
Rhein tidak melepaskan ciumannya pada bibir Hazel. Dia mengecupi Hazel sampai gadis itu terbaring dengan tubuh polos. Rhein menuruni bagian leher Hazel dan memberi beberapa tanda merah pada lehernya.
Hazel mengeluarkan suara yang Rhein tunggu dari tadi. "Lepaskan saja, Hazel. Buat dirimu menikmatinya, dan aku akan membuat kamu melupakan segala kesedihanmu." Rhein melepas celananya dengan kembali mengecup bibir Hazel.
Saat pertahanan Hazel sudah dibuka oleh Rhein. Entah kenapa ada perasaan lega pada diri Hazel. Dia menatap pria yang tepat berada di atasnya.
"Rhein," panggilanya dengan suara parau.
Rhein tampak tersenyum dan mulai menggerakkan tubuhnya.
Malam itu Rhein sudah mengambil gelar gadis perawan milik Hazel. Rhein seolah lupa jika Hazel bukanlah tipe wanita yang ingin dia tiduri, tapi saat tadi melihat Hazel. Entah kenapa dia sangat menginginkan gadis itu?
Hazel terlihat kelelahan setelah beberapa kali dia bercinta dengan Rhein.
Hazel tidur dan Rhein menutup tubuh mereka dengan selimut, tidak lupa dia mendekap erat tubuh yang baru saja membuatnya melayang sampai lapisan langit paling tinggi.
__ADS_1
Keesokan harinya. Rhein yang sudah terbangun melihat pada Hazel yang masih tertidur nyenyak di sampingnya.
Rhein memandangi wajah gadis itu. "Oh ****! Apa yang sudah aku lakukan dengan gadis ini? Bagaimana jika dia menangis tidak mau berhenti nanti?" Rhein tampak bingung, tapi tidak lama dia tersenyum melihat wajah Hazel yang baginya seperti anak kecil. Ada kelegaan dan rasa kemenangan dalam hati Rhein karena dia orang pertama yang sudah menyentuh Hazel.
Hazel menggeliat perlahan. Rhein yang di sana bersiap-siap dia akan pura-pura masih tidur jika Hazel terbangun.
"Rhein, sepertinya aku jatuh cinta padamu," celetuk Hazel yang sepertinya dia sedang bermimpi.
Rhein yang mendengarnya terkejut dengan apa yang Hazel katakan, walaupun itu hanya mimpi, tapi biasanya hal itu lah yang memang sedang Hazel rasakan.
"Dia jatuh cinta padaku?" Rhein terdiam sejenak.
Beberapa jam kemudian, Hazel terbangun karena suara alarm pada ponselnya. Hazel melihat ke sekitar ruangan itu dan ternyata ruangan itu hanya ada dia dengan tubuh yang masih polos tertutup selimut.
"Rhein ke mana?" Hazel melihat ke arah jam dan ternyata sudah pukul sepuluh pagi. "Rhein pasti sudah pergi ke kantornya dan aku tidak menyiapkan makan pagi untuknya.
__ADS_1
Hazel yang melamun teringat kejadian kemarin malam membuatnya sedikit sedih, tapi entah kenapa dia merasa juga lega karena dia melakukan dengan pria yang membuatnya jatuh cinta, tapi juga pria yang dari awal tidak pernah ada dalam tipe idamannya.
"Aku ini kenapa? Kenapa aku malah menyukai Rhein?" Dia menekuk kedua lututnya dan memeluknya erat.
Hazel memikirkan bagaimana dengan hidupnya setelah ini. Rhein tidak mungkin mencintainya. Siapa dia memangnya? Rhein sering melakukan bercinta dengan banyak wanita tanpa ada cinta yang sungguh dia rasakan dan mungkin para wanita itu juga hanya ingin Rhein bersenang-senang dengannya.
"Hazel, kenapa bodoh sekali? Kenapa harus langsung terlena dengan pria yang baru beberapa bulan dikenal?"
Hazel kembali berpikir indah. Siapa tau Rhein menyukainya karena Rhein pernah mengatakan dirinya lebih berharga dari apapun.
Hazel kemudian memilih membersihkan dirinya saja, dan menyiapkan makan siang untuk Rhein karena siapa tau Rhein akan pulang makan siang setelah apa yang terjadi antara mereka berdua.
Jarum jam menunjukkan pukul tiga sore dan tidak ada tanda-tanda Rhein untuk pulang, bahkan menelepon pun tidak.
Hazel mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Rhein, tapi tidak ada tanggapan dari si punya telepon.
__ADS_1
Sampai akhirnya pukul delapan malam dan Hazel masih belum mendapat kabar dari Rhein.
"Apa dia sedang ada pekerjaan tambahan di kantornya? Kenapa dia tidak memberitahuku kalau tidak bisa pulang?" Hanya itu yang saat ini bisa Hazel lakukan.