
Kei tampak terkejut mendengarkan apa yang sahabatnya itu katakan. Wajah Kei seketika menahan marah, dia menyuruh Dina dan Dinda duduk di sana. Kei masuk ke dalam ruang makan dan dia dengan cepat menyeret putranya keluar ikut bersamanya.
Semua yang di sana melihat dan tampak terkejut dengan sikap Kei. Bahkan panggilan suaminya pun tidak Kei gurbris.
"Mommy, ada apa sih?"
"Sayang, mommy kenapa?" tanya Nala yang khawatir dengan apa yang dilakukan ibu mertuanya pada adik iparnya.
Semua orang meninggalkan meja makan dan menyusul Kei dan Rhein ke ruang tamu.
"Rhein, jika kamu bukan seorang pengecut! Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan pada Dinda."
"Apa? Memangnya apa yang sudah aku lakukan pada Dinda?" Rhein benar-benar bingung.
"Apa? Kamu tanya apa? Rhein, kamu susah tidur dengannya dan jangan bilang jika kamu tidak ingin menikahinya."
"Apa? Mom! Aku tidak pernah tidur dengan Dinda." Rhein melihat pada Dinda dengan wajah tidak percaya.
Gadis yang ada di samping mamanya itu sedang menangis tersedu-sedu. "Ma, aku mau pulang saja, aku malu, Ma!"
Hazel tampak menahan tubuhnya yang ingin jatuh dengan berpegang pada kursi di depannya. Dia tidak menyangka jika pria yang masih sangat dia cintai itu tetap saja tidak berubah.
Rheim mendekat pada Dinda yang masih menangis. "Dinda, kita kemarin tidak sampai berbuat jauh seperti apa yang kamu katakan. Aku mengantar kamu pulang dan kita tidak melakukan apa-apa."
Dinda berdiri di depan Rhein dengan wajah sembab. "Aku sudah katakan jika aku menerima perjodohan ini dan aku mau menikah denganmu, bahkan aku sudah mencintaimu dengan tulus, dan--." Dinda kembali menangis.
"Dan apa?" Rhein seolah kesal dengan gadis di depannya ini yang terlihat sedang bermain peran.
"Dan aku mau menyerahkan diriku sama kamu, tapi setelah itu kamu bilang tidak mau menikah denganku dan akan membatalkan pertunangan ini."
Rhein memang berencana melakukan hal itu. Bagaimanapun dia tidak akan menikah atau bahkan belajar mencintai seseorang lagi. Lebih baik dia akan memilih hidup sendirian.
__ADS_1
"Rhein, apa benar yang dikatakan oleh Dinda?" Pria dengan wajah tegas yang tak lain adalah ayah Rhein bertanya dengan sudah memasang wajah sangarnya.
"Dad, aku memang tidak bisa meneruskan pertunangan dengan Dinda karena aku mencintai orang lain."
Hazel sudah takut saja jika Rhein mengatakan siapa yang dia cintai.
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat pada wajah Rhein membuat semua yang di sana terkejut. Hazel pun seketika meneteskan air mata melihat pria yang dia cintai mendapat tamparan seperti itu.
"Dad." Akira seketika menahan daddy-nya agar tidak menyakiti adiknya.
"Daddy benar-benar lelah berbicara denganmu, Rhein! Sudah cukup perbuatan selama ini yang kamu lakukan. Apa yang kamu dapatkan dengan bersenang-senang dengan banyak wanita di luar sana?"
"Aku memang suka bersenang-senang dengan merkwa, tapi itu semua aku lakukan karena mereka sendiri yang menyerahkan dirinya padaku. Aku tidak pernah memaksa mereka sama sekali."
"Daddy tidak mau tau. Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan pada Dinda. Nikahi dia secepatnya dan jangan membuat keluarga Danner mendapat malu karena apa yang sudah kamu lakukan."
"Kamu kejam sekali, Rhein."
Plak
Sekali lagi Rhein mendapat tamparan dan kali ini dia mendapat tamparan dari seorang gadis.
Rhein malah tersenyum miring. "Aku tidak peduli kamu mau menamparku berapa kali, tapi jangan pernah bermimpi aku akan menikah denganmu. Dinda, sebenarnya apa yang kamu inginkan dari pernikahan ini? Jangan bilang karena kamu sudah jatuh cinta padaku karena semua itu bulshit. Aku bisa merasakan apa itu perasaan cinta atau hal lainnya." Rhein menatap tajam pada Dinda.
"Rhein, putriku benar-benar jatuh cinta sama kamu sampai dia berani melakukan hal itu. Dia saja berpacaran dengan seseorang tidak pernah sampai ingin melakukan hal itu, tapi karena dia benar-benar jatuh cinta sama kamu dan yakin jika kamu akan menjadi calon suaminya yang tepat untuknya. Makannya itu dia mau melakukannya. Kalau sekarang kamu tidak mau menikah dengannya. Lantas, bagaimana dengan masa depan putriku?" Wanita paruh baya itu menangis di pelukan Kei.
"Rhein, Daddy ingin kamu bertanggung jawab. kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, lebih baik kamu pergi dari rumah ini dan kamu tidak akan diakui lagi menjadi keluarga Danner."
"Dad, kenapa sampai seperti itu? Semua ini bisa dibicarakan baik-baik." Akira seolah tidak terima dengan keputusan daddynya.
__ADS_1
"Akira, kamu tau siapa adikmu ini. Dia selalu berbuat seeenaknya dan dia benar-benar membuatku kesal."
"Silakan saja jika aku tidak diakui lagi oleh Daddy. Bukannya selama ini memang seperti itu," ucap Rhein enteng.
"Rhein!" Tangan pria paruh baya itu terangkat kembali, tapi dengan cepat Nala berdiri di depan adik iparnya itu. Nala ini merasa jika apa yang dikatakan Rhein adalah benar. Dia tidak bersalah dalam hal ini, melihat Rhein sangat kekeh dengan pendiriannya. Nala ini tau siapa Rhein.
"Daddy jangan! Nala mohon agar kita bicarakan ini dulu.
Hazel yang berdiri di tempatnya tampak menghapus air matanya. Hatinya terasa sakit sekali melihat semua ini, tapi dia tidak tau harus berbuat apa.
"Kei, sekarang nasib anakku bagaimana?"
"Dina, nanti akan kita bicarakan masalah ini. Kamu tenang dulu karena aku dan suamiku pasti akan mencari solusinya dan putraku akan bertanggung jawab dengan putrimu. Dinda akan tetap menjadi menantu keluarga Danner." Kei mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Addrian mengatakan akan bicara dengan putranya dan menyuruh Dina dan Dinda pulang dulu, dia akan mendapatkan jawaban secepatnya dari masalah ini.
Rhein berada di dalam kamarnya agar dapat menenangkan pikirannya. Addrian dan Kei serta Akira ada di ruang kerja untuk menenangkan pria tinggi besar yang sedang marah merasakan sikap putra keduanya itu.
Sedangkan Hazel bersama dengan Orlaf. Mereka ada di taman depan. Sebenarnya Hazel ingin sekali bicara dengan Rhein, tapi Orlaf seperti tidak mau jauh dari dirinya.
"Rhein, apa aku boleh masuk?" suara Nala ada di depan pintu kamar Rhein.
"Masuklah."
Nala masuk dengan membawa kotak obat. Dia duduk di depan Rhein yang terlihat sedang tidak baik.
"Aku mau mengobati luka merah pada pipimu."
Rhein melihat pada kakak iparnya itu dan dia kemudian memeluk Nala dengan erat. "Kenapa semua ini sangat menyakitkan, Nala."
Nala mengerti apa yang dimaksud oleh Rhein dan dia dapat merasakan kesedihan adik iparnya itu.
__ADS_1