
"Hazel setelah makan malam kita kamu mau pergi ke mana?"
"Pergi ke mana?" Hazel bingung.
"Mungkin kamu ingin ke suatu tempat."
Hazel menggeleng. "Kita pulang saja, bukannya mommy bilang kalau kamu tidak boleh membawaku pulang larut malam."
"Tidak akan sampai larut malam, Hazel."
"Sebaiknya kita pulang saja, bukannya kamu besok ada pertandingan basket."
"Iya, hanya pertandingan persahabatan. Apa besok kamu mau ikut aku meyaksikan aku bertanding?"
"Apa aku boleh datang?"
"Tentu saja boleh. Kamu akan duduk di bangku paling depan."
"Apa boleh aku mengajak si kembar? Supaya semakin ramai yang nanti mendukung kamu di sana, Orlaf."
"Tentu saja, kamu boleh mengajak mereka, tapi aku tidak bisa berangkat bersama kamu, bagaimana kalau besok supir yang mengantar kamu dan si kembar?"
"Atau aku minta tolong si kembar untuk menjemputku saja."
"Ide yang bagus. Besok aku tunggu kedatangan kamu, Sayang. Aku akan lebih semangat untuk bertanding." Tangan Orlaf mengusap pipi Hazel.
Di restoran mewah dia mana Rhein dan mommynya sedang diundang makan malam, di sana tampak teman-teman mommynya Rhein yang memuji ketampanan putra kedua Keiko yang jarang sekali mereka ketahui karena memang Rhein tidak pernah dikenalkan pada teman mommynya.
Kalau Akira dan Orlaf mereka tau karena yayasan amal yang Keiko bangun, salah satu anggotanya adalah Akira dan Orlaf. Rhein juga diikutkan, tapi Rhein hampir tidak pernah datang di acara pertemuan.
Jadi, sekarang mereka baru melihat sosok putra kedua Keiko.
"Rhein, apa kamu sudah punya kekasih?"
"Aku memiliki kekasih," jawab Rhein singkat dengan menghabiskan segelas orange jusnya.
"Oh ya, Rhein, kata mommy kamu, kamu bekerja di perusahaan yang bekerja dengan para model cantik. Tante dulunya seorang model untuk sebuah majalah, kalau kamu membutuhkan seorang mode, Tante mau jadi model untuk perusahaan kamu." Tangan wanita paruh baya itu mengusap lembut lengan tangan Rhein.
Rhein tampak berpikir sejenak. Dia mengamati wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.
"Tante cocoknya menjadi model apa?"
"Terserah kamu, Rhein."
"Apa produk Pampers untuk orang tua?"
"Oh Tuhan, Rhein! Apa tidak ada produk lainnya yang lebih baik?"
Mereka semua malah tertawa. Tidak lama datang seorang wanita paruh baya yang usianya sama dengan mommy Rhein, dan dia datang dengan seorang wanita muda seumuran Nala.
__ADS_1
Wanita muda itu memang manis dan tampak memiliki aura keibuan. Keiko berdiri dari tempatnya dan mendekatkan wanita yang baru datang dengan putrinya itu.
"Dina, aku senang kamu akhirnya datang juga. Aku kira kamu tidak jadi datang karena tadi aku hubungi tidak kamu jawab."
"Aku minta maaf, aku tidak mendengar panggilan masuk. Oh ya! Perkenalkan ini putriku yang baru saja datang Swiss dan dia akan bekerja di sini."
"Wah! Cantik sekali putri kamu, Dina. Siapa namanya?"
"Nama saya Dinda, Tante," ucap gadis itu sopan.
"Nama yang indah," puji Keiko. Keiko kemudian memanggil Rhein yang malah asik bercanda dengan para tante teman mommynya.
"Ada apa, Mom?"
"Rhein, perkenalkan ini anak dari sahabat Mommy yang ingin mommy kenalkan sama kamu."
"Maksud, Mommy?"
"Rhein, selain mommy ingin meminta tolong kamu mengantarkan mommy, mommy juga ingin memperkenalkan kamu dengan gadis cantik ini."
Rhein tersenyum aneh, dia sekarang tau maksud mommynya meminta tolong untuk diantarkan adalah ingin memperkenalkan anak sahabatnya dengan Rhein. Kata lainnya Rhein ingin dijodohkan dengan gadis itu.
"Apa ini putramu yang bernama Rhein?"
"Iya. Rhein, kenalkan ini Tante Dina, dan ini putrinya bernama Dinda."
Rhein akhirnya mau berkenalan, padahal dia sebenarnya ingin langsung pergi saja dari sana setelah tau niat mommynya mengajaknya ke acara itu.
"Rhein," panggil Keiko. Keiko berjalan mendekati putranya. "Rhein, mommy harap kamu jangan membuat mommy malu di sini."
"Maksud Mommy apa?"
"Jangan berpikir untuk meninggalkan mommy di sini sendirian karena kamu tidak mau dikenalkan pada gadis itu."
Rhein malah terkekeh pelan. "Mommy cenayang, ya? Kenapa bisa membaca pikiranku?"
"Kamu lupa jika aku adalah mommy kamu." Gantian wanita cantik itu tersenyum miring pada putranya.
"Iya, aku salah memilih lawan."
"Ya sudah, sekarang kamu ke kamar mandi dan secepatnya kembali ke sini karena kamu harus banyak berkenalan dengan Dinda. Lihat dia, Rhein, Dinda gadis yang cantik dan sangat kalem."
Rhein melihat biasa saja pada gadis yang sedang duduk dengan para teman mamanya. Dinda terlihat cepat akrab dengan para teman mamanya.
Rhein berjalan menuju kamar mandi dan tidak lama dia keluar, tapi malah dia terhenti langkahnya saat melihat ada seseorang yang sangat dia kenal mau masuk ke dalam kamar mandi.
"Hazel? Kamu kenapa ada di sini?"
"Aku diajak Orlaf ke sini karena dia ingin melihat calon istrimu."
__ADS_1
"Apa? Calon istri? Aku tidak memiliki calon istri."
"Aku tidak tau akan hal itu. Permisi, aku mau masuk ke dalam kamar mandi."
"Calon istriku itu kamu, Hazel."
Hazel terdiam menatap Rhein. "Aku calon istri dari adikmu, Rhein."
"Hal itu terjadi jika aku mengizinkan."
"Aku tidak mau berlama-lama di sini. Aku mau ke kamar mandi dulu."
Hazel yang berjalan ke kiri, malah diikuti Rhein ke kiri, dan dia yang berjalan ke kanan, diikuti juga oleh Rhein ke kanan.
"Rhein! Kamu mau ke mana? Aku mau pergi ke kamar mandi," ucap Hazel kesal.
"Apa saja yang kamu lakukan dengan Orlaf saat makan malam tadi?"
Hazel terdiam. "Itu bukan urusan kamu, Rhein."
Tiba-tiba Hazel mendelik kaget saat pinggang Hazel ditarik dan tangan Rhein melingkar pada pinggang Hazel.
"Rhein! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan! Aku tidak mau sampai Orlaf atau tante Kei melihat kita seperti ini."
"Hazel, aku akan bicara pada Orlaf tentang siapa pria yang kamu cintai. Orlaf harus tau jika kamu mencintaiku dan bukan dia."
"Sejak kapan seorang Rhein mengenal arti kata cinta?" Hazel tersenyum meremehkan.
"Sejak aku kehilangan kamu, bahkan mungkin sebelum itu. Aku benar-benar mencintaimu, Hazel."
"Lupakan semua itu, Rhein."
"Tidak mungkin. Hazel, aku akan pergi ke Orlaf sekarang juga, dia harus mendengarkan semua yang akan aku katakan."
"Jangan lakukan itu, aku tidak mau menyakiti hati Orlaf, lagi pula aku sudah memutuskan untuk bersama dengan Orlaf dan melupakan kamu."
"Apa? Hazel, kamu mencintaiku dan aku juga mencintai kamu. Kita bisa bersama, aku mau kamu menjadi istriku, Hazel."
"Sudah terlambat, Rhein. Aku sudah memutuskan untuk melupakan kamu dan semua rasa cintaku sama kamu." Hazel menatap Rhein dengan tajam.
"Kamu tidak mencintai Orlaf, kamu hanya ingin membalas kebaikan Orlaf sama kamu dan aku akan mengatakan tentang perasaan yang kita berdua rasakan." Rhein melepaskan pelukan tangannya.
"Kalau kamu lakukan itu, aku pastikan kalau kamu akan kehilangan diriku juga Rhein karena aku tidak akan memilih kamu walaupun aku tidak bersama dengan Orlaf."
Kedua rahang tegas Rhein mengeras mendengar apa yang dikatakan oleh Hazel.
"Apa kamu ingin membalas dendam padaku, Hazel? Atau kamu ingin menghukumku atas rasa sakit yang sudah aku berikan sama kamu?"
"Tidak ada yang perlu aku balas karena aku tau jika kamu sudah mendapatkan balasannya."
__ADS_1
Hazel berjalan pergi dari hadapan Rhein dan dia masuk ke dalam kamar mandi.