
Hazel pagi itu diantar oleh Orlaf ke kampus, dan sampai di sana Orlaf mengantar Hazel sampai di dalam kelasnya.
"Hai, pasangan kekasih baru. Kalian terlihat cocok sekali," puji Sasa.
"Apa? Pasangan kekasih baru?" Gadis dengan make up yang terlihat mencolok di kelas itu tampak berdiri dan menghampiri Hazel dan Orlaf.
Sasa sepertinya sengaja ingin membuat Belinda mengetahui jika Orlaf sekarang sudah memiliki kekasih baru, bahkan mereka akan bertunangan.
"Kamu jangan membuat masalah, Belinda," ucap Orlaf yang tau jika Belinda pasti ingin mencari masalah dengan Hazel karena tau Hazel dan dirinya berpacaran.
"Orlaf, kamu kenapa malah berpacaran dengan gadis ini? Bukannya gadis ini hanya anak angkat kedua orang tua kamu, dan dia tidak jelas apa dia gadis baik-baik atau malah gadis nakal. Bukannya dia tinggal di luar negeri dan kamu tau sendiri pergaulan di sana sangat bebas, Orlaf."
"Aku tau akan hal itu, tapi aku juga sangat tau siapa Hazel. Kalau Hazel bukan gadis baik-baik, aku tidak akan memintanya untuk menerimaku dan bahkan bertunangan dengannya."
"Apa? Kamu mau bertunangan dengannya?"
"Iya karena aku mencintai Hazel, dan aku harap kamu jangan pernah mencari masalah dengan calon istriku karena aku tidak akan tinggal diam. Hubungan kita sudah berakhir dan kamu harus menerimanya."
Gadis itu seketika mendekati Orlaf dan memeluk Orlaf dengan erat. Hazel yang melihat hanya biasa, sedangkan si kembar Sasa dan Sisi malah kaget melihat hal itu.
"Orlaf, aku mohon jangan berbuat seperti ini. Aku minta maaf dengan semua kesalahan yang pernah aku perbuat. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak mau jauh darimu."
"Lepaskan!" Tangan Orlaf mencoba melepaskan tangan Belinda yang memeluknya, tapi Belinda seolah tidak mau melepaskan pegangan tangannya. Namun, Orlaf dengan sekuat tenaga membuat peluang itu terlepas.
"Orlaf, aku berjanji akan berubah lebih baik dan seperti yang kamu inginkan, tapi aku tidak mau kehilangan kamu."
"Kamu tidak perlu merubah apa-apa, Belinda karena hal itu sudah tidak penting lagi bagiku."
"Orlaf, apa kamu sama sekali sudah tidak memiliki rasa cinta lagi terhadapku? Apa kamu sudah melupakan semua kenangan indah kita dulu." Belinda menangis dihadapan Orlaf.
__ADS_1
"Semua sudah berakhir, Belinda. Lupakan aku karena aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu. Seluruh cintaku hanya untuk Hazel."
Belinda yang tidak terima hal itu memilih pergi dari sana. Hazel yang melihatnya merasa bersalah. "Orlaf, dia terlihat masih sangat mencintaimu. Apa tidak apa-apa dengannya Nanti? Aku takut jika dia akan berbuat hal yang buruk pada dirinya."
"Kamu tenang saja, Belinda bukan gadis yang mudah menyerah dan putus asa. Dia tidak akan pernah bisa berbuat untuk menyakiti dirinya sendiri karena dia hanya mencintai dirinya sendiri tanpa peduli orang lain."
Hazel mengangguk perlahan. Orlaf kemudian izin untuk kembali ke kelasnya karena kelas akan segera dimulai.
"Senang sekali melihat Belinda seperti itu." Sasa tersenyum senang.
"Kenapa malah senang? Aku malah kasihan sama dia karena sangat sakit rasanya jika kita mencintai seseorang, tapi orang itu tidak peduli dengan kita."
"Jangan kasihan sama dia. Kamu tidak tau bagaimana sombongnya gadis itu di kampus yang seolah milik ayahnya saja. Dia juga sangat jahat kepada mahasiswi lainnya di sini."
"Iya, Hazel, kamu jangan percaya dengan tangisannya. Dia itu pandai berpura-pura soalnya. Pernah ada seorang gadis di sini memberikan sesuatu pada Orlaf, padahal gadis itu tidak mengetahui jika Orlaf berpacaran dengan Belinda. Gadis itu langsung saja ditampar oleh Belinda dan sampai dipermalukan oleh Belinda di depan kelas dengan merobek baju gadis itu. Tentu saja gadis itu sangat malu dan Belinda hanya mendapat teguran karena dia anak donatur di sini, pemberi sumbangan terbesar selain keluarga Orlaf," terang Sisi.
"Makannya kami tidak suka sama dia yang suka berbuat seenaknya."
Pelajaran dimulai dan berjalan seperti biasanya. Sampai tiba saat Isirahat kuliah. Hazel yang sedang duduk di kantin kampus segera di datangi oleh Orlaf. Dia duduk di samping Hazel.
"Orlaf, mau beli minuman?"
"Tidak usah karena aku tadi sudah minum di tempat rapat. Hazel, apa aku bisa bicara sebentar sama kamu?"
"Bicara? Kamu mau bicara apa?"
"Hazel aku nanti tidak bisa mengantar kamu pulang kuliah karena sebentar lagi aku dan teman-temanku harus pergi untuk mencari bahan-bahan yang bisa kita gunakan dalam acara bazar murah dan meriah di sini."
"Tidak apa-apa, aku bisa naik mobil online saja."
__ADS_1
"Jangan! Kamu bahkan belum hafal jalan di sini. Aku akan menghubungi ponsel mommy dan supaya kamu dijemput oleh super pribadi keluarga saja."
Orlaf mencoba menghubungi mommynya, tapi panggilannya sama sekali tidak dijawab. "Orlaf, kamu tidak perlu merepotkan orang lain untuk menyuruh menjemputku."
"Aku khawatir kalau kamu sampai digoda atau bahkan dijahati kalau nanti kamu naik mobil online sendiri."
"Ehem! Apa perdebatan kalian berdua sudah selesai? Apa kalian sadar jika ada kami berdua di sini?"
"Iya, kita minta maaf," ucap Hazel.
"Apa? Cuma minta maaf setelah kamu membuat kita yang jomblo ini iri dan menderita karena sejak tadi disuguhi oleh hal manis yang kalian lakukan."
Hazel malah terkekeh. Begitupun dengan Orlaf. "Kalian ini kenapa malah bingung memikirkan masalah Hazel yang tidak bisa kamu antar pulang. Di sini ada kami berdua Orlaif, nanti Hazel akan aku antar pulang dan kalau perlu aku bawa masuk sampai Hazel bertemu dengan mommy kamu dan kami pastikan jika Hazel calon istri kamu ini sudah aman."
"Jangan bersikap berlebihan begitu, Sasa, memangnya aku anak kecil yang harus dipegang terus supaya tidak bisa hilang?"
"Iya, kamu itu kesayangan Orlaf soalnya, pasti nanti nangis Orlaf jika kamu hilang."
Orlaf tampak tersenyum senang dan akhirnya Hazel nanti pulang dengan si kembar.
Si kembar sudah mengantarkan Hazel sampai di rumah Orlaf dengan selamat, tidak kurang satu apapun. Si kembar tidak mau mampir karena mereka juga mau langsung pergi ke suatu tempat.
"Hazel kamu sudah pulang?" tanya mommy Kei yang sedang berada di ruang makan menyiapkan makan siang.
"Tante, Orlaf tidak bisa pulang karena dia akan pergi dengan teman-temannya ada urusan soal acara kampus."
"Iya, tadi ada panggilan dari Orlaf, tapi maaf kalau tidak aku jawab karena aku tidak mendengarnya dan lupa ponselku aku letakkan di dalam kamar."
"Iya, tidak apa-apa, Tante. Tante, aku akan berganti baju dulu, lalu aku akan membantu Tante Kei menyiapkan makanan."
__ADS_1
"Hazel, nanti Tante minta tolong panggilkan putra keduaku di kamarnya. Dia pasti sedang tidur."