
Hazel tidak mau banyak berinteraksi dengan Rhein karena dia tidak ingin tante Kei mengetahui jika Hazel dan Rhein sudah mengenal baik.
"Mommy senang kamu mau datang saat tadi Mommy hubungi."
"Tentu saja aku datang, dari pada nanti aku dikutuk sama mommy jadi jelek." Rhein menjawab dengan pandangan mata melihat ke arah Hazel.
"Dasar anak nakal." Kei melihat jika putra keduanya itu sedang memperhatikan Hazel. "Rhein, kamu sudah tahu, kan, siapa Hazel? Tadi kalian sudah bertemu."
"Tentu saja tau, Mom. Dia anak dari sahabat Mommy, kan? Dan dia tinggal di sini sekarang karena Hazel sudah tidak memiliki keluarga.
"Iya, dia akan tinggal di sini dan akan menjadi putriku, dia sama saja menjadi adik kamu Rhein."
"Adik? Menyenangkan sekali memiliki adik secantik Hazel." Sorot mata Rhein tidak lepas dari memandang gadis di depannya itu.
"Tentu saja dia sangat cantik, tidak hanya cantik wajahnya, tapi hatinya juga sangat baik dan Mommy sangat menyayangi Hazel."
"Jika dia menjadi adikku, aku juga akan sangat menyayanginya Mommy."
"Rhein, Mommy senang jika kamu bisa dekat dengan calon adik iparmu."
"Calon adik ipar? Maksud Mommy, Hazel calon adik iparku?" Rhein memastikan jika apa yang didengarnya tidak salah."
"Tentu saja Hazel yang akan menjadi adik iparmu, Rhein. Hazel selain menjadi anak angkatku, dia adalah calon adik iparmu karena dia akan bertunangan dengan Orlaf."
Rhein serasa ditenggelamkan ke dalam kutub utara saat mendengar apa yang baru saja mommynya katakan.
"Jadi, gadis yang akan menjadi anggota baru karena akan menikah dengan Orlaf adalah Hazel?"
"Iya, sayang dan di hari pertunangannya, kamu dan Akira harus datang. Mommy ingin keluarga kita berkumpul bersama untuk menyambut kedatangan Hazel dalam keluarga Danner."
Sekarang pandangan Rhein berubah tajam, bahkan dia tidak percaya jika Hazel dan adik kandungnya yang bernama Orlaf akan bertunangan.
"Memangnya mereka sudah berpacaran?"
"Tentu saja, Orlaf sudah menyatakan cintanya dan dia menyukai Hazel sejak pertama mereka bertemu. Hazel pun ternyata jatuh cinta pada Orlaf. Mommy dan Deddy sudah merestui hubungan mereka, bahkan Daddymu yang akan menyiapkan acara pertunangan untuk mereka." Wanita cantik itu tersenyum manis.
__ADS_1
Kedua mata Hazel sama sekali tidak berani melihat Rhein, dia tidak mau perasaannya yang dulu akan timbul lagi.
Rhein mencoba menyembunyikan perasaan kesalnya di hadapan mommynya dan juga Hazel.
"Apa benar kamu jatuh cinta sama Orlaf? Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?"
"Untuk apa kamu tanyakan itu Kak Rhein?"
Rhein tersenyum, dia tidak percaya jika Hazel manggilnya Kakak. "Aku hanya ingin tahu saja apa yang membuatmu jatuh cinta pada Orlaf. Kalau tampan, banyak wanita yang menyukai ketampanan adikku, mapan juga karena Orlaf memiliki usaha sendiri."
"Cinta itu datang dengan sendirinya, Rhein, dan tidak ada bisa yang mengaturnya, mungkin itu yang terjadi denganku saat bertemu dengan Orlaf.
"Menarik sekali. Oh ya, Hazel, apa di negaramu sana kamu tidak memiliki kekasih atau orang yang kamu sukai?"
Hazel kesal dengan pertanyaan Rhein, Rhein sepertinya ingin memancing Hazel untuk mengungkapkan lagi perasaannya padanya, tapi Hazel sudah ingin benar-benar melupakan perasaannya pada Rhein, walaupun itu susah sekali.
"Aku tidak memiliki kekasih di sana, hanya saja aku pernah mencintai orang di sana, tapi aku juga sudah tidak mengingat orang yang aku cintai dulu karena aku lebih baik mencintai orang yang juga mencintaiku, untuk apa aku membiarkan hatiku disakiti? Kehidupanku sudah sangat sakit waktu di sana. Aku senang bisa bertemu dengan Orlaf. Dia sangat baik, perhatian dan dia mencintaiku."
"Memangnya pria yang kamu cintai tidak mencintaimu?" tanya Rhein melihat pada Hazel.
"Kamu benar sekali, Sayang. Lebih baik lupakan saja dia dan kamu memilih pria yang benar-benar mencintaimu." Tangan Keiko mengusap lembut kepala Hazel.
"Iya,Tante Kei. Orlaf pria yang baik dan aku senang bisa dicintai olehnya."
"Rhein, lagi pula untuk apa kamu menanyakan hal cinta seperti ini pada Hazel? Kamu itu tidak mengenal ataupun mengerti artinya cinta. Kamu saja masih suka bermain-main dengan para gadis di luar sana."
"Bagaimana kalau Rhein bilang ingin memiliki cinta yang ingin aku buat serius, tidak hanya bersenang-senang saja?"
Salah satu alis mata mommy Rhein naik ke atas. "Maksud kamu, kamu mau memiliki cinta yang benar-benar ingin kamu jalani dengan serius seperti Akira dan Nala?"
"Iya. Apa aku salah jika menginginkan hal itu?"
"Wow! Mommy benar-benar akan mendukung kamu jika hal itu benar ingin kamu lakukan."
Hazel hanya terdiam mendengarkan hal itu. Dia sangat tidak yakin jika Rhein menginginkan hal seperti itu.
__ADS_1
Tidak lama pria yang menjadi kekasih Hazel datang dan menyapa mommynya serta lainnya di sana.
"Apa sudah selesai kegiatan kamu?"
"Sudah, Mom, hanya tinggal beberapa persen lagi. Hai, Rhein! Ada angin apa kamu datang ke sini?"
"Angin topan yang membawaku ke sini. Kamu apa kabar? Kenapa tidak memberitahuku jika kamu sudah memiliki kekasih bahkan akan bertunangan?"
"Aku ingin memberikan kejutan untuk kamu dan Akira." Orlaf memeluk Hazel yang sedang duduk di meja makan. Hazel tersenyum dalam pelukan Orlaf.
"Iya, aku sangat terkejut, Orlaf." Rhein menatap Hazel dengan datar.
"Bagaimana menurutmu tentang Hazel, Rhein? Aku tidak salah dalam memilih gadis yang aku cintai, kan?"
Rhein terdiam sejenak. Dia melihat pada Hazel yang sedang dipeluk oleh Orlaf.
"Kamu tidak cocok jika bersama dengan Hazel, Orlaf," ucap Rhein santai.
Hazel agak terkejut mendengar apa yang Rhein katakan. Hazel takut jika Rhein mengatakan tentang hal yang terjadi antara dirinya dan Rhein.
"Apa maksud kamu kalau kita tidak cocok, Rhein?" Orlaf menarik tangannya yang memeluk Hazel.
"Maksudku kamu tidak cocok dengan Hazel karena aku lihat Hazel gadis yang polos dan lugu, sedangkan kamu seorang playboy dengan para gadis yang menyukaimu. Kasihan nanti kalau Hazel bersama denganmu."
Hazel ini ingin sekali menggetok kepalanya Rhein. Dia mengatai Orlaf yang playboy, memangnya dia tidak sadar siapa dirinya?
Rhein malah lebih dari seorang playboy, dia adalah rajanya playboy. Sang Casanova kelas ikan paus.
"Rhein, aku bukan kamu. Mereka para gadis yang mengejarku, tapi aku tidak pernah suka bermain-main dengan mereka. Aku memilih salah satu dari mereka dan aku serius menjalani suatu hubungan. Kalau kamu--."
Orlaf terdiam sejenak dengan kata-katanya.
"Kalau aku apa?"
Orlaf tersenyum. "Mommy saja sampai kesal jika memikirkan tentang apa yang selalu kamu lakukan dengan para wanitamu itu."
__ADS_1