
Rhein tampak memperhatikan sekitarnya. Dia agak tidak nyaman makan di tempat yang dipilih oleh Hazel. Padahal Rhein niatnya mengajak Hazel makan di sebuah restoran kesukaannya, tapi ini gadis perawan malah berputra ke sebuah tempat makan di pinggir jalan yang menjual mie ramen hangat.
"Rhein, kenapa tidak dimakan? Kalau mienya dingin pasti tidak enak." Hazel dengan santai menikmati makanannya.
"Apa ini tempat makan favorite kamu?" Hazel mengangguk. "Bukannya kamu dulu dari keluarga berada. Apa tidak ada restoran mewah yang menjadi tempat makan keluarga kamu?"
"Ada, dulu waktu kedua orang tuaku masih ada, mereka suka mengajak ke restoran Rai's yang ada di pusat kota dekat dengan toko bunga milik mamaku dulu."
"Kamu serius? Jadi, itu restoran favorite keluargamu?"
"Iya, dan dulu sebelahnya ada toko bunga milik mamaku yang sudah dijual karena mamaku membutuhkan uang."
"Itu juga restoran favoritku keluargaku. Makanan di sana sangat enak. Kalau itu juga restoran favorite kamu, kenapa malah mengajak ke sini?"
"Aku senang makan mie ramen di sini saat udara dingin. Suasananya sungguh indah bagiku."
Rhein melihat sekitarnya, mereka memang tampak hangat, saling menyuapi dan berbincang dengan penuh kehangatan.
"Bilang saja kalau dulu ini tempat favorite kamu dan kekasihmu." Akhirnya Rhein menyeruput mienya.
"Aku tidak pernah punya kekasih, tapi ada yang dulu suka denganku."
"Kamu juga suka?" Hazel menggeleng. "Kenapa? Apa dia jelek, gendut atau sudah tua?"
"Dia seperti kamu. Tampan, kaya, baik."
"Serius? Kalau dia seperti aku, kenapa kamu tidak suka?"
"Dia mengajakku kencan di hotel milik kedua orang tuanya."
Rhein terdiam sejenak melihat Hazel. "Kamu takut diajak bercinta?"
"Iya, aku tidak mau, setelah melakukannya dia pasti akan meninggalkan aku begitu saja. Aku sangat membenci pria seperti itu."
"Kamu menyindirku?" Hazel seketika melirik pada Rhein.
"Kamu merasa tersindir, Rhein?" Hazel tiba-tiba terkekeh geli.
__ADS_1
"Cepat habiskan! Aku ingin pulang, aku capek sekali."
Hazel dengan cepat menghabiskan makanannya. Mereka akhirnya pergi dari sana.
Di dalam apartemen Rhein yang hanya ada satu tempat tidur, Hazel memilih tidur di sofa ruang tamu, sedangkan Rhein bisa tidur di kamarnya.
"Kamu kenapa tidak mau tidur satu ranjang denganku saja, Hazel? Sangat nyaman jika tidur ada yang menemani."
"Tidak mau karena aku ini pelayan kamu bukan teman ranjangmu."
"Ahahhaha! Jangan sok tidak menginginkan hal itu." Rhein berjalan mendekat perlahan pada Hazel sampai wajahnya sangat dekat dengan wajah Hazel.
"Ada apa?" tanya Hazel yang sekarang jaraknya sangat dekat dengan Rhein.
"Apa tidur dipeluk olehku tidak nyaman bagimu?" Rhein melingkarkan tangannya pada pinggang Hazel dan menarik gadis itu masuk ke dalam dekapannya.
"Aku tidak merasa nyaman dengan hal ini, Rhein." Jujur saja Hazel menyukai pelukan yang setiap tidur dia rasakan, tapi tidak mungkin mengatakan pada Rhein, bisa-bisa tiap malam diajakin Rhein tidur satu ranjang.
Hazel segera melepaskan tangan Rhein dan mengambil bantal serta selimut dan dengan cepat berjalan menuju ruang tamu. Hazel berbaring dengan menutup kepalanya dengan selimut.
"Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak cepat seperti ini? Aku tidak mungkin menyukai si Casanova itu, bisa-bisa hidupku tambah semakin menderita," Hazel berdialog sendiri di balik selimutnya.
"Dia normalkan? Tapi kenapa dia seolah tidak memiliki perasaan pada apa yang aku lakukan terhadapnya? Sebenarnya hal itu baik, berharap dia tidak jatuh cinta padaku, tapi kenapa kesannya pesonaku tidak mempan dihadapannya?" Rhein malah heran sendiri.
Pria itu sudah berganti baju dengan piyama tidurnya. Dia berbaring di atas tempat tidur dengan terlentang.
"Kenapa sekarang seolah tempat tidur ini sangat dingin? Coba saja gadis perawan itu tidur di sini, pasti akan lebih nyenyak tidurku malam ini."
Rhein seketika bangun dari tempat tidurnya dan dia berjalan keluar. Rhein melihat Hazel yang tidur di atas sofa dengan tubuh ditutupi oleh selimut.
"Dia kenapa tidur seperti itu? Hazel ... Hazel," panggil Rhein. Rhein ingin memastikan apa Hazel sudah benaran tidur apa belum.
Dia kemudian dengan santainya mengangkat tubuh Hazel dan membawanya ke dalam kamarnya.
Rhein menidurkan Hazel di atas tempat tidurnya dan dia kemudian tidur dengan memeluk Hazel.
"Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak." Rhein menutup kedua matanya menyusul Hazel ke dunia mimpi.
__ADS_1
***
Keesokan harinya. Hazel yang terbangun dengan rasa berat di perutnya karena ada sebuah tangan besar menindih perutnya.
"Rhein? Aku juga kenapa bisa pindah tidur di sini?" Hazel menoleh dan melihat wajah tersenyum Rhein yang sok tidak berdosa sudah memindahkan Hazel di sana.
"Selamat pagi, Gadis Perawan. Apa semalam tidur kamu nyenyak?"
"Pertanyaan macam apa itu? Aku semalam mimpi buruk, dan pagi ini aku baru tau jika mimpi burukku itu karena tidur di sini. Rhein? Kenapa memindahkan aku di sini?"
"Agar tidurmu lebih nyenyak, Hazel. Aku kasihan lihat kamu tidur di sofa seperti semalam, makannya aku pindah ke sini agar lebih nyenyak."
"Tapi aku nyenyak tidur di sana." Hazel menyikap selimutnya dan bangun dari sana.
"Kakak tirimu sudah dibebaskan, Hazel," ucap Rhein cepat.
Hazel seketika menahan langkahnya dan melihat pada Rhein. "Sudah bebas? Lalu, ayah tiriku apa juga sudah bebas?"
"Hanya kakakmu saja karena dia masih di bawah umur dan dia bukan pelaku utama, dan tidak ada bukti yang memberatkannya."
Seketika wajah Hazel terlihat sedih. "Kenapa dia tidak mendapat hukuman yang berat saja?" ucapnya lirih.
Rhein pun ikut beranjak dari tempat tidurnya. "Kamu untuk saat ini jangan pergi sendirian jika ingin keluar, aku takutnya dia akan mendatangimu nanti."
"Kamu juga harus berhati-hati, Rhein. Takutnya dia akan balas dendam sama kamu nantinya."
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, Hazel. Sekarang kamu bersiap-siap saja karena aku akan mengajak kamu untuk pergi sarapan pagi sebelum aku pergi ke kantor."
"Aku makan di rumah saja, Rhein. Aku akan memasak." Hazel berjalan pergi dari sana.
Rhein berdiri di tempatnya dengan berkacak pinggang. "Apa aku perlu menyewa bodyguard untuk menjaganya di rumah? Tapi apa dia mau?"
Entah kenapa Rhein menjadi sangat khawatir dengan pelayan barunya itu?
Saat makan pagi Rhein menawari Hazel akan menyewa satu penjaga yang akan menjaga Hazel di apartemen itu, tapi Hazel bilang dia tidak mau karena hal itu tidak dibutuhkan Hazel.
"Aku akan menjaga diriku sendiri, Rhein dan aku akan di sini saja."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Kamu jangan ke mana-mana jika tidak bersamaku." Rhein mengusap lembut pipi Hazel.
Seketika ada sesuatu dalam diri Hazel yang sangat aneh. Kedua mata Hazel seolah tidak bisa lepas menatap wajah Rhein.