paham tentang suatu masalah."
"Masalah apa?"
"Masalah tidak penting, Mom. Sudahlah! Mommy tidak perlu memikirkan hal itu."
"Rhein, jangan berbuat hal yang bisa membahayakan diri kamu."
"Pasti kamu bertengkar dengan seseorang karena merebutkan seorang wanita, Ya?" tanya Orlaf.
"Enak saja, sejak kapan aku merebutkan seorang wanita? Mereka malah yang merebutkan aku."
"Ada apa, Kei? Kenapa kalian semua malah berada di sini? Aku dan Hazel menunggu kalian sarapan pagi."
"Adrian, Rhein wajahnya babak belur karena bertengkar dengan seseorang."
"Mana lihat?" Adrian memegang dagu Rhein dan memeriksa wajah putranya itu.
"Aku tidak apa-apa, Dad."
"Siapa yang melakukan ini sama kamu? Berani sekali dia melukai putraku." Kedua rahang pria tinggi besar itu mengeras menahan marah.
"Sudahlah, Dad, aku baik-baik saja dan biarkan aku yang menyelesaikannya.
"Nak, bisa tidak kamu jangan melakukan hal yang membuat wanita cantik yang adalah mommynya sekaligus istri Daddy ini tidak khawatir dan selalu cemas memikirkan kamu?"
__ADS_1
Rhein menatap datar daddynya. Rhein tau jika dia sudah membuat kedua orang tuanya, terutama mommynya selalu memikirkan tentang kehidupannya yang sangat bebas dan semaunya.
"Iya, Dad, aku minta maaf," ucap Rhein terdengar menyesal. Rhein juga sebenarnya sangat menyayangi kedua orang tuanya, terutama mommynya, tapi Rhein memang tidak suka terlalu diatur hidupnya.