
Keesokan harinya. Hazel yang bangun duluan tampak kaget merasakan ada tangan melingkar di perutnya.
"Rhein? Dia kapan datang? Dan kenapa dia pulang? Katanya dia mau menginap di tempat Renata?" Banyak pertanyaan di atas kepala Hazel.
Hazel memindahkan perlahan tangan Rhein agar tidak membangunkan pria yang adalah tuannya sekarang.
"Dia ini kenapa tidak membangunkan aku? Kalau tau dia pulang, aku tidak akan tidur di kamarnya. Lagi pula aku ini bukan istrinya, kenapa tiap tidur dia malah memelukku?"
Hazel sudah berhasil keluar dari dekapan Rhein dan dia pergi menuju dapur untuk memasak.
Beberapa menit kemudian Rhein terbangun dan tidak melihat Hazel di sampingnya.
"Dia Gadis Perawan yang Rajin ternyata." Rhein bangun dan dia keluar menuju dapur karena tau Hazel pasti ada di dapurnya untuk memasak.
Hazel memang sedang memasak mendendangkan sebuah lagu. Rhein di sana bersandar pada dinding memperhatikan Hazel sedang asik dengan penggorengannya.
"Kalau nanti dia tidak cocok dengan masakan buatanku, aku suruh saja dia masak sendiri," celoteh Hazel.
"Mau tau keahlianku dalam memasak?"
"Rhein?" Hazel kaget dan langsung menoleh ke arah belakang. "Sejak kapan kamu di sana?"
"Sejak kamu mengumpatku."
"Aku tidak mengumpat, aku hanya mengatakan jika kamu tidak suka masakan aku, kamu boleh memasak sendiri."
"Memangnya siapa di sini yang menjadi pelayan? Kamu harusnya belajar membuat masakan yang disukai oleh majikanmu."
Hazel membawa piring yang berisi masakan ke arah meja makan. "Rhein, wajah kamu kenapa?"
Rhein berjalan menuju kamarnya. Hazel dengan cepat mengejar dan menghalangi jalan Rhein.
"Kamu mau apa?"
"Wajah kamu kenapa itu? Ada bekas darah juga? Kamu habis disiksa wanita kamu?" Kedua mata Hazel mendelik.
Rhein yang mendengar malah tertawa lepas. "Dasar Gadis Perawan Aneh. Kamu pikir wanitaku itu seorang petarung di Ring? Aku itu habis berkelahi oleh beberapa orang."
"Sini ... Sini!" Hazel tiba-tiba menggandeng tangan Rhein dan menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu mau apa?"
"Diam di sini ya, Rhein." Hazel berjalan menuju arah dapur kembali
"Siapa dia main perintah saja."
Hazel berlari dengan membawa kotak obat, tapi Rhein sudah menghilang.
__ADS_1
"Dia hilang ke mana?" Hazel celingukan dan dia melihat Rhein baru masuk ke ruang di mana dia biasa nge-gym.
Hazel segera menyusul Rhein masuk ke dalam ruang gym.
"Rhein, kamu itu aku suruh menunggu di sana malah pergi."
"Memangnya kamu siapa main perintah padaku?" Rhein sedang melakukan angkat barbel.
"Aku mau mengobati luka kamu. Luka kamu itu harus diolesi obat." Tangan Hazel mencoba menyentuh luka Rhein, tapi Rhein malah reflek menepisnya kasar.
"Minggir!"
"Auw!" Hazel mengerang kesakitan karena tangannya terbentur tiang di belakangnya.
Rhein yang melihat juga agak kaget. "Jangan sok perhatian denganku, Hazel."
"Kalau tidak mau diobati juga tidak apa, tapi tidak perlu sekasar itu. Aku hanya ingin menolong saja, bukan perhatian." Hazel beranjak dari tempatnya.
"Hazel!" panggil Rhein, tapi Hazel tidak memperdulikan, dia memegangi tangannya.
Rhein menaruh barbelnya dan mengejar gadis bernama Hazel itu.
Rhein dengan cepat menarik tangan Hazel dan saat Hazel tidak siap, tubuhnya menabrak Rhein. Rhein dengan cepat mencium bibir Hazel dengan dalam.
Kedua mata gadis itu membulat menatap Rhein yang sekarang bibirnya masih melekat pada bibir Hazel
"Sudah tidak marah denganku, kan?" tanya Rhein cepat.
Hazel hanya terdiam dengan mata berkedip-kedip.
"Kenapa malah diam? Katanya mau mengobati lukaku. Sini!" Gantian Rhein yang menggandeng tangan Hazel dan mengajaknya duduk di bangku yang ada di tempat gym.
"Sekarang obati lukanya."
"Oh .... Iya." Hazel mengambil obat dan perlahan-lahan mengobati luka yang ada di wajah tampan Rhein.
"Pelan-pelan Hazel. Rasanya perih."
"Kenapa kamu sampai berkelahi? Apa mereka mau merampok kamu?"
"Aku tidak tau maksud mereka yang menyuruhku bertemu dengan Tuannya yang bernama Sam."
"Sam? Pria?"
"Tidak tau? Aku saja belum pernah bertemu apa lagi melihatnya."
"Kalau pria, mungkin kamu memiliki hubungan dengan kekasihnya, atau dia menyukai kamu."
__ADS_1
"Hei! Apa maksudmu!" seru Rhein kesal.
Hazel malah terkekeh kecil. "Bisa saja, kan? Aku hanya menebaknya. Kalau dia wanita, mungkin dia suka kamu."
"Kalau suka kenapa malah menyuruh para pengawal yang wajahnya menyeramkan semua? Dia langsung saja menemuiku, aku akan langsung membawanya ke⁰ tempatku."
"Huft! Dasar playboy sok tampan."
"Memang aku tampan." Hazel memutar bola matanya jengah. "Oh ya! Kemarin kenapa kamu tiba-tiba menghubungiku? Apa kamu merindukan aku?"
"Siapa yang merindukan kamu? Aku menghubungimu karena--." Hazel seketika terdiam di tempatnya.
"Karena apa? Kenapa kamu seolah ingin membuat aku penasaran? Katakan! Atau aku akan memaksamu membuka mulut dengan caraku."
"Aku memimpikan kamu, Rhein," ucap Hazel cepat.
Seketika terdengar suara tawa Rhein. "Kamu memimpikan aku? Aku bisa menebak apa yang kamu impikan. Pasti kamu bermimpi sedang bercinta denganku, kan? Oleh karena itu kamu menghubungiku dan berharap hasratmu itu bisa tersalurkan."
Wajah Hazel ditekuk kesal. Bisa-bisanya si Rhein berpikir seburuk itu tentang Hazel.
"Pikiranku tidak seburuk yang ada di pikiran kamu, Rhein. Aku bermimpi melihat kamu berlumuran darah, makannya aku mencoba menghubungi kamu karena khawatir."
Rhein yang dari tadi masih tertawa seketika memelankan suara tawanya dan melihat pada Hazel.
"Khawatir? Kamu menyukaiku, ya?"
"Apa orang khawatir itu berarti dia suka? Aku khawatir karena kamu di sini sendirian dan keluarga kamu jauh. Aku malas jika harus di tanya tentang kamu kalau ada apa-apa denganmu."
Hazel berdiri dengan wajah malas setelah menempelkan plester pada tepi bibir Rhein.
"Gadis Perawan, kamu mau ke mana?"
"Makan, Tuan Rhein. Capek bicara terus sama kamu."
Rhein tersenyum miring. Dia mulai nyaman dengan Hazel di sana, padahal sebelumnya dia sulit sekali merasa nyaman dengan seseorang.
Rhein menyuruh Hazel makan pagi bersamanya di atas meja makan. Hazel tidak harus makan sendirian di meja pantry.
"Gadis Perawan, setelah ini kamu bersiap-siaplah untuk ikut bersamaku."
"Memangnya kamu mau mengajakku ke mana? Jalan-jalan? Kamu tidak kerja, Rhein?"
"Justru kita pergi ini untuk bekerja, dan kamu juga mulai hari ini akan bekerja menjadi model yang pernah aku katakan waktu itu."
"Apa? Secepat ini, Rhein? Tapi aku belum siap? Nanti kalau aku salah pas berjalan bagaimana?"
"Kamu tenang saja, kalau kamu nanti mau jatuh, aku akan dengan senang hati menggendong kamu." Rhein mengedipkan salah satu matanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu berharap aku jatuh? Aku benar-benar belum siap, Rhein." Wajah Hazel sudah tampak bingung saja.