Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Rindu yang Menyakitkan


__ADS_3

Orlaf merasa jika Hazel pernah merasakan salah jatuh cinta pada seseorang. Orlaf kemudian bertanya pada Hazel, tapi Hazel hanya bilang dia tidak pernah jatuh cinta pada siapapun karena dia tahu jika cinta itu indah dan tidak mungkin menyakiti.


"Aku sampai lupa jika kamu tidak pernah berpacaran."


"Orlaf, ini sudah malam besok kita lanjutkan lagi belajarnya, ya, aku mau tidur."


"Ya sudah, kalau begitu kamu tidur saja dan besok kita akan belajar lagi."


"Selamat malam, Hazel."


"Selamat malam, Orlaf." Hazel berjalan menuju ke atas kamar. Dia kemudian berbaring di atas ranjang besarnya. Hazel tampak melihat langit-langit dan dia sekali lagi teringat akan wajah Rhein.


"Aku tidak mau mengingat. Jika aku pernah mencintai Rhein. Aku tidak mau merasa pernah jatuh cinta pada seseorang karena jatuh cinta itu indah, tapi tidak untuk Rhein."


Hazel kemudian menarik selimutnya dan memilih untuk tidur saja.


Di ruang tengah Orlaf yang sedang duduk santai dan melihat media sosialnya tampak tersenyum-senyum sendiri.


"Kamu lihat foto siapa? Hazel, ya?"


Tiba-tiba suara mommy ada di sana


"Mommy? Kenapa mengejutkanku? Aku tidak sedang melihat foto Hazel, aku melihat sosial mediaku."


"Lihat sini!" Wanita cantik itu mencoba menengok ke dalam ponsel Orlaf. "Tdak ada yang seru. Apa yang kamu tertawakan?"


"Mommy ini kenapa ingin tahu saja? Ada apa sebenarnya, Mom?"


"Orlaf, apa Mommy boleh bertanya sesuatu?"


"Tanya apa?"


"Bagaimana menurutmu Hazel itu?"


"Bukankah itu pernah ditanyakan padaku dan sudah aku jawab."


"Jawab saja pertanyaan mommy."


"Hazel gadis yang baik, cantik dan menyenangkan. Dia juga--." Orlaf melirik ke arah momnynya.

__ADS_1


"Dia juga apa? Kenapa berhenti?"


"Di juga membuatku menyukainya."


"Kamu serius, Orlaf?"


"Iya aku serius, Mom. Aku menyukai Hazel, dan aku sudah mengatakan padanya."


"Kamu cepat sekali. Lalu, apa tanggapan Hazel?"


"Dia tidak menjawab apa-apa, malahan dia mengira aku hanya bercanda karena tadi di kelasnya, Hasel didatangi oleh Belinda mantan kekasih aku dulu, dan Belinda tidak suka Hazel dekat-dekat denganku."


"Belinda?" Mommy mencoba mengingat gadis yang menjadi mantan kekasih putranya itu. Oh, gadis yang menjadi seorang model itu? Apa dia tau hubungan Hazel dan kamu?"


"Aku belum menjelaskan siapa Hazel, aku juga belum bertemu dengannya, tapi untuk apa juga bicara dengan dia? Aku sudah tidak ada urusan."


"Dia terlihat sangat arogan, ya? Buktinya dia sampai menghampiri Hazel."


"Dia memang seperti itu. Mungkin sebentar lagi aku ada urusan dengannya kalau dia berani berbuat buruk pada Hazel.


"Awas saja kalau mantan kekasih kamu itu berani melukai putriku. Nanti mommy yang akan menghubungi Belinda. Mommy ingat pernah menyimpan nomornya karena gadis itu seolah-olah ingin dekat dengan Mommy sampai berani menghubungi mommy duluan, dia sangat mencintaimu Orlaf."


"Iya, dia sangat mencintaiku, tapi cintanya itu terlalu over protectif."


"Dia seperti itu karena keluarganya yang sangat memanjakannya, apa lagi ayahnya orang yang memiliki kuasa."


"Kenapa kamu bisa pacaran sama dia?" bentak momnynya ketus.


Orlaf hanya bisa nyengir. "Namanya juga cinta, tidak ada yang tau jatuhnya di mana?"


"Huft! Orlaf kalau kamu Mommy jodohkan kamu dengan Hazel, apa kamu mau?"


"Apa? Dijodohkan?"


"Iya, mommy dan daddy sudah setuju jika kamu memiliki hubungan spesial dengan Hazel. Bagaimana? Mau tidak?"


"Apa tidak terlalu cepat kalau aku dan Hazel akan dijodohkan? Kita saja baru beberapa bulan bertemu."


"Tidak Orlaf, Sayang. Bukannya lebih cepat lebih baik, daripada nanti ada pria lain dalam hidup Hazel, dan kamu bisa dikejar lagi sama si Belinda itu."

__ADS_1


Orlaf tampak berpikir sejenak. "Apa boleh aku yang mengatakan sendiri hal ini pada Hazel, Mom?"


"Tentu saja boleh. Bicaralah lebih banyak dengan Hazel agar kalian bisa saling mengenal."


"Tapi kalau dia tidak setuju dengan hal ini. Mommy dan Daddy tidak boleh memaksa, aku juga tidak akan marah pada Hazel karena aku selalu menghormati setiap keputusan seseorang."


"Iya, mommy akan menyerahkan kamu akan hal ini."


***


Perjalanan yang Rhein tempuh cukup memakan waktu yang lama. Besoknya saat dia sudah menginjakkan kaki di negara tempat dia dilahirkan, Rhein segera menuju ke apartemen di mana biasa dia tinggal jika berada di sana.


Rhein memang lebih senang tinggal di apartemen daripada dia harus membeli rumah atau tinggal dengan keluarganya karena bagi dia, tinggal di apartemen akan lebih memiliki privasi untuk dirinya.


Kan, memang Rhein suka sekali mengajak para wanita saat dia membutuhkan mereka. Emaknya Rhein menangis ini sama kelakuan anaknya begini.


"Bagaimana? Apa ada informasi tentang gadis yang aku cari?"


"Maaf, Tuan Rhein, tapi sangat sulit mencari di mana gadis itu sekiranya berada."


"Dasar bodoh! Kamu itu katanya informan yang hebat, kenapa susah sekali mencari apa yang aku suruh?"


"Bukannya begitu, Tuan, data yang Tuan Rhein berikan itu sangat kurang jelas. Tuan Rhein hanya mengatakan dia di negara ini, dan tidak ada lagi, apa lagi Tuan Rhein tidak boleh menyebar foto gadis itu nanti kalau keluarga Tuan tau akan ada masalah."


Rhein berpikiran sejenak. "Aku tidak mau tau, kamu cari lagi dia. Kalau perlu kerahkan semua teman-temanmu. Aku akan membayar mahal jika kamu bisa menemukan gadisku itu." Rhein menutup ponselnya dan melemparkan dengan kasar di atas tempat tidur.


Rhein melepas semua bajunya dan dia masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin mendinginkan kepalanya yang beberapa hari ini mengebul memikirkan Hazel.


Hazel selalu terngiang-niang di dalam pikirannya. Rhein mengguyur kepalanya dengan air dingin yang keluar dari showernya.


"Hazel, aku merindukanmu." Rhein seolah merasakan ada tangan Hazel menyentuh tubuhnya. Sangat lembut dan dia melihat dalam bayangannya tawa Hazel yang tulus.


Kemudian Hazel menghilangkan dan Rhein tersadar jika semua itu hanya bayangannya saja.


"****! Aku membenci perasaan seperti ini. Dasar Rhein bodoh! Kenapa kamu malah menyakiti hati gadis yang sangat mencintaimu. Hazel sangat tulus mencintaimu, bahkan dia rela memberikan hal berharga miliknya, padahal hal itu tidak sesuai dengan prinsipnya."


Rhein berteriak dengan keras di dalam kamar mandi itu.


"Rhein!" Hazel seketika terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah jam dan ternyata masih pukul tiga sore.

__ADS_1


Pulang kuliah tadi Hazel diajak si kembar jalan-jalan ke Mall. Jadi, dia tidak pulang dengan Orlaf karena Orlaf sendiri ada kegiatan di kampusnya dan sebagai ketua senat Orlaf orang yang paling sibuk.


"Kenapa aku harus bermimpi tentang Rhein? Aku harus melupakannya. Aku tadi mau memikirkan tentang Rhein lagi." Hazel beranjak dari tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2