Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Rencana Untuk Rhein


__ADS_3

Pria tinggi besar dengan wajah tegasnya itu tau kenapa putranya bisa mendapat luka seperti itu. Luka itu didapat oleh Rhein pasti karena masalah yang menyangkut seorang wanita karena dulu Rhein juga pernah hampir dimasukkan ke dalam penjara akibat bertengkar dengan beberapa orang di club malam sebab Rhein terlihat berciuman dengan istri seseorang.


Rhein tidak tau jika wanita yang mendekatinya sekaligus ingin bekerja sama dengan perusahaannya masih memiliki ikatan pernikahan.


Rhein menang dalam perkelahian itu, tapi dia melukai pria yang adalah suami teman kencannya dengan memukul kepala pria itu dengan boy minuman karena pria itu membawa pisau yang hampir menusuk perut Rhein.


"Sayang, mommy akan membawamu ke rumah sakit untuk memeriksakan lukamu itu"


"Mom, aku tidak apa-apa. Nanti ini juga akan ssmbuh sendiri. Lagi pula sudah diobati."


"Siapa yang mengobati? Kamu?"


"Hazel."


Hazel yang ikut di sana agak kaget, ini kenapa Rhein malah mengatakan jika dirinya yang sudah mengobati?


"Hazel? Jadi, kamu sudah tau jika Rhein semalam pulang dengan wajah seperti ini?" tanya mommy Kei?"


"Aku tidak sengaja mau mengambil air minum, dan berpapasan dengan Kak Rhein. Aku melihat wajahnya seperti itu dan aku mengambilkan kotak obat untuk membantu mengobati lukanya."


"Kenapa kamu tidak membangunkan Tante, Sayang?"


"A-aku--?" Hazel jadi bingung mau menjawab apa?


"Aku yang meminta Hazel agar tidak bicara dengan Mommy. Aku tidak mau kalian khawatir. Mom, ini nanti sembuh, aku tidak mau ke rumah sakit."


"Ya sudah kalau kamu tidak mau ke rumah sakit. Kalau begitu kamu turun dan ikut makan bersama."


"Iya, Dad."


Mereka turun semua ke lantai bawah. Rhein pun ikut turun dengan mereka.


Kei melihat putranya tidak terlalu tertarik untuk makan. Rhein hanya menyendokkan sedikit demi sedikit makanannya.


"Rhein, apa mau ganti menu makanan kamu?"


"Apa, Mom?" Rhein tidak fokus diajak wanita itu untuk bicara.

__ADS_1


"Kenapa kamu seperti tidak selera begitu dengan makanan kamu?"


"Aku sedang tidak lapar," jawab Rhein malas.


"Dia sedang terlibat masalah asmara sepertinya, Mom," celetuk Orlaf.


"Jangan sok tau kamu."


"Rhein, sebenarnya apa maksud kamu datang ke sini? Apa ini soal pekerjaan kamu?"


Rhein melihat pada daddynya, dia bingung harus mengatakan apa? Rhein datang ke sini, kan, bukan karena pekerjaan. Dia datang ke sini karena dia mencari gadis yang sudah membuatnya hampir gila karena merindukannya, tapi ternyata gadis itu malah membuatnya patah hati dengan akan bertunangan dengan adik kandungnya sendiri.


"Rhein, kenapa kamu diam? Daddy sedang bicara dengan kamu."


"Aku memang ke sini karena pekerjaan, Dad, dan juga ada urusan lainnya yang tidak bisa aku ceritakan pada Daddy.


"Urusan apa yang tidak bisa kamu ceritakan pada Daddy?"


Rhein sekali lagi terdiam sejenak, dia mencari jawaban apa atas pertanyaan ayahnya.


"Mencari wanita berkelas yang bisa dia ajak bekerja sama sekaligus jalan berdua. Iya, kan, kakakku?" jawab Orlaf seenaknya.


"Iya, Dad."


"Rhein, berhentilah bermain-main dengan mereka."


"Adrian, sebaiknya kita selesaikan makan paginya dan nanti aku yang akan bicara pada putraku." Keiko melihat pada putra kedua yang selalu menjadi pikirannya.


"Kalau begitu aku dan Hazel pergi ke kampus dulu karena kami tidak mau terlambat. Hazel, kita pergi sekarang." Tangan Orlaf menggandeng tangan Hazel. Hazel tampak tersenyum pada Orlaf dan mereka berpamitan pada kedua orang tua Rhein.


Rhein terdiam melihat Hazel yang tangannya di gandeng oleh Orlaf berjalan keluar dari dalam rumah.


Ada pisau besar yang sepertinya sedang menebas dada Rhein. Sakit, tapi sakitnya kali ini tidak mengeluarkan darah.


"Nak, apa kamu tidak ingin suatu saat memiliki keluarga seperti kakakmu? Dan sebentar lagi Orlaf akan menikah dan memiliki keluarga juga."


"Aku juga ingin seperti dua anak kesayangan Daddy itu."

__ADS_1


"Rhein, Daddy juga sangat menyayangimu, hanya saja kamu dan Daddy selalu saja berseberangan, tapi Daddy tidak membencimu karena Daddy tau jika setiap orang memilki sifat masing-masing."


"Sayang, apa mau mommy bantu carikan calon istri untuk kamu?"


"Ck! Tidak perlu, Mom. Aku bisa mencari calon istriku sendiri. Mommy tidak perlu membantu mencarikannya."


"Usia kamu sudah tidak pantas untuk memikirkan bersenang-senang terus, Rhein, kamu juga harus memikirkan untuk memiliki keluarga kecil sendiri. Mommy yakin, jika kamu memiliki keluarga hidup kamu akan lebih bahagia. Lihat saja kakakmu."


"Itu karena Akira menikah dengan gadis yang dicintainya."


"Memangnya kamu tidak memiliki gadis yang kamu cintai? Selain, Nala. Lalu, gadis yang sedang kamu cari waktu bicara dengan mommy dulu, yang kamu bilang dia masa depanmu, apa kamu sudah menemukannya?"


Rhein menatap mommynya datar. "Dia akan menikah dengan pria lain dan lagi-lagi aku kehilangan wanita yang aku cintai."


Rhein berdiri dari tempatnya dan berjalan pergi dari sana.


Kei terkejut melihat sikap Rhein. Dia melihat pada suaminya.


"Apa putraku sedang terkena karma karena suka sekali mempermainkan hati banyak wanita?"


"Sepertinya. Itu semua memang kesalahannya, Kei."


"Tapi aku kasihan dengan Rhein kalau begini. Dulu dia benar-benar serius dengan Nala, tapi Nala ternyata istri Akira, dan sekarang entah siapa gsdis yang dia cintai dan membuat putraku menjadi berubah aneh begini."


"Mungkin sebaiknya kamu mengenalkan putramu dengan seseorang karena mungkin hal itu dapat membuatnya tidak sakit hati lagi dan akhirnya memilih benar-benar menjauh dari kita."


"Tapi kalau dia tidak mau dan malah berbuat hal yang menyakiti hati gadis itu, bagaimana?"


Adrian ayah Rhein tampak berpikir sejenak. "Kita coba saja dulu, siapa tau jika gadis itu cantik dan sesuai kriteria Rhein, dia pasti akan mau menerimanya.


"Aku akan coba kenalkan Rhein pada anak dari temanku, dan dia baru saja lulus kuliah di bidang bisnis. Dia gadis yang baik dan pandai memasak. Aku harap Rhein akan mau menerima gadis itu."


"Kamu sudah pernah bertemu dengannya?"


Kei menganggukkan kepalanya. "Dia gadis yang manis dan sangat sopan. Dia hampir mirip seperti Nala, dan Rhein pasti akan menyukainya." Keiko terlihat sangat bersemangat untuk segera mengenalkan gadis itu dengan Rhein.


"Kalau begitu, kamu segera rencanakan untuk acara pertemuan mereka, dan kalau bisa Rhein menikah lebih dulu dengan gadis itu, sehingga dia tidak perlu didahului oleh adiknya."

__ADS_1


"Sayang! Jangan terburu-buru begitu. Kamu tau siapa Rhein, Kan? Rhein tidak suka dipaksa akan suatu hal. Biar aku perlahan-lahan mengenalkan Rhein dengan gadis itu. Ini saja aku bingung alasan apa sama Rhein kalau besok mau aku perkenalkan dia dengan gadis itu." Wanita cantik itu tampak berpikir.


Adrian juga jadi ikut berpikir kalau begini ini. Mereka berdua saling melihat satu sama lain.


__ADS_2