
Rhein bangun, tapi dia tidak melihat hasil di dekatnya. "Ke mana Hazel? Apa dia sedang memasak di dapur?" Rhein berjalan menuju dapur, tapi ternyata Hazel tidak ada di dapur, dia mencarinya ke segala tempat. Namun, dia tidak menemukan gadis itu.
Rhein mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Hazel, tapi ternyata ponsel Hazel ada di dalam kamar Rhein.
Rhein yang panik kemudian membuka lemari bajunya. Wajahnya tampak lega setelah melihat apa yang ada di dalam lemari bajunya.
Baju dan tas Hazel masih ada di sana. Entah kenapa Rhein takut jika Hazel akan pergi dari tempatnya.
Beberapa menit kemudian Rhein yang sedang mengambil air minum melihat pesan singkat dari Hazel. Hazel mengatakan jika dia sedang berolahraga pagi di dekat taman.
Rhein kemudian berniat untuk menyusul Hazel karena dia memang sudah lama sekali tidak lari pagi.
Rhein berjalan menuju taman, di sana dia melihat Hazel sedang berbicara dengan seorang pria dan tampak Hazel tersenyum pada pria itu.
Rhein berjalan mendekati Hazel dan bertanya tentang pria itu.
"Dia tadi bertanya apa aku salah satu penghuni apartemen di sana karena dia pernah melihat beberapa kali. Aku bilang jika aku bekerja menjadi pelayan di tempatmu. Dia senang bisa berkenalan denganku." Hazel tampak tersenyum.
"Apa itu saja?"
"Iya, itu saja. Apa lagi?"
Rhein yang merasa sudah terlalu ingin tau tentang Hazel mencoba menyadarkan dirinya sendiri. "Oh, jadi dia juga tinggal di apartemen itu juga. Hazel, kalau kamu memiliki hubungan dengan seseorang, aku tidak akan melarangnya, tapi aku tidak mau selama kau bekerja di apartemenku kamu memiliki hubungan dengan seseorang. Apakah kamu tahu maksudku?"
"Aku tau maksud kamu, Rhein. Aku tidak memikirkan hal itu karena aku hanya ingin bekerja untuk mengumpulkan uang. Siapa tahu aku bisa memiliki tempat tinggal sendiri yang nyaman untukku, dan menyapa masa depanku sendiri."
Hazel berlari dari sana meninggalkan Rhein yang hanya terdiam melihat gadis itu.
Beberapa saat kemudian Darren datang ke sana, dia mencari Hazel dan bertemu dengan Rhein. "Kenapa kamu bisa sini?"
"Hazel mengajak saya berlari pagi, tapi sayangnya saya datang terlambat. Tuan Rhein sendiri kenapa ada di sini? Biasanya tidak pernah berlari pagi di sini?"
"Aku hanya merasa ingin sekali merasakan lari pagi karena sudah lama aku tidak pernah berolahraga di luar. Hazel ada di sana kalau kamu mencarinya."
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan menemui Hazel dulu, Tuan Rhein. Saya permisi dulu."
"Ya, pergilah!" Rhein melihat datar.
Hazel sedang duduk sendirian sepertinya Hazel sedang tidak melakukan sesuatu.
"Apa kau menyuruhku ke sini hanya untuk melihat kamu bersandar?"
"Kenapa kok lama sekali baru datang?"
"Aku minta maaf, semalam aku banyak pekerjaan jadi tidur larut dan aku lupa kalau ada janji dengan kamu. Apa kamu masih memikirkan Tuan Rhein?"
"Perlahan aku akan mencoba melupakan cinta yang kurasakan padanya."
Hazel melihat dari kejauhan. Di tempatnya Rhein sedang berbicara dengan beberapa wanita di sana.
Mereka tampak senang melihat Rhein yang sedang berolahraga pagi dengan bergelantungan pada tiang yang ada di sana. Apa yang ada dalam diri Rhein memang tidak bisa dipungkiri, jika Rhein dapat membuat banyak wanita terpesona termasuk Hazel.
"Bagaimana kalau kita berlari bersama ke sana, kita bisa memberi makan ikan di danau itu nanti kamu pasti akan lebih tenang."
"Menurut Kak Darren, aku bisa tidak ya menjadi model sepatunya?"
"Tenangkan dirimu dan berpikirlah kalau kamu bisa dan bisa dan bisa. Aku yakin kamu pasti bisa."
"Iya, aku ingin memiliki uang dengan hasil keringat sendiri, aku ingin memiliki uang yang banyak agar aku bisa keluar dari apartemen itu dan membangun kehidupanku sendiri. Aku sudah memutuskan hal itu."
"Kamu tidak salah jika kamu memiliki pemikiran seperti itu. Kalau kamu butuh bantuan apa-apa, kamu bisa mengatakannya pada padaku, Hazel."
"Terima kasih, Kak Darren selama ini sudah baik denganku." Hazel memeluk Kak Darren dan dari kejauhan Rhein melihat hal itu.
Rhein mengatakan pada Darren jika dia akan mengantar Hazel ke tempat Nyonya Mattew. Darren yang ditugaskan untuk mengurus perusahaan miliknya hari ini karena Rhein tidak tahu sampai jam berapa dia ada di tempat Nyonya Mattew.
Haz datang ke sana dan segera disuruh masuk ke ruangan ganti untuk berganti baju.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Hazel keluar dengan baju casual yang memang Hazel sangat senang dan dia memakai sepatu kets putih dengan brand yang Nyonya Mattew ciptakan sendiri.
Hazel duduk di atas sebuah kursi kayu yang berbentuk kotak tinggi dan pengarah gaya pun mengarahkan Hazel dengan baik.
Hazel tampak santai dan menikmati pemotretan hari ini. "Hazel, apa kali ini kamu mau memakai baju yang terbuka sedikit. Baju itu akan menunjukkan kaki jenjang kamu dan kamu akan memakai high heel yang agak tinggi karena ini salah satu produk andalanku."
"Tidak apa-apa, Nyonya Mattew. Aku mau melakukannya. Bagaimanapun aku harus profesional dalam bekerja."
"Terima kasih, tapi kamu memang yang terbaik
Hazel menggunakan rok mini yang sangat pendek dengan atasan lengan panjang model crop top yang memperlihatkan perut kecil Hazel, dan ternyata ada seorang model satu lagi yang akan menemani Hazel. Salah satu model pria yang memang nanti akan melakukan pemotretan dengan Hazel.
Hazel terlihat agak canggung karena pertama kali dia akan berfoto agak dekat dengan seorang.
Pria model itu tersenyum pada Hazel, dan dia berusaha membuat Hazel agar tenang.
"Anggap saja kamu sedang berfoto dengan kekasihmu."
Entah kenapa rasanya Rhein tidak suka melihat Hazel berfoto seperti itu? Pengarah make up dan kostum bingung mengarahkan mereka agar saling berdekatan dan salah satu kaki Hazel diangkat untuk melingkar pada pinggang pria itu. Tangan pria itu pun memegang pinggang Hazel dan mereka tampak saling berpandangan dengan sangat dekat.
Hazel mencoba bersikap tenang sekali lagi dan dia malah membayangkan jika di depannya adalah Rhein. Mereka melakukan beberapa kali sisi pemotretan dengan pose yang sangat sensual.
Nyonya Mattew sangat puas dengan hasil pemotretan hari ini.
"Terima kasih, dan aku yakin dengan model kamu ini, sepatu ini akan terjual sangat banyak dan itu semua berkat dirimu, Hazel.
"Kamu benar-benar hebat walaupun dirimu baru pertama kali menjadi model," puji Tuan Mattew.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Mattew.
"Hazel, apa kau mau menerima tawaranku sekali lagi? Aku dan temanku bekerja sama untuk membuat baju dalam wanita dan aku mau kamu menjadi modelnya. Tubuh kamu itu sangat bagus, walaupun tidak seperti para model biasanya yang aku gunakan."
"Pakaian dalam wanita?" Hazel berpikir sebentar.
__ADS_1
"Iya, dan pendapatan yang aku tawarkan akan lebih mahal dari ini."