
Rhein mengatakan jika di proyek barunya dia membutuhkan seorang model untuk pemasaran sebuah produk barunya.
"Kenapa kamu sudah sekali diberitahu si Rhein. Aku ini tidak bisa, lagi pula aku tidak mau mengambil resikonya kalau nanti sampai membuat semua berantakan. Aku tidak mau jadi pelayan kamu selamanya."
"Coba dulu saja. Kita lihat prosesnya. Hazel aku benar-benar membutuhkan bantuan kamu."
"Kamu kehabisan model yang cocok ya?"
"Bukan kehabisan, tapi aku lebih memikirkan bagaimana menghemat pengeluaran untuk mencari model profesional. Kalau kamu yang menjadi model akan lebih sedikit biaya yang aku keluarkan untuk pemasaran produk ini." Rhein menghabiskan suapan terakhir dan memberi Hazel sebuah kedipan salah satu matanya.
Hazel mengerucutkan bibirnya kesal. Setelah makan, Hazel memberikan obat yang harus di minum oleh Rhein.
"Memangnya untuk produk apa, Rhein? Kenapa kamu seolah memaksa sekali?"
"Perhiasan dari Diamond."
"Apa? Kamu serius?" Kedua mata Hazel mendelik.
"Huft! Kenapa selalu terkejut dan tidak percaya padaku?"
"Tentu saja aku tidak percaya. Kamu menyuruhku menjadi model untuk perhiasan mahal? Apa kamu amnesia setelah terkena demam?"
__ADS_1
"Ahahaha! Memangnya ada orang bisa amnesia karena terkena demam sehari?"
"Bisa, buktinya kamu. Kamu tiba-tiba menawariku menjadi model untuk perhiasan mahal. Apa kamu sudah benar-benar memikirkannya?"
"Aku selalu memikirkan pekerjaanku di manapun aku berada. Aku harus memikirkan sesuatu ide yang cemerlang agar produk yang aku pasarkan bisa banyak peminatnya dan klienku senang bisa bekerja sama denganku."
"Rhein, aku minta maaf karena aku tidak bisa menjadi model untuk perhiasan mahal itu. Hal itu terlalu berat untukku."
"Aku memaksamu, Hazel."
"Terserah kamu, tapi aku tetap tidak mau, Rhein."
"Tidak mau Rhein. Sebaiknya cari saja model yang sudah profesional dalam hal ini. Jangan aku."
"Hm! Kamu tau, Hazel? Aku tidak suka penolakan dan kamu menolak tawaranku. Aku pastikan kamu tidak akan bisa diterima bekerja di manapun di kota ini, Hazel Waltz."
Kedua alis Hazel seketika mengkerut hampir menyatu. "Memangnya kamu bisa melakukan itu?"
"Mau mencobanya? Kamu lupa siapa Rhein? Aku memiliki kekuasaan dan uangku bisa melakukan apapun," ucap Rhein sombong.
Hazel seketika merasa takut. Bagaimana jika apa yang dikatakan Rhein benar-benar dilakukan? Kalau itu terjadi pasti hidupku akan sangat menderita.
__ADS_1
"Rhein, aku mau menjadi model, tapi tetap ajari aku dulu karena kamu tau sendiri aku bukan seorang model."
"Setuju." Tangan Rhein menjulur mengajak Hazel berjabat tangan.
Hazel menemani Rhein di sana. Dua orang itu banyak sedikit saling bercerita tentang kehidupan mereka.
Sampai waktu menjelang sore hari, dan Darren datang ke sana. Darren melihat Rhein yang sedang tidur.
"Apa tuan Rhein tidur dari tadi?"
Hazel mengangguk perlahan. "Dia setelah makan siang dan mendapat suntikan langsung tidur."
"Syukurlah keadaan Tuan Rhein berangsur membaik. Hazel, kamu kenapa? Kenapa wajah kamu tampak sedang memikirkan sesuatu begitu?"
"Huft!" Hazel menghela napasnya panjang. "Aku sedang bingung, Kak Darren."
"Bingung? Apa yang membuat kamu bingung? Soal menjadi pelayan Tuan Rhein? Kamu tenang saja karena hal itu tidak akan selamanya Karena tuan Rhein biasanya di sini hanya beberapa bulan dan sisanya dia pulang ke rumahnya."
"Kalau soal menjadi pelayan aku tidak khawatir, tapi ini aku disuruh menjadi model untuk pemasaran produknya."
"Apa? Kamu di tawari menjadi model?" Hazel sekali lagi mengangguk.
__ADS_1