
Hazel sekarang berada di taman dengan Orlaf. Mereka berdua sedang duduk sambil membawa ice cream di tangan masing-masing.
"Hazel, kenapa tidak di makan ice creamnya?"
Hazel menggeleng pelan. "Sayang sekali kalau di makan. Ini bentuknya lucu."
"Kalau tidak kamu makan, akan meleleh dan sama saja bentuknya akan berubah, malah sayang sekali sampai terjatuh di tanah."
"Tapi sayang sekali ini kalau di makan."
Tiba-tiba dengan gerakan cepat, mulut Orlaf sudah menyahut saja ice cream yang dipegang oleh Hazel.
"Orlaf! Kenapa di makan?" Hazel tampak kaget karena ice creamnya sudah berubah bentuknya.
"Sayang kalau jatuh ke tanah. Kan, lebih baik masuk ke dalam perutku." Hazel seketika manyun. "Tidak mau? Sini aku makan saja."
"Jangan! Aku mau memakannya." Hazel langsung dengan cepat melahap ice cream itu sampai tidak tersisa.
"Begitu lebih baik, Hazel. Apa mau aku belikan lagi?"
"Tidak mau, nanti Tante Kei marah kalau aku banyak makan ice cream sebelum terisi makanan."
__ADS_1
"Kalau kamu atau diantara kita tidak ada yang mengatakan pada mommyku."
Hazel malah tertawa. "Kamu ternyata suka jahil sekali. Itu perbuatan nakal Orlaf.
Orlaf memperhatikan tawa Hazel yang tulus dan riang. Hazel akhirnya berhenti tertawa karena dia merasa Orlaf melihatnya.
"Kenapa berhenti? Aku suka melihat kamu tertawa seperti itu. Hazel, apa kamu sangat bahagia di sini?"
"Tentu saja aku sangat bahagia di sini." Sebenarnya Hazel berbohong sedikit. Dia masih ada rasa sedih jika teringat tentang Rhein.
Tangan Orlaf perlahan mengusap lembut pipi Hazel. Hazel yang mendapat sentuhan lembut dari Orlaf sontak saja agak kaget.
"Orlaf," ucap Hazel lirih.
"Aku bukan sedang merayu atau berbicara bohong denganmu, Hazel. Aku selalu serius jika menyangkut hal seperti ini."
"Orlaf, maksudmu, kamu mencintaiku?"
"Tentu saja, aku jatuh cinta sama kamu."
Hazel langsung terdiam sejenak. Dia masih berpikiran apa Orlaf ini sedang tidak bercanda dengannya. "Orlaf, kamu jangan bercanda?"
__ADS_1
Orlaf malah tersenyum kecil. "Apa aku terlihat sedang bercanda sama kamu. Aku serius, Hazel. Apa kamu tidak percaya denganku?"
Hazel langsung mengangguk dengan cepat. "Aku masih tidak percaya dengan kamu karena kita juga baru mengenal dan begitu cepat jika kamu mengatakan cinta padaku. Orlaf, aku tidak pantas kamu cintai."
"Apa ini cara kamu menolakku dengan halus, Hazel?"
Hazel dengan cepat langsung menggeleng. "Bukan menolak kamu, hanya saja aku benar-benar terkejut dengan yang kamu katakan. Kamu belum mengenalku dengan baik."
"Kalau begitu, tolong kamu ceritakan hal yang membuat kamu tidak pantas aku terima."
Hazel terdiam sejenak. Dia bingung harus memulai dari mana? Soal dirinya yang pernah jatuh cinta sampai berani menyerahkan sesuatu yang berharga walaupun hal itu di sana tidak terlalu penting, tapi bagi seorang Hazel penting.
"Hazel, kenapa diam?"
"Orlaf, aku dulu pernah jatuh cinta pada seseorang."
"Maksud kamu? Bukannya kamu bilang tidak pernah memiliki hubungan dengan pria manapun."
"Aku jatuh cinta pada pria itu, tapi pria itu tidak pernah memiliki perasaan apapun padaku. Dia hanya memberiku rasa sakit dan aku ingin melupakannya."
Orlaf terdiam sejenak. "Lalu, apa kamu masih mencintai pria itu?" Orlaf menatap Hazel dengan serius.
__ADS_1