Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Calon Istri yang Baik


__ADS_3

Hazel turun ke lantai bawah setelah dia rapi. Hazel melihat ada Tante Kei sedang berkutat di dalam dapur.


"Sore, Tante."


"Sore, Sayang. Kamu kenapa sudah bangun?"


Hazel bingung mau menjawab apa. Coba tadi Rhein tidak menghantuinya, pasti dia belum bangun.


"Aku sudah cukup tidurnya, Tante. Baunya harum sekali. Tante Kei masak apa?"


"Tante masak banyak sekali dan kamu harus mencoba semuanya."


"Kelihatannya enak semua, Tante, aku pasti akan menghabiskannya. Tante tenang saja." Hazel tertawa dengan manisnya.


"Hazel, apa Orlaf sudah bicara dengan kamu?"


"Bicara? Bicara soal apa, Tante?"


Sepertinya Orlaf memang belum berbicara dengan Hazel. Apa dia sebaiknya bicara duluan? Atau menunggu Orlaf saja? Dia berkata dalam hatinya.


"Tante, Tante melamun apa?"


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku sedang tidak melamun."


"Tante Kei, apa boleh aku bantu? Aku juga ingin belajar masakan tradisional di sini. Waktu diajak Orlaf ke cafenya, masakan di sana sangat enak, walaupun aku masih asing dengan namanya."


"Tentu saja kamu boleh, kalau besok kamu sudah menikah dengan orang sini, kamu harus pandai membuat masakan yang disukainya."


"Aku masih belum memikirkan masalah tentang mencari pasangan, Tante. Aku ingin kuliah yang tinggi dulu dan menjadi orang sukses, sehingga aku bisa membalas kebaikan Tante dan Om yang selama ini baik denganku."


"Hazel, kamu tidak perlu memikirkan membalas budi pada kami, kamu sudah seperti putri kami sendiri, dan kami sangat senang jika kamu juga bahagia di sini."


Hazel tiba-tiba mencium pipi wanita cantik itu. Keiko pun terkejut dan memeluk Hazel.


"Tante, apa Orlaf belum datang?"


"Dia belum datang, biasanya dia akan mengikuti kegiatan itu sampai malam. Kenapa, kamu kangen ya sama Orlaf?"


"Bukan begitu, Tante, aku hanya kesepian saja kalau di rumah ini tidak ada dia. Biasanya Orlaf mengajakku jalan-jalan sore kalau tidak ada kegiatan di kampus."

__ADS_1


"Bagaimanapun dia itu ketua senat, dan di kampus kalian akan ada acara katanya. Jadi, dia sibuk dalam beberapa bulan ini. Hazel, kalau mau makan, kamu makan dulu saja. Siang tadi makanmu cuma sedikit."


"Nanti saja, Tante, sekalian dengan kalian berdua dan juga dengan Orlaf. Siapa tahu dia pulangnya tidak terlalu malam."


Hazel akhirnya membantu Tante Kei menyiapkan untuk makan malam, mereka berdua tanpa kompak. Kei juga banyak menceritakan tentang masa kecil Orlaf. Orlaf dari kecil adalah pria yang baik, malah lebih baik dari kedua kakaknya. Dia juga tidak pernah bertengkar dengan kedua kakaknya. Orlaf sangat menyayangi kedua kakaknya.


"Om Adrian mana, Tante? Kenapa sepertinya tidak ada di rumah?"


"Suamiku sedang pergi ke perusahaan Akira anak pertamaku, dia selalu seperti itu memantau setiap pekerjaan putra-putranya. Adrian orang yang sangat disiplin meskipun anaknya sudah bisa mengatur perusahaannya sendiri, tapi Addrian selalu memantaunya karena dia tahu dunia bisnis sangat kejam, banyak persaingan yang tidak sehat. Kamu besok ingin menjadi apa, Hazel? Seorang pengusaha, kah?"


Hazel menggeleng pelan. "Aku masih bingung juga, Tante, hanya saja aku ingin sekali membuka toko bunga, aku ingin menjual bunga seperti mama dulu. Menyenangkan sekali dapat dikelilingi bunga-bunga yang cantik."


"Kamu memang mirip sekali dengan Soledad, Sayang, sebenarnya Tante memiliki keinginan agar kamu benar-benar bisa menjadi putriku, Hazel."


"Maksud, Tante apa?"


Belum selesai Kei melanjutkan pembicaraannya. Orlaf sudah datang dan dengan cepat mengecup pipi mommynya.


"Kalian berdua pasti sedang membicarakan aku, ya?"


"Siapa yang membicarakan kamu, Orlaf? Dari tadi Tante dan aku sedang membicarakan resep masakan dan juga masa depan."


"Kita ini masih kuliah, jangan memikirkan tentang masa depan yang itu dulu."


Kei melihat ke arah putranya. Pun dengan Orlaf juga melihat ke arah mommynya.


"Orlaf, kenapa kamu tumben sekali sudah datang biasanya juga sampai malam?"


"Sudah selesai kegiatannya, Mom. dan aku, kan, punya tim. Jadi, aku serahkan saja pada mereka sambil aku pantau, lagi pula beberapa hari ini aku terus yang mengerjakan kegiatan ini." Orlaf melihat ke arah Hazel. "Aku juga kangen sama Hazel," celetuk Orlaf.


Hazel yang mendapat pandangan dari Orlaf seperti itu tampak bingung sendiri, apa lagi di sana ada Tante Kei. Hazel jadi malu.


"Orlaf, sebaiknya kamu berganti baju dulu, kamu pasti lapar. Bagaimana kalau kamu makan dulu saja?"


"Aku nanti saja makannya. Aku mau membersihkan diri dulu dan mengajak asal jalan-jalan di taman. Kamu mau, kan Hazel?"


"Iya aku mau, kalau begitu aku akan menunggumu di sini kamu segera bersiap-siaplah."


"Aku akan membelikan kamu ice cream yang sangat enak." Orlaf mengedipkan salah satu matanya pada Hazel.

__ADS_1


"Orlaf, kamu suka sekali mengganggu Hazel."


Orlaf segera berlari ke atas kamarnya. Hazel di sana masih membantu Tante Keiko.


Tidak lama ponsel wanita cantik itu berdering dan ada nama seseorang yang membuat wajah Kei tampak berbinar bahagia.


"Hazel, aku minta tolong kamu lanjutkan dulu, aku mau menerima telepon dari putraku."


"Iya, Tante silakan saja, biar aku yang menyelesaikan sisanya."


Keiko berjalan ke arah taman kemudian dia menggeser tombol ke atas pada ponselnya.


"Tumben sekali putraku ini menghubungiku, apa ada hal yang penting?"


"Apa kabar? Aku merindukan dirimu, Mom."


"kamu sakit, Sayang? Kalau kamu sakit, Mommy akan segera ke sana untuk menemuimu."


"Aku tidak sakit, Mom, aku baik-baik saja, memangnya aku tidak boleh ya merindukan Mommyku sendiri?"


"Aku kira yang selama ini kamu rindukan hanya para gadismu, Sayang. Apa kamu tidak ingin berubah dan mencari seseorang untuk menemani hidupmu kelak?"


"Sekarang aku sedang mencari dia, Mom, hanya saja aku belum menemukan dia. Apa Deddy ada di sana?"


"Seperti biasa ada di kantor kakakmu. Daddymu, kan, memang kalau ada di sini selalu pergi ke tempat kakakmu. Mereka berdua memang sama-sama suka sekali jika membahas hal yang berbau tentang bisnis."


"Ya Deddy dan putra sulungnya itu memang tidak bisa dipisahkan."


"Jangan berkata seperti itu, Sayang. Mami juga sangat menyayangimu. Kita semua sayang sama kamu, hanya saja kamu yang sulit untuk diatur. Sayang, kamu pulanglah supaya kita bisa makan malam bersama dengan kakakmu dan juga adikmu. Di rumah akan ada anggota baru di keluarga kita."


"Keluarga baru? Maksud mommy siapa?"


"Kamu kalau ingin tahu pulang saja. Kenapa suka sekali tinggal di luar negeri? Padahal di sini juga banyak gadis yang cantik dan tempatnya di sini juga sangat indah."


"Nanti saja aku akan pulang, jika urusanku sudah selesai di sini, Mom. Aku juga mungkin akan pulang dengan membawa seseorang bersamaku."


"Siapa? Kekasih kamu?Mommy kadang lelah jika kamu datang ke sini, pasti ada saja wanita yang ke sini untuk mencarimu dan kadang kamu menyuruh Mommy untuk berbohong pada mereka. Wanita yang kamu bawa ini, apa nanti hanya untuk main-main seperti biasanya?"


"Aku mencintai gadis ini, Mom, dan aku berharap dia bisa menjadi masa depanku."

__ADS_1


"Rhein, selama ini mommy tahu para wanita yang selalu menemanimu, dan jujur saja tidak ada yang mommy sukai dari mereka. Mereka mungkin wanita yang sangat lihai dalam bidangnya, bahkan memuaskanmu di atas ranjang, tapi mommy yakin mereka tidak bisa dijadikan istri yang baik untuk dirimu."


__ADS_2