
Bruak!
Ketiga orang yang sedang berbincang itu kaget dengan suara benda dibanting dari arah belakang Dinda dan mamanya.
"Kalau begitu, kamu tidak perlu menikah dengan Rhein karena dia sangat ingin memilik anak dan istri yang baik, dan kamu tidak masuk dalam semua kriteria itu." Wajah Nala tampak marah.
"Ma?" Dinda kaget melihat ada Nala di sana.
"Nala, kamu ada di sini juga." Wanita itu berdiri dan mencoba memeluk Nala, tapi Nala sudah kecewa saja dengan apa yang dia dengar.
"Aku denga Hazel dari tadi di sini dan mendengar semua rencana jahat kalian. Aku sangat kecewa dengan kalian karena kalian hubungan Daddy Adrian dan putra keduanya menjadi sangat tidak baik."
"Mba, Nala, aku bisa jelaskan semuanya." Sekarang gantian Dinda mencoba merayu Nala.
"Kalau kamu takut hidup miskin karena perusahaan ayahmu disita bank, bekerjalah dan menikah dengan seseorang yang kaya, tapi dengan cara yang baik, jangan seperti ini. Aku pastikan Rhein tidak akan menikah denganmu karena kamu tidak pantas menjadi istri Rhein." Nala mengajak Hazel pergi dari sana dan Nala ingin segera bicara dengan kedua mertuanya.
Dinda dan mamanya hanya bisa terduduk lemas karena impiannya menjadi bagian dari keluarga Danner tidak akan pernah terwujud sekarang.
Nala dan Hazel yang sudah sampai di rumah keluarga Danner segara berbicara dengan Kei dan di sana kebetulan ada Daddy Adrian juga yang sedang bersiap akan pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya.
Mereka berdua sangat terkejut mendengar apa yang Nala sampaikan dan mereka langsung percaya karena memang Nala ini tidak akan pernah memiliki niat buruk pada siapapun.
"Aku akan membatalkan pernikahan mereka dan mereka tidak akan bisa memberikan alasan apapun. Dina benar-benar sangat keterlaluan!" geram Kei.
__ADS_1
Nala melihat ada Hazel, dia sebenarnya ingin mengatakan tentang hubungan yang terjalin antara Hazel dan Rhein, tapi seolah tidak mengizinkan hal itu saat pandangan matanya melihat pada Nala. Nala pun menghormati keputusan Hazel.
***
Setelah hari pernikahan Rhein batal, mereka sekarang akan melangsungkan pernikahan Orlaf dan Hazel. Suasana dan keadaannya di rumah keluarga Danner benar-benar terlihat megah dan mewah dengan dekorasi yang sangat apik.
Hazel mengikuti aturan pernikahan yang ada di negara itu. Dia berada di dalam kamar tidak boleh menyaksikan proses calon suaminya mengucapkan ijab qobul.
Uni berlari dengan senang menuju kamar Hazel karena ingin memberitahu tantenya itu jika dia akan segera bisa bertemu dengan suaminya. Acara ijab qobul ya berjalan dengan lancar dan mereka dinyatakan saja sebagai suami istri.
"Selamat ya, Tante muda, sekarang Tante benar-benar menjadi Tante Uni. Uni-- adalah menantu Nala yang menikah dengan salah satu anak kembar Nala. Kalau mau tau kisah cinta anak kembar Nala dan Uni ada di novel My Secret Love di sana juga ada kisah perjalanan cinta Akira dan Nala.
"Kamu bisa saja, Uni." Hazel tampak tersenyum kecil. Sebenarnya dia tidak tau harus bahagia atau menangis karena di saat hari pernikahannya, di saat itulah Rhein juga pergi karena dia ingin kembali ke negara di mana awal Hazel dan Rhein bertemu.
Saat menuruni anak tangga, kedua mata Hazel membulat lebar karena di sana dia melihat ada pria yang sangat dia cintai dan dia yang malah memakai baju pengantin yang berwarna senada dengannya.
"Rhein? Kamu kenapa bisa ada di sini? Dan ini apa?" Hazel tampak bingung.
"Hai, istriku." Rhein dengan cepat mengecup bibir Hazel sampai Hazel dan yang lainnya pun terkejut.
"Rhein, sabar dulu, nanti malam baru kalian bisa malam pertama karena sekarang masih banyak orang."
"Ayolah, Mom! Bukannya aku dan Hazel adalah suami istri sekarang. Jadi, aku berhak menciumnya karena sudah lama aku tidak menciumnya."
__ADS_1
"Rhein, sebenarnya ini ada apa? Kenapa aku malah menikah dengan Rhein? Mana Orlaf?"
"Aku di sini Hazel. Selamat, akhirnya kamu bisa menjadi bagian dari keluarga Danner dan aku senang melihat kamu dan kakakku bahagia."
Kei menjelaskan semuanya pada Hazel jika dia mengetahui tentang hubungan antara Hazel dan Rhein. Kei memberitahu semuanya pada suaminya dan Orlaf, dan Orlaf yang memang baik akhirnya mengikhlaskan jika memang Hazel dan kakaknya saling mencintai.
"Orlaf, terima kasih." Hazel memeluk erat adik iparnya itu, dia bahkan menangis.
"Jangan lama-lama, Hazel." Rhein langsung saja menunjukan sikap posesifnya dan memeluk tubuh Hazel.
"Hazel, kalau Rhein sifatnya kumat tidak bisa berubah dan masih suka bersenang-senang dengan banyak wanita, kamu jangan segan-segan meninggalkan dan jangan pernah memaafkannya lagi," terang Akira.
"Enak saja, aku tidak akan sebodoh itu sampai membuat gadis yang aku cintai menderita seperti kamu dulu."
"Iya, kalau memang kakaku ini tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku siap menjadi orang yang akan membuatmu bahagia," lanjut Orlaf.
"Kamu bermimpi saja adikku." Rhein menepuk pundak Orlaf.
Rhein mencium bibir Hazel di depan semua orang di sana seolah dia ingin menunjukan jika gadis itu adalah miliknya.
In The End
__ADS_1