Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Impian Mereka Berdua


__ADS_3

Hazel duduk di dalam mobil dengan diam karena Rhein menyuruhnya untuk duduk diam.


"Sekarang kamu mau jalan-jalan ke mana?" Hazel hanya diam saja tidak menjawab Rhein. "Hazel, aku sedang bicara sama kamu. Kenapa kamu diam saja?"


Hazel melirik pada Rhein. "Bukannya kamu yang menyuruhku untuk duduk diam? Sekarang aku duduk diam."


"Hazel, kalau kamu membuatku kesal, itu artinya kamu membuatku semakin bergairah. Mau aku bawa ke kamarku sekarang?" Rhein mendelik pada Hazel.


"Tidak mau, Rhein. Aku juga bingung mau ke mana. Kenapa kemarin tidak merencanakan dulu kalau mau mengajakku jalan-jalan? Kalau mendadak seperti ini aku juga bingung mau ke mana."


"Biasanya kalau kamu keluar dengan pacarmu ke mana?"


Hazel mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak pernah punya pacar. Kenapa seolah kamu mengejekku saat mengatakan hal itu?"


"Ya sudah, kalau bukan dengan pacarmu, dengan kedua orang tuamu, kamu ke mana?"


"Ke sebuah acara karnival. Di sana ada banyak orang berjualan makanan dan aksesoris, apa lagi ada wahana bermain. Apa kamu aku mengajakku ke sana?"


"Apa? Hazel, apa tidak ada tempat yang lebih tidak kekanak-kanakan? Bagaimana jika kita pergi ke tempat wisata yang romantis, dengan pemandangan yang indah."


Hazel terdiam dan dia tau arah maksud Rhein. "Kalau begitu kamu pergi saja dengan salah satu wanitamu karena itu lebih tepat." Hazel melepas sabuk pengamannya, tapi Rhein kembali memasangkannya.


"Baiklah, kalau begitu kita pergi ke sana." Rhein memutar bola matanya jengah.


Rhein dan Hazel menuju tempat yang dimaksud oleh Hazel dan memang tempat itu buka di saat liburan seperti ini.


Mobil Rhein sampai di parkiran. Hazel tampak tercengang melihat tempat yang terakhir dia datangi dengan kedua orang tuanya itu sudah berubah lebih megah dan semakin besar.


"Tempatnya sekarang lebih bagus ya, Rhein?"


"Mana aku tau, aku saja baru pertama kali menginjakkan kaki di sini dan itu karena menuruti kamu."


"Aku mau masuk, Rhein." Hazel seolah tidak peduli dengan ucapan Rhein. Dia berjalan menuju pintu masuk. Rhein yang sudah memarkirkan mobilnya berlari menyusul Hazel.


"Jangan berjalan sendiri seenaknya, Hazel."


"Aduh, Rhein!" Hazel yang bajunya ditarik oleh Rhein dari belakang tampak kaget.


"Kamu datang ke sini denganku, jadi, jangan berjalan sendirian seenaknya." Tangan Hazel di genggam oleh tangan Rhein. Hazel yang melihatnya tampak agak kaget.


Mereka berdua berjalan dengan Rhein menggandeng tangan Hazel.


Suasana di sana sangat ramai. Hazel pun tampak bahagia bisa datang ke sana lagi.

__ADS_1


"Rhein, aku seolah kembali ke masa dia mana aku ke sini bersama kedua orang tuaku, hanya saja di sini keadaannya sudah berubah."


"Kita mau apa ke sini, Hazel?" Rhein tampak malas.


"Bagaimana kalau kita naik wahana itu saja." Hazel menunjuk pada bianglala yang sangat besar di sana."


"Terserah," jawab Rhein singkat.


"Kalau kamu tidak mau ikut, aku naik sendiri saja."


"Tunggu!" Tangan Rhein menahan dengan cepat tangan Hazel. Akhirnya mereka berdua baik ke dalam bianglala itu.


Saat bianglala mulai naik ke atas. Kedua tangan Hazel memegang tangan Rhein yang duduk tepat di depannya.


"Sudah lama tidak naik ini kenapa seolah aku takut?"


"Kalau takut kenapa naik? Mau turun? Sini! Aku terjunkan biar cepat." Rhein tersenyum meledek.


Hazel hanya melengos malas. Kotak bianglala yang ada Hazel dan Rhein udah berada di atas. Hazel tampak terpukau melihat pemandangan dari atas. "Indah sekali di sini Rhein."


Hazel pindah ke tempat Rhein untuk melihat pemandangan dari tempat Rhein.


"Rhein, lihat! Ada sungai yang indah terlihat dari sini." Hazel tampak melihat dengan fokus dan wajahnya tampak berbinar.


"Iya, cantik sekali," ucap Rhein tidak melepaskan pandangannya pada Hazel.


"Iya." Hazel melihat ke arah Rhein dan Rhein pun menatap Hazel dalam sepersekian detik mereka saling mematri pandangan.


Sampai tangan Rhein menelusup pada ceruk leher Hazel dan menarik lebih dekat wajah Hazel.


Cup


Rhein kembali mengecup bibir Hazel dan menikmatinya. Hazel yang seolah terhipnotis oleh ciuman pria itu pun membalas ciuman Rhein.


Bianglala yang tadinya jalan mendadak berhenti membuat dua orang itu kaget sampai akhirnya ciuman mereka terlepas.


"Rhein, ada apa ini?" Seketika Hazel tampak panik. Rhein melihat ke arah bawah dan orang-orang di bawah juga terlihat panik melihat ke arah atas bianglala.


"****! Sepertinya ada masalah dengan bianglala ini."


"Masalah? Masalah bagaimana, Rhein?"


"Aku juga tidak tahu, Hazel. Salah sendiri kenapa tadi minta ke sini dan naik ini."

__ADS_1


"Dulu tidak pernah ada masalah seperti ini, Rhein, selama aku naik bianglala ini."


"Haduh! Nasibku buruk sekali jika aku harus mati di sini, apa lagi aku belum menikah."


"Bukannya kamu tidak mau menikah?"


"Tidak mau menikah, kan, bukan berarti benci menikah untuk selamanya. Pasti suatu hari nanti aku juga menikah, tapi setelah aku puas menikmati hidupku." Rhein dalam keadaan seperti itupun masih bisa santai.


"Aku juga tidak mau mati sekarang, aku belum menikmati uang hasil pekerjaanku dan aku juga belum menikah."


"Bagaimana kalau kamu menikah saja denganku sekarang? Jadi, kalau sampai bianglala ini jatuh dan kita harus mati, kita mati dalam keadaan sama-sama sudah menikah."


Hazel sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Rhein. Ini orang dapat ide dari mana, tiba-tiba bicara melantur seperti itu?


"Rhein, kamu sakit ya? Apa karena saking takutnya kamu jadi seperti ini?"


"Apa maksud kamu?" Kedua mata Rhein memicing.


"Kalau tidak sakit, kamu tidak akan bicara melantur seperti itu."


"Ahahaha! Aku ini baik-baik saja, Hazel. Aku mengatakan ini untuk mewujudkan salah satu impian kita yang bisa menjadi kenyataan saat ini juga."


"Dasar aneh, memangnya bisa kita menikah hanya dua orang seperti ini?"


"Tentu saja." Rhein tiba-tiba bersimpuh di bawah kaki Hazel yang sedang duduk.


"Rhein kamu jangan bercanda, kita ini sedang dalam kondisi yang tidak baik."


"Ssht ... kamu diam dulu, biarkan aku menyelesaikan ucapanku. Hazel Waltz apa kamu mau menikah denganku. Kita akan melalui suka dan duka serta aku akan menjaga juga melindungimu."


Hazel melihati Rhein dengan wajah yang aneh. "Dia benaran sudah gila."


Bianglala itu kembali bergerak, tapi bukan pergerakan yang membuat orang-orang di dalamnya senang. Mereka malah takut.


"Rhein!" Hazel sampai terjungkal dan memeluk Rhein.


"Makannya, cepat jawab, Hazel. Setidaknya kalau kita mati, kita mati sebagai suami istri."


Daripada Hazel tambah pusing dengan keadaan saat ini, dia menjawab iya saja.


"Iya, Rhein, aku mau, sekarang mana cincinnya?"


"Cincin?"

__ADS_1


"Iya, cincin. Orang menikah itu ada cincinnya, Rhein."


__ADS_2