
Hazel berkutat di dapur, dia akan membuat makan malam untuknya dan Rhein.
Hingga pukul delapan malam Rhein juga belum menampakkan batang hidungnya. Perut Hazel sudah keroncongan karena lapar.
"Rhein ini ke mana? Dia bekerja apa ketiduran di kantornya? Berangkat seenaknya, pulang juga seenaknya," gerutu Hazel.
Dia akhirnya memutuskan untuk makan malam duluan karena sudah sangat lapar.
Sesudah makan, Hazel merapikan meja makan dan dia menyimpan makanan karena siapa tau nanti malam Rhein pulang dan ingin makan.
Hazel menonton televisi. Sampai dia menguap beberapa kali. Hari ini dia sedang libur bekerja, sehingga dia mau menghabiskan waktu bersantai di apartemen Rhein.
Hazel merasakan udara di sana semakin dingin, dia akhirnya beranjak untuk masuk ke dalam kamar Rhein saja yang ada pemanasnya.
"Sudah jam sepuluh malam dan sepertinya Rhein tidak akan pulang. Sebaiknya aku tidur di kamarnya saja."
Hazel naik ke atas tempat tidur Rhein dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Hazel juga menyalahkan pemanas di kamar Rhein sehingga dia dapat tidur tanpa kedinginan.
__ADS_1
Di luar memang sedang turun salju. Suasana semakin bertambah dingin.
***
Keesokan harinya, Hazel yang terbangun karena alaram dari ponsel barunya yang memang dia setting pukul lima pagi agar dia bisa berolah raga dan membersihkan apartemen Rhein.
"Perutku kenapa berat sekali?" ocehnya sambil mengerjapkan kedua matanya.
Hazel memegang sebuah benda keras dan dia merabanya perlahan. Kedua matanya seketika melihat pada perutnya dan alangkah terkejutnya dia melihat ada sebuah tangan yang sedang melingkar memeluk perutnya.
Dengan gerakan patah-patah, Hazel melihat ke arah belakangnya, di mana dia merasakan hawa hangat menyentuh tengkuk lehernya.
Glek
"Jangan melihatku terus, kita tidur lagi saja, udaranya begitu dingin," ucap Rhein dengan mata masih tertutup.
"Rhein! Kamu sudah bangun? Kenapa masih memelukku?" Hazel langsung menyingkirkan tangan Rhein, tapi pria itu seolah tidak ingin melepaskan Hazel, dan malah memeluk Hazel lebih erat.
"Rhein! Lepaskan! Jangan tidur di sini."
__ADS_1
Rhein membuka kedua matanya. "Lalu, aku tidur di mana? Ini kamarku, Hazel."
"Iya, ini memang kamar kamu, tapi kenapa tidak membangunkan aku kalau mau tidur di sini? Aku bisa pindah." Hazel masih berusaha melepaskan tangan Rhein.
"Tidak perlu pindah. Kamu di sini saja, lagi pula aku tidak akan berbuat apa-apa denganmu. Kamu bukan tipe wanita yang aku ingin ajak bercinta."
"Memangnya siapa yang ingin bercinta denganmu, Rhein."
"Ya sudah, kita tidur saja, aku mengantuk Hazel."
"Tapi--."
"Diam! Dan kembali tidur." Rhein malah kembali memejamkan kedua matanya dan masih memeluk Hazel seolah Hazel adalah sebuah Teddy bear besar.
Hazel terdiam dalam pelukan Rhein. Dia tidak berani berontak lagi, daripada nanti Rhein marah. Hazel yang kelamaan terdiam akhirnya tertidur lagi.
Siang hari, udara yang masih terasa dingin itu semakin membuat dua orang yang tidak memiliki hubungan, tapi tidur dalam satu ranjang itu lebih nyenyak tidurnya, sehingga mereka tidak tau jika matahari sudah berada di tegah-tengah.
Tidak lama terdengar suara ponsel milik Rhein yang dilekatkan di atas meja sebelah Rhein.
__ADS_1
"Siapa yang sudah mengganggu tidurku? Aku benar-benar lelah hari ini." Tangan Rhein meraih ponselnya dan ada nama mommynya. Kedua mata Rhein tampak membulat.