Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Rencana Perjodohan Rhein part 2


__ADS_3

Hazel berlari masuk ke dalam kamarnya dan dia menangis dengan menutupi wajahnya dengan bantal agar tidak ada yang mendengar suara tangisannya, walaupun di sana tidak ada orang hanya Rhein dan para pelayan yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Untuk apa dia sekarang mengatakan jika dia mencintaiku? Semua sudah terlambat Rhein. Sudan terlambat dan aku tidak bisa menerima kamu karena aku tau rasanya bagaimana disakiti oleh orang yang kita cintai dan aku tidak mau sampai Orlaf merazakan hal itu. Orlaf tidak berhak mendapat rasa sakit seperti yang aku rasakan." Hazel menghapus air matanya.


Terdengar suara ketukan pada pintunya dan Hazel tau jika itu pasti Rhein. Hazel tidak mau membuka pintunya karena dia tidak mau cintanya pada Rhein membuat dia melupakan tentang hubungannya dengan Orlaf.


"Hazel, apa kamu di dalam?"


"Orlaf?" Ternyata di depan pintu itu bukan Rhein tetapi itu Orlaf. Hazel segera berlari menuju pintu dan dia segera membukakan pintu untuk Orlaf.


"Hazel, kenapa lama sekali kamu membukakan pintunya? Apa kamu sedang berada di kamar mandi?"


"Iya, aku tadi sedang berada di dalam kamar mandi. Mataku tadi kemasukan binatang kecil dan aku tadi membasuhnya."


"Pantas saja mata kamu terlihat merah. Apa perlu kita ke dokter?"


"Tidak perlu, nanti pasti akan sembuh sendiri." Hazel tersenyum, dia sebenarnya merasa bersalah pada Orlaf sudah membohongi pria yang sekarang adalah kekasihnya, dahal hal itu tidak boleh seharusnya Hazel lakukan karena suatu hubungan harus dimulai oleh suatu kejujuran dan kepercayaan, seperti apa yang pernah mendiang mamanya katakan


Namun, semua prinsip itu seketika hancur karena Rhein, dan juga Hazel yang tidak mau masa lalunya dengan Rhein sampai ketahuan.


"Aku minta maaf sama kamu, ya Hazel."


"Minta maaf soal apa, Orlaf? Setahuku kamu tidak memiliki salah padaku."


"Minta maaf karena sudah beberapa kali aku selalu sibuk dengan pekerjaanku dan urusan kuliah, aku jadi tidak pernah ada waktu buat kamu."

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak apa-apa, aku bisa mengerti karena sebentar lagi akan ada acara di kampus kita, kamu sebagai ketua harus bertanggung jawab dengan semuanya. Kamu kelak akan menjadi seorang pemimpin yang baik dan banyak disukai oleh semuanya."


Tangan Orlaf membelai perlahan rambut Hazel, dan tepat Rhein naik ke atas, dia niatnya ingin kembali mengajak Hazel bicara, tapi ternyata sudah ada Orlaf di sana.


Jika saja itu bukan adiknya, pasti Orlaf akan langsung ditonjok oleh Rhein. Rhein sakit sekali melihat hal itu. Dia menyesal sudah merasakan lagi apa yang namanya cinta dan sekali lagi rasanya menyakitkan.


"Terima kasih atas pujiannya. Kamu kelak jika menjadi istriku pasti kamu juga akan menjadi istri yang baik, bahkan lebih dari baik." Tangan Orlaf mengusap lembut bibir Hazel, tangan satunya sudah menarik pinggang Hazel menuntun tubuh Hazel berjalan perlahan mendekati Orlaf.


Dalam hati Rhein sudah mulai tidak karuan saja melihat hal itu. Rhein tau jika Orlaf itu ingin mencium Hazel. Rhein tidak akan membiarkan bibir yang dia sukai itu dinikmati oleh pria lain. Hazel itu miliknya dan hanya dia yang berhak atas Hazel.


"Hei! Apa kalian tidak menyadari ada aku di sini? Kalian jangan melakukan hal yang tidak-tidak, ya?" ucap Rhein agak kesal


"Hal macam-macam apa, Rhein? Aku hanya mau berciuman dengan kekasihku saja dan hal itu tidak ada salahnya, kan?"


"Tidak salah, hanya saja kalian jangan melakukannya di ruang terbuka seperti ini, apa lagi ada aku kakak kamu."


Rhein yang terkejut dengan sikap Orlaf hanya bisa terpaku di tempatnya dan dia malah seperti orang kebingungan.


" Oh God! Apa aku yang salah bicara? Sepertinya aku memang salah bicara. Kenapa malah aku mengatakan sebaiknya mencari tempat yang tidak terbuka, dan dia malah membawa Orlaf ke dalam kamarnya.


Rhein sudah membayangkan Hazel dan Orlaf melakukan hal yang tidak-tidak saja di dalam kamar itu. Rhein benar-benar ingin sekali marah, tapi apa haknya dia pada Hazel. Hazel adalah kekasih Orlaf dan Orlaf boleh memeluk bahkan mencium Hazel.


Sekarang Rhein bisa merasakan bagaimana perasaan Hazel saat melihat dengan mata kepalanya sendiri Rhein-- orang yang dia cintai bercinta dengan orang lain tanpa memikirkan perasaan seseorang yang dengan baik dan tulus mencintai.


"****! Kenapa mereka Lama sekali di dalam? Apa Hazel dan Orlaf mereka sedang berbuat hal itu. Oh ****!" Rhein tampak mengumpat kesal dan dia sudah tidak tahan lagi untuk berpura-pura tidak peduli akan apa yang dilakukan oleh dua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Rhein akhirnya mengetuk pintu beberapa kali dan akhirnya pintu dibuka oleh Orlaf. Orlaf melihat pada Rhein yang ada di depan pintunya.


"Ada apa, Rhein?"


"Kamu kenapa tidak memakai baju? Apa kamu mau menunjukkan badan idealmu pada Hazel? Orlaf, aku hanya mengingatkan jika Hazel itu gadis yang masih lugu dan polos. Jadi, kamu jangan merusaknya, atau kamu bisa terkena marah mommy."


Sebenarnya nasehat itu ditujukan untuk Orlaf atau pada diri Rhein sendiri, ya?


Orlaf mengatakan jika dia tau tentang Hazel dan Orlaf pun sangat menghormati Hazel. Orlaf juga ingat selalu ucapan mommynya jika berpacaran tidak boleh sampai terlewat batas. Orlaf selalu mengingat hal itu.


"Lantas, apa yang kalian lakukan di dalam sampai lama?"


Orlaf membukakan pintu kamarnya lebih lebar dan Rhein bisa melihat Hazel sedang membawa sebuah kertas gambar, ternyata mereka di dalam sedang menggambar sesuatu.


"Kalian sedang belajar?"


"Iya, aku sedang meminta Hazel untuk menilai hasil gambarku tentang rancangan cafe yang ingin aku buat dan aku buka diuar kota. Kenapa pikiran kamu sekotor itu, Rhein?" Orlaf tersenyum mengejek pada Rhein.


Hazel berjalan mendekati dua pria yang sedang bicara itu. "Memangnya, Kak Rhein mengira kita sedang apa?" Hazel melihat pada Rhein dengan tatapan datar tapi terlihat serius


"Dia mengira kita sudah berbuat hal di luar batas di dalam kamarku berdua." Orlaf masuk ke dalam untuk melipat kertas besar hasil karyanya.


Tinggal Hazel dan Rhein yang ada di depan pintu. Hazel sekali lagi menatap Rhein dengan tatapan seolah Hazel kesal akan tuduhan Rhein.


"Kak Rhein, aku dan Orlaf bukan kamu yang bisa berbuat hal di luar batas tanpa memikirkan perasaan seseorang. Aku juga masih memiliki perasan untuk menghormati orang lain yang ada di sekitarku."

__ADS_1


"Hazel." Rhein menengok Orlaf yang masih sibuk dengan kertas gambarnya. "Hazel yang terjadi denganku dan Renata malam Itu adalah hal yang aku sendiri tidak sadari."


__ADS_2