
Malam itu Hazel ikut makan malam bersama tante Keiko dan Orlaf. Hazel tampak senang ternyata tante Keiko dan Orlaf adalah dua orang yang sangat baik. Setelah makan malam Keiko mengajak Hazel untuk duduk di ruangan yang ada perapiannya. Olaf pun ikut duduk di sana karena jujur saja dia penasaran dengan cerita Hazel.
"Hazel minum dulu sayang susu coklat hangatnya, nanti kamu akan lebih baik."
"Terima kasih Tante Kei." Hazel menyeruput perlahan susu coklat hangatnya.
"Sekarang ceritakan semuanya apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu datang ke sini sendirian?"
"Sejak Mama menikah dengan pria itu kehidupanku berubah drastis. Aku kira dia akan menjadi ayah yang baik untukku, tapi ternyata semua itu salah, bahkan Mama pun menyesal telah menikah dengan pria itu. Pria itu membawa putranya yang usianya beberapa tahun di atasku, awalnya mereka berdua sangat baik dan kita seperti keluarga yang bahagia, tapi lambat laun ayah tiriku berubah, dia sering marah, bahkan pernah memukul mamaku dengan kasar, tidak hanya itu putranya pun suka mengambil uang mamaku dan dia gunakan untuk berfoya-foya, sampai pada akhirnya rumah kami dijual dan kami tinggal di flat kecil di mana kehidupan kami jauh lebih menyedihkan sampai akhirnya Mama meninggal karena sakit. Setelah kepergian mamaku dua orang itu perilakunya sangat buruk padaku, bahkan mereka hampir menodaiku, tapi aku bisa lari dari rumah."
" Tuhan, jahat sekali mereka. Andai saja Soledad mengatakan semua itu padaku pasti aku sudah datang ke sana untuk membawamu dan mamamu sehingga soledad tidak akan pergi secepat ini." Hazel menitikan air matanya.
Keiko yang melihatnya langsung memeluk gadis itu. Dari tempatnya Orlaf tampak memandang Hazel, dia seolah merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Hazel. Hazel benar-benar gadis yang kuat.
"Sayang, kalau begitu mulai sekarang tinggal di sini saja bersamaku, semua kebutuhan dan biaya hidupmu biar aku yang menanggungnya. Bagaimanapun juga kamu adalah anak dari sahabatku dan Soledad adalah orang yang sangat baik kepadaku, nanti biar Orlaf yang mengurus semua kepindahanmu ke sini, surat-surat dan dokumenmu biar nanti Orlaf yang mengurusnya sehingga kamu bisa tinggal lama di sini. Bagaimana, apa kamu mau, Hazel?"
Hazel terdiam sejenak, dia melihat pada Keiko dan kemudian berganti pada Orlaf. Apa aku tidak akan merepotkan Tante dan keluarga?"
"Tentu saja tidak Hazel, aku malah senang jika kamu tinggal di sini, bahkan suamiku Adrian pun akan senang, kita seolah memiliki satu lagi anak dan itu anak perempuan karena tiga anakku laki-laki semua."
"Terima kasih, Tante Kei. Aku sebenarnya juga bingung harus ke mana karena selama ini aku tinggal di flat temanku, tapi dia juga akan menikah dan pasti tidak enak jika aku harus terus tinggal bersamanya walaupun sebenarnya temanku itu tidak keberatan."
"Kamu sama sekali tidak merepotkan. Pokoknya mulai hari ini, kamu akan tinggal di sini dan menjadi putriku. Besok kita akan berbelanja untuk membeli semua keperluanmu, sperti baju dan kebutuhanmu lainnya."
"Aku memang tidak membawa banyak baju karena waktu kabur dari rumah pun aku tidak membawa apa-apa. Di dalam pikiranku, aku hanya ingin lepas dari dua orang itu."
__ADS_1
"Usiamu pasti sama denganku, Hazel, apa kamu tidak kuliah di sana, Hazel?"
Hazel menggeleng. "Aku tidak kuliah Orlaf, tidak ada biaya karena uang tabungan yang mamaku siapkan supaya aku bisa kuliah pun dihabiskan oleh mereka berdua. Aku saja sempat bekerja di klub malam sebagai pelayan pengantar minuman."
"Apa? Kamu bekerja sebagai pelayan di club malam?"
"Karena memang hanya itu pekerjaan yang menerimaku, dan aku hanya menjadi pengantar minuman tidak lebih karena aku ingin mendapatkan uang untuk biaya hidupku di sana."
"Ayah tiri dan Kakak tirimu benar-benar keterlaluan, Hazel. Mereka sangat kejam padamu, padahal mereka bisa hidup karena kekayaan dari mendiang kedua orang tuamu." Orlaf tampak menahan marah.
"Bagaimana kalau kamu di sini kuliah di tempat Orlaf?"
"Apa, Tante? Kuliah? Tapi biaya kuliah itu sangat mahal, Tante, dan aku tidak mau terlalu memberatkan Tante Kei. Aku bisa tinggal di sini saja, aku sudah bersyukur karena aku tidak harus bertemu dengan orang-orang jahat yang ada di sana."
"Tidak apa-apa, Sayang, nanti aku akan menguliahkan kamu sampai lulus. Tante ingin agar masa depanmu lebih baik dan membuat kedua orang tuamu yang sudah meninggal bangga. Itu pun juga untuk masa depanmu."
"Jangan membantah Hazel. Pokoknya kamu di sini juga akan kuliah seperti Orlaf. Bagaimana Orlaf, apa ide Mommy brilian?" Orlaf tidak menjawab dia hanya menunjukkan jempolnya saja
Malam itu, ibu dan anak laki-lakinya mendengarkan semua cerita Hazel. Hazel juga menceritakan tentang kedua orang tuanya semasa mereka hidup, tidak lupa tante Kei juga menceritakan tentang persahabatannya dulu dengan mama Hazel.
Tidak terasa waktu semakin larut, tapi rasanya mereka belum puas untuk saling berbagi cerita. "Kamu malam ini tidur saja di kamar atas, kamu bisa menggunakan kamar putra sukungku karena dia juga tidak akan menggunakan kamar itu lagi, dia sudah memiliki rumah sendiri."
"Terima kasih, Tante Keiko."
"Aku akan mengantarkanmu ke atas. Di atas juga ada kamar Orlaf tepat di depan kamarmu."
__ADS_1
Hazel naik ke lantai atas ditemani oleh tante Keiko. Dia ditunjukkan kamar yang bisa dia gunakan, dan saat membuka pintu Hazel sangat senang melihat suasana kamar itu. Rapi, bersih dan baunya harum.
"Ini kamar yang dulu digunakan oleh kakak pertama Orlaf, tapi sekarang dia tidak mungkin tinggal di sini lagi karena dia sudah menikah dan memiliki keluarga yang bahagia. Kamu bisa menempati kamar ini dan merubah apa yang ada di dalam sini karena di sini semua berbau laki-laki dan sekarang kamu yang akan menempati. Jadi, kamu boleh merubahnya sesuai keinginan kamu. Keluargaku pun tidak akan marah."
"Terima kasih, Tante baik sekali."
Mereka kemudian keluar dari kamar, dan ada Orlaf yang sudah berdiri bersandar pada pintu kamarnya.
"Di sini kamarku, Hazel, kalau kamu membutuhkan bantuan, kamu boleh mengetuk pintu kamarku."
"Iya, Orlaf." Hazel melihat kamar yang ada tempat di sebelah kamarnya. "Itu kamar putra Tante juga?"
"Iya, tapi entah kapan digunakan? Dia suka sekali tidak berada di rumah. Putraku nomor dua ini lebih senang berada di luar. Sudahlah! Sekarang kamu lebih baik beristirahat saja dulu karena aku mau kembali ke meja makan untuk membantu para pelayannya membereskan semua.
"Tante, biar aku bantu Tante membereskannya. Aku juga biasa melakukan pekerjaan rumah."
"Tidak perlu Hazel, kamu beristirahat saja karena aku tau kamu pasti sangat capek dengan apa yang terjadi hari ini." Keiko mengecup dengan lembut kening Hazel. Hazel seolah merasakan kasih sayang seorang mama yang lama dia tidak merasakannya.
Tante Keiko kemudian turun ke lantai bawah, dan Orlaf berjalan mendekat ke arah Hazel. " Aku benar-benar senang berkenalan dengan gadis seperti kamu, Hazel."
"Aku juga senang berkenalan dengan keluarga kamu yang sangat baik."
"Ya sudah! Sekarang kamu tidur, aku juga sebenarnya dari tadi sangat mengantuk, tapi saat mendengar ceritamu itu membuat rasa mengantukmu jadi hilang." Mereka berdua tertawa kecil.
"Selamat malam, Orlaf."
__ADS_1
"Selamat malam, Hazel." Mereka masuk kamar masing-masing.