
Rhein akhirnya mengaku jika dia sudah beberapa hari di sini, tapi dia tidak bisa menemui mommynya karena urusannya di sini belum selesai.
"Urusan mengenai apa sampai kamu tidak bisa menemui mommy-- orang yang sudah melahirkan dan membesar kamu?"
"Oh God! Mommy jangan mulai menggunakan perasaan, tidak perlu dibesar-besarkan, Mom." Rhein memeluk mommynya.
"Rhein, ini bukan masalah dibesar-besarkan, tapi kamu itu putraku dan aku mommy kamu, seharusnya mommy ini diutamakan dulu, apa lagi kamu anak laki-laki. Belum menikah juga."
"Tidak perlu dijelaskan kalimat terakhirnya, Mom."
"Rhein, mommy tidak mau berdebat sama kamu, apa lagi ini di tempat umum. Nanti sore kamu pulang ke rumah."
"Tidak bisa, Mom. Urusanku di sini belum selesai."
"Urusan apa? Pasti soal wanita lagi."
"Memang ini berhubungan dengan seorang gadis, tapi gadis ini sangat penting bagiku, Mom."
Mommynya melepaskan pelukan putranya. "Tumben kamu sangat mengejar seorang gadis? Apa dia hamil, Rhein?" Kedua mata Mommynya mendelik.
"Hamil?" Rhein baru sadar jika Hazel pasti bisa hamil setelah berhubungan dengannya waktu itu, apa lagi waktu itu Rhein tidak menggunakan alat pengaman. Rhein tampak melamun sejenak.
"Rhein, apa benar kamu menghamili seorang gadis?" Tangan mommynya sampai menggoyangkan tubuh Rhein.
"Dia--? Mungkin saja, Mom."
"Apa maksud kamu mungkin saja?" Wanita cantik itu tampak bingung.
"Tidak tau, Mom. Aku baru melakukan pertama dengannya. Dia juga pertama kali denganku."
"Ya Tuhan, Rhein! Kapan kamu berubah?" Wanita itu tampak menyerah dengan putranya ini.
"Mom, ini aku sudah menuju hal yang lebih baik. Gadis ini yang sudah membuatku ingin memiliki keluarga."
"Kamu serius? Lantas kenapa kamu mencarinya? Dia kenapa meninggalkanmu?
"Ceritanya panjang, Mom."
"Lebih baik kamu pulang dan tinggal di rumah beberapa hari. Mommy ingin mengenalkan kamu dengan calon anggota baru keluarga kita."
"Anggota baru? Siapa? Apa Daddy pulang membawa wanita lain?"
"Ih ...! Anak nakal!" Tangan Mommynya mencubit lengan tangan Rhein dengan kesal.
__ADS_1
"Tidak sakit, Mom," ucap Rhein datar.
"Daddy kamu itu beda dengan kamu, Rhein. Dia sangat mencintai mommy dan hanya mommy wanita di dalam hidupnya.
"Tentu saja, Daddy tidak akan berani berbuat macam-macam. Mau dipangkas habis nanti sama kakek." Rhein terkekeh.
"Rhein, kamu boleh tidak pulang hari ini, tapi nanti saat adik kamu bertunangan, kamu harus pulang."
"Tunangan? Siapa gadis yang mau sama dia?"
"Dasar kamu! Sudah pokoknya kamu harus pulang nanti kalau adikmu bertunangan."
"Iya. Mom, aku pergi dulu karena aku masih ada urusan penting." Rhein dengan cepat mengecup pipi mommynya dan pergi dari sana.
"Anak itu benar-benar susah sekali diatur." Wanita cantik itu mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling tempat itu, tapi orang yang dia cari tidak ada. "Ke mana para gadis itu pergi? Mereka tidak mungkin pulang duluan.
Wanita paruh baya itu berjalan pergi dari tempat berbelanja setelah membayar semuanya.
"Tante Kei, bagaimana dengan penampilan Hazel?"
Wanita yang dipanggil Kei oleh si gadis kembar tampak melihat seorang gadis yang berdiri di depannya.
"Ini Hazel?" Dia tampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Oh Tuhan! Kamu cantik sekali. Apa kalian yang sudah membuat Hazel secantik ini?"
"Tentu saja. Hazel, aku sudah bilang, kan, jika kamu memotong rambutmu, maka aura kecantikanmu akan terpancar keluar.".
"Kalian bisa saja."
"Tapi kamu benar-benar cantik, Sayang." Tangan itu mengusap lembut pada wajah Hazel.
"Terima kasih, Tante. Maaf, tadi tidak izin dulu sama Tante kalau aku dan si kembar pergi ke salon."
"Tidak apa-apa, malahan Orlaf nanti pasti akan mengatakan dia semakin mencintaimu."
"Apa? Orlaf mencintai Hazel?" Si kembar Sasa dan Sisi tampak kaget. Lalu, mereka melihat ke arah Hazel.
"Tentu saja Orlaf mencintai Hazel, bahkan mereka akan bertunangan," terang Tante Kei.
"Hazel, kenapa kamu tidak menceritakan sama kami kalau kamu sudah merebut pangeran impian kami?"
"Maaf, aku bukannya merebut, tapi Orlaf waktu itu tiba-tiba mengatakan cintanya padaku dan Tante Kei serta Om Adrian malah menyetujui hubungan ini dan memintaku untuk. bertunangan dengan Orlaf."
__ADS_1
"Kalian menyukai Orlaf?"
Sasa dan Sisi seketika mengangguk dengan cepat. "Tante, Tante apa tidak tau jika putra bungsu Tante menjadi idola di kampus kita?"
"Oh, ya? Kenapa aku tidak tau, Ya?" Kei melihat pada Hazel. Hazel hanya menanggapi dengan nyengir cantik.
"Tapi maaf karena sekarang Rhein sudah ada yang punya dan milik Orlaf."
"Tante jangan khawatir, kami ini setuju sekali jika Orlaf dengan sahabat baik kami ini."
"Iya,dari pada sama si Belinda sok itu. Sukurin! Orlaf tidak akan pernah bersama dengannya." Mereka berdua malah terkekeh pelan.
"Jadi, kalian tidak marah denganku?" tanya Hazel.
"Tentu saja tidak, Hazel. Malahan, kita sangat senang Orlaf bisa berpacaran dengan kamu." Mereka bertiga berpelukan.
Kei dan ketiga gadis itu pulang karena acara belanja mereka sudah selesai. Sebenarnya, tadi Hazel diajak mommynya Orlaf untuk belanja dan kebetulan dua gadis sahabat Hazel itu sedang ke rumah Hazel untuk main. Jad, sekalian saja si kembar ikut belanja sedangkan Orlaf tidak ikut karena dia ada tugas kuliah di kampus.
"Hazel, kamu memang cantik sekali dengan rambut barumu itu."
"Terima kasih, Orlaf."
"Saat tadi mommy bilang kalau si kembar sudah merubah gaya rambutmu, aku seketika tidak sabar ingin segera pulang dan bertemu dengan kamu."
"Jangan berlebihan seperti itu. Aku biasa saja."
Orlaf memegang kedua tangan Hazel dan mereka posisinya sedang berdiri di atas balkon atas ruang tengah.
"Hazel, apa kamu benar bahagia kita menjadi sepasang kekasih, bahkan akan bertunangan?"
"Tentu saja aku senang, Orlaf. Aku sangat senang bisa memiliki kamu."
Hazel tersenyum dan Orlaf mendekatkan wajahnya, mengusap lembut pipi Hazel dan dia lebih dekat lagi.
Bibir keduanya hampir saja menyatu jika mommy tidak datang untuk mengganggu mereka.
Sebenarnya Hazel juga belum siap jika harus memberikan ciumannya pada Orlaf, tapi jika dia menolaknya maka, Orlaf pasti akan kecewa dan menganggap Hazel tidak serius mau menerimanya.
"Mommy minta maaf jika harus mengganggu kemesraan kalian. Mommy hanya ingin mengatakan jika kue buatan Hazel tadi siang sudah jadi dan mommy ingin mengajak kalian menikmati kue itu bersama."
"Mommy kenapa hadirnya di waktu yang tidak tepat," gerutu Orlaf sambil berjalan malas melewati mommynya. Dia bahkan meninggalkan Hazel sendirian di tempatnya. Hazel yang berdiri di sana malah terkekeh pelan melihat wajah kesal Orlaf karena gagal berciuman dengannya.
"Mommy minta maaf, ya?" ucap wanita itu pada Hazel.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Mom." Dalam hatinya dia senang karena Tante Kei datang di waktu yang tepat.