
Mereka makan siang bersama. Jujur saja, sekarang di dalam pikiran Rhein banyak sekali hal yang mengganggunya. Dia benar-benar gelisah memikirkan akan Hazel yang akan bertunangan dengan Orlaf.
Dia senang bisa bertemu dengan Hazel, tapi dia tidak mengharapkan bertemu dengan keadaan Hazel yang seperti ini.
"Orlaf, Minggu depan kamu tidak ada kegiatan kampus, kan?"
"Tidak ada sepertinya kalau Minggu depan. Memangnya ada apa, Mom?"
"Minggu depan Mommy akan mengundang Akira dan kakak ipar kamu untuk makan malam bersama karena Minggu depan Daddy kamu bisa ikut makan malam bersama. Entah kenapa Daddy kamu yang liburan di sini, tapi pikirannya tetap saja pada pekerjaan?"
"Daddy memang begitu, kan Mom. Walaupun ceritanya dia libur bekerja tetap saja yang dikerjakan tugas kantornya di rumah."
"Om Adrian orang yang sangat mencintai pekerjaannya ya, Tante?"
"Iya, dia sama seperti kakak Orlaf yang pertama. Kalian Rhein lebih santai dalam menangani urusan pekerjaannya, tapi dia tetap profesional."
"Kalau Rhein seorang pada para wanita. Iya, kan, Rhein?" sindir Orlaf.
Mereka bertiga melihat ke arah Rhein yang ternyata sedang melamun. Terlihat dia malah asik mendeting-dentingkan sendok ke piring makannya.
Keiko yang melihatnya tampak heran dengan putra keduanya itu.
"Rhein, kamu sedang melamun apa?" panggil mommynya, tapi Rhein tidak mendengar panggilan mommynya.
"Hei, Rhein!" Orlaf melempar serbet makannya dan sontak saja Rhein terkejut.
"Ada apa, Orlaf?"
"Kamu kenapa? Mommy bertanya sama kamu, tapi kamu malah terdiam saja."
Rhein melihat ke arah mommynya dan kemudian dia melihat ke arah Orlaf dan terakhir Hazel.
"Aku tidak apa-apa." Rhein beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau ke mana, Nak?"
"Aku lupa jika ada urusan sebentar. Mom, aku pergi dulu ya?" Rhein berjalan ke arah mommynya dan mengecup pipi wanita cantik itu.
Hazel tidak berani mengikuti sosok Rhein yang berjalan pergi dari sana. Dia hanya memilih terdiam di tempatnya.
"Mau ke mana anak itu? Pasti nanti tidak pulang dan akhirnya menghilang lagi dia pergi ke luar negeri."
__ADS_1
"Pasti dia ingin pergi menemui salah satu wanitanya di sini, Mom. Rhein selalu begitu."
Hazel bingung, kenapa di dalam hatinya terasa masih ada rasa sakit saat mendengar apa yang Orlaf katakan, tapi Hazel kembali menyadarkan dirinya bahwa itu Rhein, Hazel. Itu Rhein yang memang tidak bisa hidup jauh dari para wanita.
Acara makan siang selesai. Orlaf izin untuk pergi ke kamarnya sebentar karena dia ingin membersihkan diri.
Hazel membantu Keiko membersihkan meja makan. Keiko ini walaupun di rumah segede lapangan sepak bola ini. Dia masih saja suka membantu pekerjaan rumah karena dia tidak suka duduk bermalasan dan hanya main perintah dengan para maidnya. Dia lebih suka ikut bekerja membantu mereka.
Keiko melihat Hazel yang sedang mencuci piring dengan pandangan yang tidak ke arah piringnya, tapi malah melamun.
"Sayang, kamu kenapa?" Tangan Keiko menepuk pada pundak Hazel.
Hazel yang merasakan tepukan tangan Keiko menoleh pada wanita cantik di sampingnya itu.
"Ada apa, Tante Kei?"
"Kamu itu kenapa? Apa yang sedang kamu lamunkan? Apa ada masalah di kampus?"
Hazel menggeleng perlahan. "Tidak ada masalah apa-apa. Aku hanya kadang teringat dengan rumahku di sana. Jika saja kedua orang tuaku masih ada, pasti mereka akan senang mendengar aku akan bertunangan dengan putra sahabatnya.
Hazel ini sebenarnya tidak memikirkan hal itu. Dia memikirkan Rhein.
"Kamu tenang saja, Tante yakin jika mereka di atas sana melihat putrinya sekarang di sini hidup bahagia, tidak menderita seperti dulu, dan Tante yakin mereka juga tau jika putri mereka akan bertunangan dengan anak dari sahabatnya." Keiko mencubit kecil hidung Hazel.
"Iya, Tante."
Hazel kembali meneruskan pekerjaannya sampai selesai.
Rhein berhenti di sebuah rumah dengan didominasi warna putih. Rumah itu terlihat sangat nyaman walaupun ukurannya tidak terlalu besar.
Rhein tersenyum manis melihat dari dalam dari jendela mobilnya seorang wanita cantik sedang berdiri memegang gunting kebun juga sedang memandangnya dengan tersenyum.
Rhein turu dari dalam mobilnya, berjalan mendekat ke arah wanita yang memakai dress putihnya.
Rhein yang sudah dekat langsung memeluk hangat wanita itu.
"Apa kabar, Rhein, kapan kamu datang?"
"Sudah beberapa hari ini, tapi maaf kalau aku baru saja datang ke sini menemuimu."
"Tidak apa-apa, Rhein. Aku sudah tau sifat kamu itu."
__ADS_1
Rhein malah terkekeh mendengar ucapan wanita itu.
"Nala, Akira tidak ada di rumah, kan?"
Wanita yang dipanggil Nala itu langsung tertawa. "Memangnya kenapa kalau ada Akira di rumah?"
"Kalau dia ada di rumah, aku jadi tidak nyaman berdua sama kamu."
"Memangnya kita mau berbuat apa, Rhein?" Nala mendelik kesal dengan pria yang adalah adik iparnya. "Kita masuk dulu, Rhein. Kebetulan aku membuatkan sandwich kesukaan kamu dulu karena tadi Ara ingin aku membuatkan beberapa sandwich untuk dibawa ke tempat kerjanya."
"Aku kira kamu merasakan jika aku akan datang ke sini."
"Tentu saja aku merasa. Pantas saja tadi malam aku mimpi buruk, ternyata kamu datang ke sini." Nala seketika tertawa.
Nala berjalan masuk dan diikuti oleh Rhein yang ada di belakangnya.
"Jangan menertawaiku, Nala. Aku sedang patah hati."
"Apa?" Nala sampai terkejut.
"Aku sedang patah hati. Jangan terkejut seperti itu, Nala karena aku sedang tidak ingin bercanda."
Nala melihat wajah Rhein yang memang serius dan sedih.
"Aku minta maaf, tapi kamu bilang kalau kamu patah hati itu aku benar-benar tidak percaya, Rhein. Seorang Rhein si penakluk banyak wanita patah hati?"
"Tentu saja bisa, bukannya kamu duluan yang membuat aku patah hati?"
"Aku tidak merasa membuat kamu patah hati Rhein. Kita ini dulu bersahabat baik."
"Tapi aku jatuh cinta sama kamu, tapi kamu malah diam-diam dengan Akira, dan sekarang aku merasakannya lagi."
"Baiklah, kalau begitu siapa yang merebut gelarku? Apa kamu mau menceritakan tentang wanita itu?"
"Dia seorang gadis dan usinya dibawaku, Nala."
"Oh ... jadi dia masih muda? Eh, tunggu! Dia menolak kamu? Seperti apa yang aku lakukan dulu?" Rhein menggeleng. "Lantas, kenapa kamu bilang jika dia menolak kamu?"
"Dia mencintaiku, Nala, tapi aku sudah menyakitinya."
Nala dan Rhein sedang duduk di ruang makan dan Nala membuatkan minuman kesukaan Rhein. Nala itu sudah hafal juga apa yang adik iparnya ini suka.
__ADS_1
"Kamu menyakitinya?" Nala melihat serius pada adik ipar yang ada di depannya.
"Iya, aku mungkin sudah sangat melukainya dan sekarang dia akan bersama pria lain, dan jujur saja aku tidak ingin dia pergi dariku, Nala."