Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Apartemen


__ADS_3

Orlafsudah diizinkan pulang dan selama di rumah dia dijaga oleh Hazel.


Orlaf sangat senang karena Hazel sangat peduli dan perhatian padanya.


Hari itu walau sudah baikkan hanya saja tangannya masih di perban memakai seperti gips.


"Maaf, ya, Hazel, aku tidak bisa mengantar kamu berangkat kuliah.'


"Tidak apa-apa karena aku bisa berangkat kuliah diantar sopir."


"Jangan! Biar kamu aku antar saja." Rhein menawarkan dirinya untuk mengantar Hazel.


"Tdak perlu, Kak Rhein."


"Apa? Kak Rhein? Aku sudah bilang jangan memanggil kakak, aku tidak suka, panggil saja namaku Rhein."


"Iya aku minta maaf." Hazel tidak mau mencari masalah dengan Rhein.


Akhirnya Hazel diantar oleh Rhein ke kampusnya. Di kampus dia bertemu dengan si kembar. Mereka tampak senang bisa bertemu lagi dengan Rhein yang sangat baik dan mudah akrab dengan mereka.


"Kak, bagaimana kabarnya?"


"Aku baik, Sa."


"Kok, Sa, aku, Si."


"Aduh! Kalian benar-benar membuatku bingung. Bagaimana kalau aku panggil Sasi saja kalian berdua?"


"Jangan mengganti nama orang seenaknya, ya, Sasa ada sendiri dan Sisi juga ada sendiri."


"Kalau begitu, aku masuk dulu, Rhein. Nanti kalau kamu sibuk tidak perlu menjemputku, aku akan pulang dengan si kembar."


"Aku akan menjemputmu. Nanti tunggulah aku nanti di sini."


Hazel masuk ke dalam kelasnya dia duduk dengan malas di bangkunya.


"Bagaimana keadaan Orlaf? Apa dia sudah baikkan?"


"Orlaf baik-baik saja, hanya tangannya masih belum bisa digunakan untuk melakukan banyak kegiatan."


"Hazel, kak Rhein itu baik, ya dia juga sangat tampan. Kenapa kamu tidak jatuh cinta saja padanya?"


Hazel terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Sasa. Andai Sasa tahu bahwa dia sudah jatuh cinta dengan Rhein sejak lama, hanya saja kisah cintanya sungguh miris.


"Hazel, kalau jadi kamu aku jatuh cintanya sama Rhein, dia tampan, baik."


"Iya daripada sama si gadis menyebalkan itu. Siapa namanya? Dinda. Aduh! benar-benar gadis menyebalkan! Kasihan Rhein.


Hazel kembali berfikir, dia juga sebenarnya tidak ikhlas jika Dinda dengan Rhein, bukan karena sifat Dinda, tapi memang hati Hazel tidak rela jika Rhein bersamanya.

__ADS_1


"Kelas dimulai, mereka semua duduk di bangkunya dan mengikuti kelas dengan baik sampai akhirnya istirahat tiba.


Hazel dan si kembar duduk di kantin di sana mereka didatangi oleh Belinda, dia tanpa cemas menghampiri Hazel.


"Hazel apa benar Orlaf baru saja mengalami insiden saat bertanding?"


"Iya dia mengalami patah pada tangannya."


"Lalu,bagaimana keadaannya sekarang?"


" Dia baik-baik saja."


"Hazel melihat wajah Belinda yang tampak cemas dan dia merasa kasihan."


"Belinda, apa kamu ingin menjenguknya?"


"Aku ingin, tapi aku takut Orlaf tidak akan mau menerimaku. Jujur saja Hasel, aku sangat mencintai Orlaf, aku mengatakan ini bukan ingin membuat kamu cemburu, tapi semua ini berasal dari dalam hatiku, dia pria satu-satunya yang membuatku jatuh cinta, hanya saja mungkin aku pernah bersalah dengannya, tapi aku benar-benar sangat mencintainya."


Hazel yang melihat ekspresi Belinda sangat terkejut karena dia tidak pernah melihat Belinda seperti itu."


"Kalau kamu mau, besok ke rumahku, aku yang akan bicara dengan Orlaf agar dia mau bertemu denganmu, Orlaf pasti tidak akan marah."


"Apa benar, Hazel?"


"Tentu saja, besok datanglah ke rumah, aku akan membawamu bertemu dengan Orlaf."


"Kalau begitu terima kasih, Hazel. Besok aku akan datang ke rumahmu." Gadis itu berjalan pergi dari sana."


Sasa yang melihat hal itu langsung menarik tangan Hazel. "Kamu tidak apa-apa?"


"Ada apa memangnya?"


"Kenapa kamu begitu baik sama Belinda kamu tidak tahu dia seperti apa?"


"Aku lihat dia mulai berubah menjadi baik, lihat saja beberapa hari ini dia juga tidak pernah menggangguku. Sepertinya dia memang benar-benar jatuh cinta sama Orlaf aku jadi kasihan sama dia."


"Apa kamu yakin dia sudah berubah? Bagaimana kalau tidak?"


"Aku tidak tahu, tapi hati kecilku berkata Belinda bisa berubah dan cintanya pada Orlaf yang membuat dia berubah."


"Iya juga, sih, dia beberapa hari ini juga tidak terlihat terlalu mencolok pada penampilannya.Dia terlihat lebih sederhana."


"Mungkin benar apa kata Hazel Cinta yang sudah merubah dia seperti itu, dan dia sangat mencintai Orlaf, tapi cintanya terlalu posesif."


"Orang mencintai itu beda-beda. Sudahlah! Tidak perlu kita bahas itu. Sekarang kita fokus belajar saja. Ayo kita kembali ke kelas."


Pulang kuliah Hazel dijemput oleh Rhein. Hazel tidak banyak bicara, dia duduk diam di samping Rhein.


Sampai akhirnya Hazel mengeluarkan suara karena dia melihat arah mobil tidak menuju arah rumahnya tapi ke tempat lain.

__ADS_1


"Rhein, kita mau ke mana? Ini bukan arah pulang?"


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


"Kita mau ke mana, Rhein? Aku mau langsung pulang."


"Kamu tenang saja, aku akan membawamu ke tempat di mananya hanya ada kita berdua.'


"Apa kamu mau menculikku, Rhein? Jangan berbuat yang aneh-aneh, Rhein! Orlaf menungguku di rumah."


"Kenapa? Kamu takut? Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam denganmu, tapi hanya satu macam dan bisa membuatmu melayang."


Hazel mengkerutkan alisnya. Dia tahu maksud Rhein, dan dia tidak suka dengan maksud Rhein.


Sebelum mereka menuju ke tempat yang dimaksud Rhein, Rhein mengajaknya untuk membeli bahan masakan.


Hazel bingung kenapa harus membeli bahan masak?


"Memangnya kita mau ke mana, Rhein?"


"Kita akan ke apartemenku. Di sana kamu bisa memasak dan melakukan hal seperti yang waktu kita lakukan di apartemenku dulu."


"Apa maksud kamu membawa aku ke apartemenmu? Kamu gila, ya? Aku mau pulang, Rhein. Kamu jangan perbuat yang aneh-aneh."


Hazel mau marah, tapi apa dia harus berteriak? Nanti takutnya dia dikira diculik."


"Aku mohon, Hazel, ikut saja kita hanya memasak dan aku benar-benar merindukanmu. Aku ingin kita bicara empat mata di sana.'


"Tapi Orlaf sedang menungguku di rumah, Rhein, kamu jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda. Ikutlah sebentar saja."


Hazel akhirnya mau dan mereka belanja beberapa bahan makanan di sana. Setelah selesai Hazel membawa belanjaan itu menuju mobilnya.


"Itu, kan, Rhein. Dia sama siapa? Sepertinya gadis itu masih muda, Apa dia Kekasih, Rhein?"


Nala tidak sengaja melihat Rhein dengan Hazel, kemudian mereka pergi naik mobil dan Nala tidak tahu mereka mau ke mana?


"Mereka sudah sampai di apartemen milik Rhein. Hazel melihat setiap ruangan di sana. Apartemen itu tidak lebih besar dari apartemen milik Rhein di luar negeri. Namun, di sana terlihat sangat nyaman. Hazel segera menuju dapur dan membuka belanjaannya.


Hazel mengeluarkan bahan-bahan yang sudah dia beli. Rhein memperhatikan wajah Hazel yang fokus melihati bahan masakan. Dia sampai berkhayal andai Hazel adalah istrinya yang baru saja selesai berbelanja pasti menyenangkan.


"Kita mau masak apa?" tanya Rhein


"Kita akan membuat sup ayam saja dan ikan goreng bagaimana?"


"Terserah kamu, dan aku akan membantumu memasak, Hazel."


Hazel memotong beberapa bahan untuk masak, sedangkan Rhein mencuci sayuran dan buahan yang tadi dibeli oleh hazal mereka bekerja sama dengan baik di sana

__ADS_1


__ADS_2