Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Rhein Harus Di rawat part 2


__ADS_3

Hazel menanyakan apa karena tangannya yang luka Rhein jadi demam tinggi?


Ternyata bukan dari luka pada tangannya karena lukanya sudah diobati dengan baik.


"Bisa saja karena Rhein yang terlalu kelelahan dan pikirannya yang sedang memikirkan sesuatu terlalu berat.


Hazel tau jika mungkin Rhein masih memikirkan wanita yang dia cintai, tapi menikah dengan kakaknya.


"Darren, aku mau pulang. Aku tidak mau dirawat di sini."


"Tuan Rhein, Anda jangan memaksakan diri seperti ini. Kalau nanti di apartemen Tuan Rhein ada apa-apa, bagaimana?"


"Rhein, kamu hanya akan di rawat di sini dalam beberapa hari saja sampai demam kamu turun dan kami akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui keadaan kamu lebih dalam."


"Oh God! Aku tidak mau sampai mommyku tau dan datang ke sini untuk menjagaku."


"Rhein, nanti aku yang akan menjaga kamu di sini. Jadi, mommy kamu tidak perlu tau."


Rhein dan Darren seketika melihat pada Hazel.


"Kamu mau menjagaku di sini? Apa kamu serius?"


Hazel menganggukkan kepalanya. "Bagaimanapun juga kamu sudah sangat baik mau menolongku selama ini. Itu harus aku balas dengan baik."


"Dok, Tuan Rhein mau untuk dirawat di sini," terang Darren.


"Hei! Aku belum memutuskan."


"Baiklah! Nanti salah satu perawatku akan mengurusnya dan kamu ikut denganku untuk mengurus administrasinya."


"Iya, Dok." Darren ikut dengan Dokter dan Hazel menunggu perawat untuk memasang infus pada Rhein.


"Kenapa dia malah bertindak seenaknya?"


"Bukan seenaknya, tapi Kak Darren khawatir dengan keadaan kamu, Rhein."


"Terserah kalian." Rhein menyandarkan kepalanya pada sandaran ranjang dan memejamkan kedua matanya.


Beberapa menit kemudian Rhein yang sudah terpasang jarum infus dipindahkan ke ruangan rawatnya. Sebuah kamar yang besar lengkap dengan fasilitas yang memadai.


"Setelah mendapat suntikan, dia akan tertidur. Besok pagi aku akan memantaunya kembali."


"Terima kasih, Dok."


Dokter itu bicara dengan Hazel di depan pintu kamar Rhein. Dia kemudian meninggalkan ruangan Rhein.

__ADS_1


"Hazel, kamu belum makan ya? Perut kamu berbunyi."


Hazel meringis pada Darren. "Aku lupa belum makan karena khawatir dengan keadaan Rhein, apa lagi Rhein juga sangat susah diberitahu."


"Kamu makan saja dulu, jangan sampai sakit juga, apa lagi kamu nanti yang akan menjaga Tuan Rhein di sini."


"Iya, sebenarnya aku lapar sekali, tapi seketika melihat Rhein yang seperti itu, rasa laparku menjadi hilang."


"Kalau begitu kamu makan dulu karena Tuan Rhein juga sudah tidur."


"Iya, aku juga sebenarnya mau pingsan saja karena lapar, tapi masih bisa aku tahan karena sudah terbiasa."


Kak Darren menggandeng tangan Hazel dan membawanya ke kantin untuk mengajaknya makan. Kebetulan di sana ada kantin yang buka sampai dua puluh empat jam.


"Sekarang aku bingung, apa aku harus menghubungi keluarga Tuan Rhein atau tidak?"


"Tapi jika dilihat, Rhein tidak mau jika keluarganya tau. Coba nanti kalau Rhein sudah baikkan kita tanya saja padanya, Kak Darren."


Darren mengangguk. Hazel meminta tolong untuk di antar pulang sebentar ke apartemen karena dia ingin mengambil baju ganti untuknya dan Rhein.no no


Malam ini Hazel tidur di sana menemani Rhein. Kak Darren pulang karena tidak boleh banyak orang yang menjaga.


Hazel berdiri di samping ranjang Rhein dan memperhatikan wajah pria yang tengah tertidur pulas itu.


"Meskipun kamu pria yang tampan, dan kaya raya, tapi tetap saja tidak bisa membeli cinta wanita yang kamu sukai. Mungkin itu yang dinamakan cinta sejati. Wanita yang menolaknya tidak melihat dari rupa dan kekayaan."


***


Keesokan harinya, Rhein terbangun karena ada seseorang yang menyentuh tangannya. Ternyata itu salah satu perawat yang sedang menyuntikan obat pada selang infus Rhein.


"Kekasihmu sangat perhatian padamu," ucap wanita dengan baju birunya.


"Hah? Kekasih?" Rhein tampak bingung. Dia lalu melihat ke arah Hazel yang masih tidur di samping ranjangnya.


"Iya, gadis ini bukankah kekasihmu? Dia semalam tidur di sini, padahal di sana ada ranjang yang disiapkan khusus untuk penjaga pasien."


Rhein hanya tersenyum menanggapi ucapan perawat cantik itu.


Hazel mengerjapkan kedua matanya perlahan, dia agak kaget melihat ada perawat di sana.


"Suster, ada apa? Apa Rhein baik-baik saja?" tanya Hazel khawatir.


"Kamu tidak perlu khawatir, kekasihmu baik-baik saja."


"Ke-kekasih?" Hazel tampak bingung bin kaget.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Nanti siang aku akan ke sini lagi untuk memeriksanya. Jaga dia baik-baik."


"Rhein, dia bilang aku kekasihmu?" Kedua alis Hazel mengkerut.


"Iya, kenapa? Kamu berharap hal itu benar? Jangan bermimpi, Gadis Perawan."


"Siapa yang berharap menjadi kekasihmu? Maksudku, kenapa kamu tidak bilang jika itu tidak benar. Nanti aku akan akan bilang, supaya aku tidak dikira kekasihmu."


"Tidak perlu, hal itu juga tidak penting diperjelas. Biarkan mereka berpikira apa."


"Ya sudah. Oh, ya, Rhein, apa kita tidak perlu menghubungi keluarga kamu di sana?"


"Untuk apa?"


"Memberitahu mereka kalau kamu sedang dirawat di rumah sakit saat ini."


"Tidak perlu, Hazel. Keluargaku tidak perlu tau aku sakit dan sampai di rawat. Aku bukan orang yang suka merepotkan orang lain. Kamu saja yang memaksa aku dirawat."


"Aku khawatir dengan keadaan kamu di rumah waktu itu."


"Kenapa? Kamu mencintaiku?"


Hazel seketika melongo mendengar pertanyaan Rhein. "Tidak ada hal yang membuat aku mencintaimu. Rhein, aku mau mandi dulu, setelah itu aku akan menyuapimu untuk makan.


Hazel berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dan tidak lama dia keluar dengan handuk di tangannya. Hazel mengeringkan rambut sebahunya yang masih basah.


Rhein dari tempatnya tampak terpaku melihat Hazel yang terlihat berbeda dari biasa dia lihat.


Hazel yang merasa diperhatikan oleh Rhein tampak mukanya aneh. Rhein melayangkan senyuman tipis ke arah Hazel.


"Kenapa senyummu begitu padaku, Rhein? Apa ada yang salah?"


"Ternyata kalau begini kamu terlihat sangat cantik."


"Apa?" Hazel tercengang kaget mendengar ucapan Rhein.


"Kamu bisa jadi seorang model pakaian renang yang terkenal jika mau karena wajah kamu sangat pas jika sedang terkena air."


"Kamu itu bicara apa?" Hazel duduk di sofa panjang di sana. Dia masih mengeringkan rambutnya.


"Aku sudah terjun ke dunia pemasaran suatu produk cukup lama, dan aku tau setiap produk yang aku pasarkan dengan model yang aku pilih, dan kamu cocok jadi model pakaian renang atau krim matahari, pasti produk itu akan banyak terjual."


"Aku tidak tertarik menjadi model dengan memperlihatkan tubuhku. Aku bekerja di club malam itu saja sudah mengatakan hanya menjadi pengantar minuman, tidak mau lebih dari itu."


"Tapi dengan menjadi model, kamu akan bisa mendapatkan uang lebih banyak."

__ADS_1


"


__ADS_2