Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Perasaan Hati


__ADS_3

Renata berjalan dengan menunjukkan senyum kemenangannya.


"Hai, Sayang, kenapa kamu baru bangun? Bukannya kita ada janji makan pagi."


Renata melingkarkan kedua tangannya pada leher Rhein dan mengecup lembut bibir pria itu. Jarinya kemudian mengusap lembut bekas ciumannya pada bibir Rhein.


Hazel hanya terdiam berdiri di tempatnya. Ada rasa sakit yang sedang coba dia tahan pada hatinya.


Kenapa Rhein malah berciuman seenaknya seperti itu dihadapannya? Tapi itulah Rhein, dia bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya.


"Renata, kita ke kamarku saja."


"Tentu saja, kamu pasti mau makanan pembuka sebelum kita makan sebenarnya di luar." Renata tampak bahagia wajahnya.


Dia mengikuti Rhein masuk ke dalam kamar. Hazel segera berlari ke tempat wastafel. Dia menyalakan kran airnya untuk menghapus air matanya yang tiba-tiba keluar tanpa dia suruh.


"Apa yang kamu tangisi, gadis bodoh? Kamu jangan menjadi gadis bodoh, Hazel! bukannya kamu sudah berjanji akan melupakan Rhein dari hati kamu. Rhein itu pria bebas dan dia berhak bercinta atau bermesraan dengan siapapun," Hazel berdialog marah pada dirinya sendiri.


Dia sekarang pergi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur dan menangis di dalamnya sampai hatinya benar-benar lega.


Di dalam pikirannya saat ini Rhein pasti sedang bercinta dengan kekasihnya bernama Renata di dalam kamar di mana dia pertama kali memberikan dirinya pada Rhein.


Hazel merasa lebih baik setelah menangis seperti itu. Dia kembali ke meja makan dan melihat Rhein baru saja keluar dengan Renata. Rhein sudah mengenakan kemeja lengkap dengan suitnya dan Renata berjalan menggandeng tangan Rhein dengan wajah ceria.


"Hazel, aku minta maaf karena tidak makan pagi di sini karena aku ada meeting pagi sekaligus makan pagi dengan rekan kerjaku. Kamu makan yang banyak agar tidak sakit." Rhein mengedipkan salah satu matanya pada Hazel dan dia berjalan pergi dari sana.


Hazel melihat sarapan yang dia buat untuk Rhein. Hazel kembali menitikan air matanya perlahan. Lalu, siapa yang menghabiskan makanan sebanyak ini? Dia saja seketika kenyang melihat sikap Rhein padanya.


Hazel memasukkan makanan itu pada kotak makan dan dia menghubungi Darren.


"Kak Darren ada di mana?"


"Aku sedang menuju ke tempat Tuan Rhein meeting di sebuah restoran. Memangnya ada apa, Hazel?"


"Aku di apartemen sudah membuat beberapa masakan, tapi Rhein tidak makan pagi karena ada janji makan pagi dengan Renata. Makanan yang aku buat sayang kalau tidak ada yang makan, aku juga tidak mungkin menghabiskannya semua."


"Tapi aku tidak bisa makan pagi ke sana sekarang."


"Bukan makan pagi di sini. Aku sudah memasukkan ke dalam kotak makan, mungkin Kak Darren mau membawanya ke tempat kerja."

__ADS_1


"Oh begitu. Baiklah, aku akan ke tempat kamu sekarang untuk mengambilnya."


"Aku tunggu Kak Darren di bawah saja supaya Kak Darren tidak terlambat nantinya."


"Terima kasih, Hazel."


Hazel tampak senang dan bersiap-siap turun ke bawah menunggu Kak Darren.


Beberapa menit kemudian, Darren datang dan Hazel memberikan kotak makannya pada Darren.


"Hazel, kamu baik-baik saja, Kan?"


"Iya, aku baik, memangnya kenapa, Kak?"


"Tidak apa-apa. Pokoknya kamu jangan bersedih dan terus memikirkan tentang Tuan Rhein karena hal itu akan terus menyakitimu nantinya." Darren tau jika cinta Hazel pun tidak akan pernah berbalas karena Darren tau siapa Rhein.


Darren pergi dari sana dan dia menuju tempat meeting di mana Rhein dan Renata berada.


"Kamu kenapa baru datang?"


"Maaf, tadi saya baru dari apartemen Tuan Rhein menemui Hazel."


"Untuk mengambil ini, Tuan. Hazel katanya sudah membuat banyak makanan, tapi Tuan Rhein tidak makan pagi di rumah. Jadi, Hazel memberikan untukku sebagai makan pagi, dan saya senang dengan pemberian Hazel ini." Darren tersenyum tulus.


"Kamu dan Hazel sangat cocok jika menjadi sepasang kekasih, Darren," celetuk Renata.


"Selama Hazel bekerja di tempatku, dia tidak aku perbolehkan memiliki kekasih karena aku tidak mengizinkannya."


"Lagi pula Hazel juga tidak akan menjadi kekasih saya, Tuan karena aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri."


Mereka bertiga terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian Rhein mengajak mereka ke meja di mana meeting akan dimulai.


***


Hari di mana Hazel harus melakukan pemotretan untuk brand baju dalam wanita milik Nyonya Matthew. Dia membangunkan Rhein yang sedang tidur untuk izin pergi pagi-pagi sekali karena tempat pemotretan ini agak jauh.


"Rhein, aku harus pergi, kamu bangunlah. Aku sudah membuatkan sarapan pagi untukmu."


"Memangnya kamu mau ke mana?"

__ADS_1


"Aku ada pemotretan yang waktu itu nyonya Matthew tawarkan."


Rhein seketika beranjak dari tempat tidurnya. Dia mengira jika Hazel tidak benar-benar serius mau menerima tawaran itu.


"Kamu serius mau melakukanny oha?"


"Tentu saja, aku juga sudah berjanji padanya. Kamu tidak mengantarkan aku karena nyonya Matthew sudah menyuruh supirnya untuk menjemputku. Aku pergi dulu ya, Rhein."


"Tunggu!" Rhein menahan tangan Hazel.


"Ada apa lagi, Rhein? Semua pekerjaanku sudah aku selesaika, bahkan sarapan pagimu pun sudah aku sediakan."


"Hazel, pekerjaanmu kali ini bukannya tidak sesuai dengan hati kamu, kenapa kamu tetap melakukannya?"


"Aku sudah bilang jika aku ingin mengumpulkan uang sebanyaknya selama aku bisa melakukannya."


Hazel melepaskan tangan Rhein dan pergi dari sana. Rhein hanya menatap datar pada gadis itu.


"Pergi saja, siapa yang peduli. Aku salah selama ini menilai dirinya. Hazel hanya memikirkan tentang uang, sekarang baginya uang adalah segalanya sampai dia tidak peduli jika harus menghilangkan rasa malunya." Rhein kembali berbaring di atas ranjangnya karena dia hari ini memang libur bekerja.


Sekitar tiga jam berlalu, Rhein yang terbangun karena mendapat panggilan dari Renata. Renata ingin mengajak Rhein makan pagi dan dia sudah menunggu di bawah apartemen Rhein.


Rhein menyetujuinya dan bersiap-siap. Dia berjalan dan melihat makanan Hazel yang sudah ada di meja makan.


"Ck! Siapa yang mau sarapan pagi sendirian? Lebih baik aku makan pagi saja bersama Renata.


Niatnya Rhein hari ini ingin makan pagi dengan Hazel. Dia akan menunggu Hazel membuatkannya sarapan pagi, tapi dia lupa jika hari ini Hazel ada pemotretan itu.


"Rhein, kenapa makanan kamu tidak kamu makan? Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Mereka berdua sudah berada di sebuah restoran untuk makan pagi.


"Tidak ada, aku hanya sedang malas makan saja."


"Sayang, bagaimana jika seharian ini kita menghabiskan waktu berdua? Aku akan membuat kamu melupakan semua masalahmu." Tangan Renata mengusap perlahan jari-jemari Rhein yang ada di atas meja. Rhein hanya menatap datar pada wanita yang ada di depannya.


Tidak lama ponselnya berbunyi. Ada satu pesan masuk dan saat Rhein membukanya, dia sangat terkejut melihat gambar yang dikirim padanya.


__ADS_1


__ADS_2