
Pagi itu Hazel tidak merasakan sesuatu menindih perutnya, padahal Rhein tidur dengannya. Biasanya saat Hazel bangun dia melihat tangan melingkar pada perutnya.
"Ke mana dia pagi-pagi begini?" Hazel mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan itu.
Hazel beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar. Dia tetap tidak melihat di mana Rhein berada.
"Rhein, kamu di mana? Apa Rhein diculik salah satu wanita yang dia kencani?" Hazel malah bicara ngasal.
Tidak lama, pria yang dicari Hazel dari tadi muncul dengan hanya memakai celana training panjang tanpa atasan. Terlihat keringat membasahi pada tubuhnya.
Hazel tampak tercengang melihat pemandangan itu. Hazel mengakui jika Rhein adalah pria yang sangat mempesona, di samping parasnya yang memang tampan. Rhein memiliki bentuk tubuh yang pasti para wanita tidak akan mau berkedip jika melihatnya.
"Air liurmu keluar itu," ucap Rhein, dan Hazel tidak sadar jika Rhein sudah ada tepat di depannya.
Hazel pun seketika reflek mengelap mulutnya yang sebenarnya tidak ada apa-apanya.
"Air liur apa? Aku tidak tertarik melihat tubuh kamu itu, Rhein. Malahan aku berpikir jika kamu pria yang sok tampan dengan memperlihatkan badan kamu itu."
"Sok tampan? Aku memang tampan, Hazel, bahkan aku tau jika kamu mengakui hal itu."
"Iya, kamu memang tampan, tapi aku sering lihat pria tampan seperti kamu. Ketampanan kamu bahkan kalah dibanding mendiang ayahku."
"Mana foto ayahmu? Aku ingin tau bagaimana wajah tampan ayahmu?"
"Sebentar, aku ambilkan fotonya!" seru Hazel senang, tapi baru beberapa langkah, Hazel sudah menghentikan langkahnya.
Hazel terdiam, dan wajahnya berubah sedih. Rhein yang melihat gadis itu malah berdiri diam, berjalan mendekatinya.
"Hai! Kamu kenapa?" Rhein yang tiba-tiba memeluk Hazel dari belakang, membuat gadis itu agak kaget.
"Rhein, lepaskan." Hazel menggeliat pelan mencoba melepaskan pelukan Rhein.
"Tidak mau! Katakan dulu kenapa kamu malah terdiam seperti ini?" Rhein sekarang malah mendaratkan kepalanya pada ceruk leher Hazel.
"Aku tidak punya foto ayahku karena semua ada di rumah yang bagiku neraka itu."
"Oh ... karena itu. Apa saat kamu berniat meninggalkan rumah itu, kamu tidak membawa foto kedua orang tuamu?"
Hazel menengok dan wajahnya sangat dekat dengan Rhein. "Aku membawanya, tapi saat mereka mencariku, mereka mengambilnya dan menyobeknya agar aku mau kembali pulang ke rumah."
"Jahat sekali mereka. Kalau begitu, begini saja. Kamu coba bayangkan wajah ayahmu dengan menutup kedua matamu. Kemudian aku juga akan menutup kedua mataku dengan memelukmu begini. Nanti aku pasti akan bisa melihat wajah ayahmu."
Kedua alis Hazel seketika mengkerut. "Memangnya bisa seperti itu? Kamu jangan bercanda, Rhein."
"Coba saja. Ayo! Tutup mata kamu."
"Tidak akan bisa, Rhein."
__ADS_1
"Hazel, tutup mata kamu! Atau kalau tidak aku tutup memakai tanganku."
"Tidak perlu! Aku akan menutup sendiri kedua mataku."
Hazel menutup kedua matanya dan Rhein yang melihatnya tersenyum. Beberapa detik dia memandangi wajah Hazel.
'Dia memang sangat cantik dan rasanya tenang sekali saat melihat wajahnya,' Rhein berbicara dalam hatinya.
"Rhein, apa sudah?"
"Belum terlihat. Apa kamu tidak sungguh-sungguh membayangkan wajah ayahmu?"
"Membayangkan."
Rhein sekali lagi tersenyum melihat Hazel. Dia kemudian memejamkan kedua matanya.
"Ceritakan padaku bagaimana ciri-ciri ayah kamu?"
"Dia tinggi, putih dan memiliki wajah yang teduh. Ayahku berambut putih dan warna matanya coklat seperti aku."
"Lalu, apa dia suka tersenyum?"
"Iya, dia suka tersenyum. Setiap orang yang ayahku temui, selalu dia sapa dengan senyuman."
"Aku sudah tau wajah ayah kamu."
Kembali mereka saling melihat dengan jarak yang begitu dekat. "Aku tau wajah ayah kamu. Dia persis sekali dengan wajahmu."
"Memang banyak yang bilang jika wajahku sangat mirip dengan ayahku."
"Ayah kamu pasti sangat tampan."
"Bagaimana kamu tau jika ayahku tampan?"
"Kalau dia tidak tampan, kamu tidak akan secantik ini." Seketika ada sesuatu yang tiba-tiba menyentuh hati Hazel."
Cup
Dengan cepat Rhein mendaratkan ciumannya pada bibir Hazel.
Hazel yang tersadar langsung terkejut kesal pada Rhein. "Rhein ...! Kenapa kamu menciumku?" Hazel kesal dan ingin memukul Rhein, tapi pria itu malah lebih dulu berlari pergi karena dia tau Hazel pasti marah dengannya.
"Kamu mudah sekali ditipu, Gadis Perawan!" teriak Rhein sambil berlari.
Hazel yang kesal mengejar Rhein. Rhein dengan cepat berlari ke arah kamar mandi di kamarnya dan Hazel menggedor pintu kamar mandi Rhein dengan kesal.
"Rhein, buka pintunya! Kamu jangan bersembunyi. Aku kesal padamu Rhein!" teriak Hazel di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Aku tidak tau, kamu itu terlalu polos atau IQ kamu dibawah rata-rata. Kenapa mudah sekali ditipu? Mana ada hal telepati seperti itu? Apa lagi kamu dan aku juga baru kenal."
"Biar saja, kalau kamu sering mengerjaiku seperti itu lagi. Akan aku kutuk kamu jadi jelek, Rhein! Biar tidak ada yang akan menyukaimu!"
"Memangnya kutukan kamu bisa mempan?"
"Tentu saja bisa, kamu lihat saja nanti."
"Kalau begitu aku juga akan mengutuk kamu, kalau hanya kamu yang mencintaiku jika kutukan jelekmu menjadi kenyataan."
"Hah? Apa? Dasar menyebalkan!" Hazel menendang pintu kamar mandi. Rhein yang di dalam sana malah tertawa dengan tingkah Hazel.
Pagi itu setelah Rhein selesai mandi dia mencari di mana Hazel. Sekarang gantian Hazel yang tiba-tiba menghilang.
"Apa dia kabur dari sini gara-gara aku permainkan tadi?" Rhein keluar kamarnya dan mencari di mana Hazel berada.
Rhein menyalakan televisinya dan dia melihat Hazel ternyata ada di kolam renang sedang mengeringkan rambutnya yang basah.
Rhein tampak senang dan dia pergi ke arah kolam renang.
"Ini susah sekali sih!"
Hazel mencoba menaikkan resleting bajunya, tapi tangannya tidak sampai.
"Kenapa tidak minta bantuan aku?"
Tangan Rhein tiba-tiba menaikkan resleting baju Hazel.
"Rhein, kenapa bisa ke sini?"
"Aku mencarimu, Gadis Perawan." Rhein melihat Hazel dari atas sampai bawah.
"Kenapa mengamatiku seperti itu, Rhein?" Hazel melihat curiga pada pria yang ad di depannya.
"Kenapa kamu memakai dress berwarna putih yang sama dengan bajuku?"
Hazel baru sadar jika Rhein juga memakai setelah celana panjang dan kemeja santai lengan panjang berwarna putih.
"Aku tadi asal mengambil saja baju ini karena aku lihat bahannya nyaman dan aku suka warnanya."
"Ya sudah! Kamu terlihat pas memakai baju itu. Kalau begitu kita pergi sekarang saja, Hazel. Kamu sudah siap, kan?"
"Pergi? Memangnya hari ini kamu mau mengajakku pergi ke mana?"
"Kita akan jalan-jalan seharian, dan nanti sorenya aku akan mengajak kamu ke butik untuk membeli gaun yang akan kamu gunakan nanti malam di acara perkenalan berlian yang waktu itu kamu tunjukkan sebagai modelnya."
"Apa? Kamu mau mengajakku nanti malam ke suatu pesta?" Hazel tampak tidak percaya jika dirinya akan diajak Rhein ke sana."
__ADS_1