
Hazel tidak mau memberitahu Sean tentang apa yang terjadi padanya. Hazel memilih kembali ke dalam untuk mengambilkan minuman pengganti.
"Apa wajahku terlihat bekas pukulannya?" Hazel berkaca dan mencoba memoles pipinya dengan bedak yang dia bawa agar tidak terlihat.
Hazel kembali keluar dan menuju meja di mana tadi dia menumpahkan minuman pelanggannya.
Sean yang berdiri di dekat meja bartendernya tampak memperhatikan Hazel.
"Sebenarnya dia gadis yang rajin dan terlihat bertanggung jawab, tapi dia juga sepertinya gadis yang bermasalah." Sean memilih pergi dari sana dan membiarkan Hazel bekerja dengan baik.
Hari semakin menuju angka dua belas malam. Terdengar suara alunan musik yang semaki keras dan menghentak. Keadaan di sana juga gelap dan hanya terlihat sedikit cahaya dari sinar lampu berwarna-warni. Tepat di tengah ruangan yang di kelilingi oleh banyak orang tampak beberapa wanita dengan baju ala bikininya sedang menikmati tarian yang mereka memang suguhkan bagi pengunjung club malam yang hadir di sana.
Rhein seorang pria yang sedang merasakan kejenuhan dan memilih mencari hiburan atas hal yang mengganggunya.
TIdak lama kedua mata Sean menangkap sosok yang dia kenali duduk di kursi dekat bartender.
"Dia pasti penasaran dengan gadis yang aku janjikan. Rhein ... Rhein, aku itu tau siapa kamu."
Sean menghampiri Rhein dan langsung mengajaknya ke ruangan khusus untuk tamu istimewa, yaitu, ruangan VVIP.
"Aku ke sini karena meetingku sudah selesai, dan aku malas pulang ke tempatku." Rhein duduk bersandar dengan santai apa sofa panjang di sana.
"Kamu pasti bosan dengan kegiatan kamu pagi ini, kawan. Kamu tenang saja karena aku sudah menyiapkan hiburan yang pasti akan membuat semua kebosanan kamu dan kejenuhanmu menghilang." Sean menepuk pundak Rhein beberapa kali.
"Rhein, aku akan carikan seorang wanita yang akan menemani kamu?" Sahabat Rhein yang juga adalah pemilik dari tempat club malam itu, tau benar yang disukai oleh Rhein.
"Terserah!" Rhein sekali lagi menenggak minumannya sampai habis.
"Tunggu sebentar!" Pria itu beranjak dari kursinya dan keluar dari ruangan Rhein.
Tidak lama masuklah seorang wanita cantik dengan tinggi semampai, dan baju model suit panjang berwarna merah menyala dengan tali bentuk ikatan berjejer di depannya yang tidak tertutup rapi dan malah memperlihatkan dengan indahnya bagian depan tubuh wanita. Baju yang dikenakan itu sangat pendek hampir terlihat ****** ***** si gadis itu.
__ADS_1
"Wow! Kamu tampan sekali." Gadis itu duduk di sebelah Rhein dengan tangan yang mulai nakal membelai rahang tegas wajah Rhein.
"Siapa namamu?" tanya Rhein dengan sorot mata tajamnya.
"Panggil saja aku Lady. Maaf, waktu itu aku tidak bisa menemani kamu karena aku ada urusan kecil, tapi malam ini aku akan menemani kamu dan memuaskan kamu. Aku milikmu malam ini, Baby," ucap wanita itu lembut tepat pada telinga Rhein.
Rhein melirik pada wanita di sampingnya, dan menunjukkan seringainya. "Show me," ucap Rhein.
Wanita itu mulai berdiri tepat di depan Rhein dan dia mulai perlahan-lahan melepaskan satu persatu kancing bajunya. Dia melempar baju itu seenaknya. Sekarang wanita itu hanya memakai setelan underwear yang sangat cantik berwarna merah dengan ada renda-renda di setiap tepinya.
Wanita itu berdiri dengan berkacak pinggang di depan Rhein, dan tidak hanya itu, dia mulai melepas ikat rambutnya, membuat rambutnya yang bergelombang besar berwarna red wine tampak berkilau di bawah cahaya ruangan yang mini cahaya itu.
Rhein masih duduk terdiam dengan segelas minuman di tangannya. Wanita itu perlahan melangkah dengan sepatu high heelnya mendekati Rhein yang masih duduk dengan tegasnya.
Rhein masih dengan sikap tenang namun terkesan dingin memperhatikan wanita itu duduk di pangkuan Rhein. Wanita itu membuka lebar kakinya dan jemari panjang serta kuku yang di cat hitam itu mulai menulusuri rahang tegas seorang Rhein Danner.
"Pertunjukan akan segera di mulai sayang. Malam ini aku ingin membuat kamu tidak kecewa denganku. Jujur saja kamu pelanggan baruku yang membuat aku sangat menyukaimu. Wanita itu mengecup lembut bibir Rhein.
Bagaimanpun juga, peson wanita penghibur itu dirasa cukup kuat membuat tubuh Rhein agak tidak nyaman.
"Kita mulai, Sayang," ucapnya.
Terdengar suara musik di putar, dan tangan wanita itu mulai memegang sebuah tiang agak jauh dari tempat Rhein duduk. Ternyata wanita itu akan melakukan tari pole dance.
Wanita itu mulai bergelayut pada tiang pole dance, memutar tubuhnya perlahan dengan gerakan menggoda. Irama musik dan gerakan wanita itu sungguh pas, bahkan wanita itu bisa membalikkan tubuhnya tanpa takut jatuh.
Rhein mulai terlihat bergairah melihat setiap liukan tarian yang di bawakan oleh wanita itu.Tangannya dengan cepat meraih segelas minuman dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Di pikiran Rhein, dia hanya ingin melupakan semuanya, semuanya bahkan Nala.
Dia ingin bersenang-senang, membuat hidupnya tidak terpuruk dalam cinta yang sangat menyakitkan.
Wanita di depannya terus bergerak dengan menggoda. Rhein mulai beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan mendekati wanita yang sudah berdiri memandang Rhein dengan tatapan mendambanya.
__ADS_1
Tangan wanita itu seolah tidak tahan dilihati oleh Rhein, dia menarik kemeja Rhein dan mereka berciuman dengan mesra, tangan Rhein memegang erat tiang pole dance.
Kedua tangan wanita itu membuka satu persatu kancing baju Rhein, tangan Lady semakin tak hentinya mengusap dada bidang Rhein, dia menginginkan Rhein.
Tok ... tok ...
Pintu diketuk oleh seseorang dari depan. Muka Lady tampak kesal karena kegiatannya diganggu oleh seseorang.
"****!" umpatnya marah
Lady berjalan mendekat ke arah pintu dan membukakan pintu.
"Maaf, Kak Lady, ini saya disuruh mengantarkan minuman untuk kalian," suara bergetar dari gadis manis yang pernah Rhein kenal.
"Bawa masuk! Dan segera keluar."
Hazel masuk dengan menunduk, dan tangannya membawa baki yang berisi sebotol vodka dengan dua gelas.
Rhein berdiri dekat tiang pole dance memperhatikan Hazel yang meletakkan baki di atas meja. Hazel sempat melirik sekilas pada Rhein yang kemejanya sudah terbuka memperlihatkan dada bidang miliknya.
"Saya permisi dulu."
"Iya, sana pergi!" Lady bersedekap dengan mata memicing pada Hazel.
"Tunggu!" Rhein berucap dengan cepat, dia berjalan menghampiri Hazel dan memberikan beberapa lembar uang kepada Hazel.
"Ini untuk saya?" Hazel tiba-tiba terkejut mendapat beberapa lembar uang dari Rhein yang jumlahnya bagi Hazel terlalu banyak.
"Iya, itu untuk kamu." Rhein kemudian mengernyitkan dahinya melihat wajah Hazel yang terlihat jelas tepat di bawah lampu dalam ruangan itu.
"Wajah kamu kenapa?"
__ADS_1