Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Makan Malam part 2


__ADS_3

Malam ini Rhein sudah tampil sangat rapi dan gagah. Kemeja berwarna hitam dan celana berwarna hitam serta dasi panjang berwarna merah melekat pas pada tubuh Rhein.


Dia keluar dari kamarnya dan tidak sengaja malah berpapasan dengan Hazel.


Rhein terpaku melihat penampilan Hazel malam ini. Hazel menggunakan dress berwarna hitam selutut dengan lengan u can see. Rambutnya yang di gelung ke atas rapi dan ada jepitan berbentuk kupu-kupu dengan hiasan swarovski. Leher Hazel yang putih mulus tampak terlihat begitu manis.


"Kamu mau pergi juga, Hazel?"


"Iya, Orlaf mengajakku makan malam."


"Apa? Orlaf mengajak kamu pergi makan makan? Kamu mau menerimanya?"


"Tentu saja, Kak Rhein, aku kekasih Orlaf dan kita akan pergi makan malam berdua."


"Hazel, aku sudah bilang, jangan panggil aku Kak Rhein karena aku bukan kakak iparmu. Hal itu tidak akan pernah terjadi."


Hazel hanya terdiam dan mereka saling menatap dalam beberapa menit.


"Wah..! Cantik sekali kekasihku ini," Puji Orlaf yang naik ke lantai atas. Dia ternyata sudah ada di bawah menunggu Hazel.


"Kamu juga sangat tampan malam ini Orlaf," puji Hazel.


Rhein yang tidak mau mendengar mereka saling melempar kata pujian langsung berjalan pergi dari sana.


"Dia kenapa? Kenapa wajahnya seperti itu?"


Hazel yang sebenarnya tau kenapa Rhein seperti itu hanya menggedikkan bahunya ke atas dengan acuh.


"Kita pergi sekarang saja, Orlaf."


"Okay, kekasihku yang cantik." Tangan Orlaf menggandeng tangan Hazel dan mereka turun ke lantai bawah.


Di lantai bawah ternyata ada mommy dan Rhein. "Sayang, kamu cantik sekali malam ini."


"Terima kasih, Tante. Tante juga sangat cantik sekali."


"Orlaf, nanti jangan membawa Hazel pulang larut malam karena mommy tidak mengizinkan."


"Ya sudah, kalau begitu aku akan membawa pulang Hazel besok pagi saja. Kan, tidak larut malam?"


"Dasar anak nakal." Tangan Kei menepuk lengan tangan putranya.

__ADS_1


Orlaf memeluk mommynya dan berjalan di depan Hazel dan Rhein yang berjalan perlahan. Hazel masih memikirkan tentang Rhein yang akan dijodohkan oleh seorang gadis malam ini.


"Rhein!" Hazel berseru pelan sambil memegangi pipinya yang dicium oleh Rhein dengan cepat.


"Kamu cantik sekali malam ini," ucap Rhein lirih dan dia mengedipkan salah satu matanya.


Dalam hatinya, Hazel tersenyum dengan perlakuan menggemaskan, tapi manis yang Rhein lakukan.


Hazel pergi dengan Orlaf ke arah timur dan Rhein serta mommynya pergi ke arah lainnya.


Di dalam mobil Hazel hanya terdiam mengingat apa yang tadi baru saja Rhein lakukan.


"Hazel, kamu kenapa? Apa kamu tidak suka aku ajak makan malam?"


"Bukan begitu, Orlaf, aku sebenarnya senang kamu ajak makan malam, tapi aku merasa takut membuat suasana tidak nyaman karena aku tidak pernah pergi berkencan makan malam dengan kekasihku."


Orlaf tertawa mendengar Hazel yang ternyata gerogi karena baru pertama diajak makan malam oleh seseorang.


"Kamu santai saja, Hazel. Aku tidak akan membuat kamu merasa tidak nyaman. Anggap saja kita sedang makan malam seperti kita makan malam di rumah."


"Iya." Hazel lagi-lagi berbohong dengan Orlaf.


Tidak lama mereka sampai di sebuah restoran yang terlihat begitu mewah dan besar.


"Iya, kita akan makan malam di sini. Ayo kita masuk." Orlaf menggandeng tangan Hazel dan masuk ke dalam restoran mewah itu. Saat pintu dibuka seorang pelayan wanita menyambut mereka berdua. Dia membawakan buket bunga mawar merah berukuran sedang.


"Mawar merah yang cantik untuk nona Hazel yang cantik," kata pelayan itu dan dia memberikan buket bunga itu.


"Terima kasih."


Pelayan itu kemudian membawa Hazel ke ruangan khusus yang ternyata sudah Orlaf pesan.


Saat Hazel membuka pintu besar yang terbuat dari kaca tebal, dia kembali terkejut karena Hazel disambut oleh pemain biola yang memainkan biolanya dengan baik.


"Orlaf, kenapa kamu melakukan semua ini?"


Orlaf memegang tangan Hazel. "Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu, Hazel."


Hazel tersenyum seolah dia merasa bersalah karena sampai saat ini, detik ini, dan walaupun dia diajak makan malam oleh Orlaf. Hatinya ada pada Rhein yang sekarang juga sedang bertemu dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya.


"Hazel, kamu melamun apa?"

__ADS_1


"A-aku hanya masih tidak percaya dengan semua ini. Orlaf, kenapa kamu sangat peduli denganku? Jujur semua ini terlalu istimewah untukku."


"Kamu pantas mendapatkan hal yang istimewa karena kamu gadis yang sangat berharga. Apa kamu mau berdansa denganku?"


"Tapi aku tidak bisa berdansa Orlaf."


"Aku akan menuntun kamu perlahan-lahan." Orlaf memposisikan tangan Hazel dan kemudian mereka mulai berdansa berdua karena yang ada di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua dan sang pemain biola.


Tubuh Hazel tampak diputar-putar oleh Rhein. Hazel terlihat tersenyum kecil.


Sampai akhirnya Orlaf berhenti dan mereka sekarang berdansa dengan musik yang agak pelan.


"Hazel, apa kamu bahagia menjadi kekasihku?"


"Tentu saja aku bahagia menjadi kekasih kamu, Orlaf."


"Apa kamu sudah bisa melupakan pria yang kamu cintai?"


Pertanyaan Orlaf ini benar-benar membuat Hazel jadi panas dingin karena bingung menjawabnya.


"Aku sudah berusaha melupakannya, perlahan-lahan dia akan aku keluarkan dari dalam hatiku, Orlaf."


"Iya, aku tau, dan aku akan membantu kamu melupakan dia." Tangan Orlaf menelusup pada ceruk leher Hazel dan mendekatkan wajah Hazel.


Hazel tau jika Orlaf ingin menciumnya. Hazel sebenarnya tidak siap akan hal itu, tapi apa dia bisa menolak? Lantas, apa alasan dia menolak ciuman dari kekasihnya? Sedangkan Rhein yang bukan kekasihnya, boleh dengan seenaknya menciumnya.


Ciuman antara Orlaf dan Hazel pun terjadi. Orlaf mencium bibir Ha dengan sangat dalam dan dia menyukainya. Beda dengan Hazel, dia malah teringat akan ciuman yang Rhein berikan waktu itu.


Orlaf menatap Hazel dengan begitu dalam. "Aku berjanji akan selalu memberikan kamu kebahagiaan, Hazel."


Hazel tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Orlaf.


"A-aku juga ingin membuat kamu bahagia Orlaf." Hazel benar-benar merasa sangat bersalah pada Orlaf, apa lagi dia melihat tatapan kedua mata Orlaf yang terpancar suatu ketulusan.


Orlaf pria yang tulus dan Hazel tau Orlaf serius mencintainya.


'Oh God! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus melupakan Rhein dari hatiku? Dan entah kenapa hati aku mulai percaya waktu Rhein mengatakan jika dia mencintaiku?'


Hazel benar-benar bingung dengan semua ini. Apa yang harus Hazel lakukan?


Orlaf mengajak Hazel makan malam, dia sesekali menyuapi gadis yang sekarang sangat dia cintai.

__ADS_1


Hazel masih berperang dengan hatinya saat ini. Dia sekarang berharap Rhein membantunya agar bisa melupakan cintanya. Hazel akan berusaha membuat hatinya membenci Rhein saja agar dia bisa mencintai Orlaf.


__ADS_2