Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Cemburu part 2


__ADS_3

Hazel sudah siap untuk berangkat setelah bergulat lama dengan Rhein di dalam kamar. Bergulat untuk meyakinkan agar Rhein mau keluar dari kamar Hazel. Bukan bergulat di atas tempat tidur.


"Wah! Kamu sudah siap untuk berangkat, cantik sekali kamu, Hazel."


"Terima kasih, Tante."


"Rhein, kamu sudah tau alamat rumah Dinda, kan?"


"Aku sudah tau alamat rumahnya."


Tidak lama ponsel Rhein berdering dan dia melihat ada nama Dinda di sana. Rhein melihat pada Hazel dan segera dia mengangkat panggilan dari Dinda.


"Hai, Dinda!"


"Hai, Rhein, aku sudah siap. Apa kamu mau berangkat ke rumahku?"


"Iya, ini aku mau pergi ke sana. Dinda, kita berganti memakai video call saja."


Akhirnya Rhein mengganti panggilan dengan menggunakan video call. Terlihat di video call itu Dinda memakai baju berwarna biru laut dan celana jeans hitam. Gadis cantik itu mengikat rambutnya dengan sederhana.


"Kamu cantik sekali, Dinda," puji Rhein pada gadis itu.


"Terima kasih, kamu juga tampan sekali, dan baju kita warnanya serupa."


"Iya, aku sangat menyukai warna biru."


"Sejak kapan dia menyukai warna biru?" Hazel berdialog sendiri.


Rhein yang mendengar hal itu ingin sekali tertawa, tapi dia tahan karena dia tidak ingin Hazel tau jika Rhein sedang menjahilinya.


"Dinda, kalau begitu kamu tunggu di rumah kamu karena aku dan Hazel akan segera ke sana."


"Aku menunggumu, Rhein."


Panggilan diakhir dan Hazel yang kesal segera berpamitan dan berjalan dengan cepat menuju mobil.


Kei yang melihat sikap Hazel seperti kesal begitu melihat ke arah Rhein. "Hazel kenapa itu, Rhein?"


"Aku tidak tau, Mom."


"Mungkin dia kesal sama kamu, Rhein."


"Kesal denganku? Kesal kenapa?"


"Kamu mungkin tadi susah untuk dibangunkan."

__ADS_1


Rhein hanya tersenyum kecil. Dia tau Hazel kesal karena Rhein malah bersikap manis dengan Dinda. Rhein benar-benar ingin membuat Hazel mau mengakui jika dia masih sangat mencintai Rhein.


Rhein berpamitan dan dia menyusul Hazel yang ada di dalam mobil. Hazel duduk di bangku belakang dan Rhein yang melihatnya tampak kesal.


"Aku bukan supirmu, Hazel."


"Nanti bukannya ada Dinda yang akan duduk di sebelah kamu."


"Nanti biar Dinda aku suruh duduk dibelakang saja."


"Apa? Kamu mau menyuruh Dinda duduk di belakang? Kamu tidak salah Rhein? Bukannya dia calon istri kamu?"


Rhein yang tidak mau rencananya diketahui oleh Hazel segera dia meralat ucapannya. "Maksud aku nanti nanti ada teman kamu si kembar yang bisa menyetir. Aku akan meminta tolong saja dia untuk menyetir dan aku bisa berduaan dengan Dinda di belakang. Bagaimana apa rencanaku bagus?" Rhein malah mengedipkan salah satu matanya pada Hazel.


Hazel memutar bola matanya jengah. Dia malah kesal dengan Rhein.


"Dasar mesum! Kamu sama sekali tidak berubah, Rhein."


Hazel tetap tidak mau duduk di depan, dan Rhein pun tidak mau memaksa. Dia akan memanfaatkan hal ini untuk membuat Hazel tambah cemburu dengan posisi duduknya.


Mereka sampai di depan rumah besar dengan didominasi warna coklat dan emas. Rhein melihat Dinda keluar dari rumahnya dan Rhein mengajak Hazel turun. Mereka berdua bersalaman dengan nama Dinda. Gadis bernama Dinda itu dengan senangnya memeluk tangan Rhein.


Hazel yang melihatnya berpura-pura tidak peduli. "Rhein, tolong jaga putri Tante, ya. Maaf kalau dia agak manja karena dia dari kecil sangat dimanjakan oleh Ayahnya, tapi Dinda ini sangat baik dan perhatian jika dia memiliki seorang kekasih."


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan Dinda duduk di samping Rhein, sedangkan Hazel duduk di kursi belakang.


"Apa sudah tidak ada yang tertinggal, Dinda?"


"Tidak ada, Rhein. Kita berangkat sekarang saja."


Hazel yang duduk di belakang memperhatikan dua orang di depannya yang seolah-olah sedang menunjukkan kemesraan mereka saja.


Di sepanjang perjalanan Dinda tampak bertanya tentang kehidupan Rhein dan dia juga menceritakan tentang kehidupannya selama dia tinggal dan kuliah di luar negeri.


Hanya Hazel yang duduk di belakang melihat ke arah luar jendela mobil Rhein. Rhein sesekali melihat Hazel lewat kaca spion yang ada di atas kepala. Begitupun dengan Hazel kadang dia melihat Rhein dari sana. Namun, tatapan Hazel itu terlihat kesal pada Rhein.


Dalam hati Rhein dia berharap Hazel yang kesalnya sampai ke atas kepala akan segera meledak dan dia akan mengakui jika dia sangat mencintai Rhein.


"Hazel, kamu kenapa diam saja?" tanya Dinda.


"Kau baik-baik saja Dinda, hanya saja aku cemas pada kekasihku. Semoga saja dia dapat melaksanakan pertandingan ini dengan baik dan dia berhasil menang."


"Kamu tidak perlu meragukan kemampuan adikku karena dia memang seorang MVP dna beberapa kali memenangkan banyak pertandingan."


Mereka sudah sampai di depan rumah si kembar. Hazel tampak bahagia bertemu dengan dua orang sahabatnya ini.

__ADS_1


"Hazel, dia kakaknya Orlaf?"


"Iya, namanya Kak Rhein."


Rhein yang mendengar Hazel memanggilnya kak Rhein tampak memberi sinyal menggunakan isyarat matanya. Namun, Hazel tidak terlihat takut di sana.


"Kak Rhein, aku pernah melihat sekilas wajah Kak Rhein waktu dulu ulang tahun Orlaf, tapi wajahnya masih belum setampan ini."


"Iya, sekarang wajah Kak Rhein terlihat sangat tampan dan lebih matang."


"Matang? Memangnya Rhein ini semacam buah Mangga?"


Hazel dan kedua temannya malah bercanda. "Kalian jangan menertawakan kekasihku, dan aku tidak suka kalian terlalu memuji kekasihku secara berlebihan." Sikap Dinda tiba-tiba terlihat dingin.


"Maaf, kami sebenarnya tidak berlebihan, hanya saja kami ini bicara hal yang sebenarnya tentang Kak Rhein yang memang wajahnya berubah tidak seperti dulu."


"Terima kasih karena sudah memujiku."


Mobil Rhein tidak lama sampai di area parkiran gedung lapangan basket yang super besar dan megah. Hazel segera turun dan Dinda juga turun.


"Besar sekali gedung pertandingan bola basket ini," ucap kedua gadis kembar Sasa dan sisi.


"Rhein, aku mau ke toilet dulu, apa kamu bisa mengantarkan aku?"


"Aku?"


"Iya kamu karena kamu itu adalah kekasihku. Masak aku harus meminta antar orang lain?"


Rhein mulai merasakan jika sikap Dinda ini mulai menyebalkan dan dia sudah salah sepertinya memilih Dinda untuk menjadi alat agar Hazel cemburu.


"Dinda, Rhein itu seorang pria. Sebaiknya biar aku saja yang mengantar kamu."


"Iya, Dinda, kami akan menunggu kamu di sini."


"Ya sudah kalau begitu, tapi kalian jangan mencoba merayu kekasihku, ya?"


"Siapa juga yang mau merayu kekasih kamu."


Setelah Dinda pergi diantar oleh Hazel. Sasa mendekat ke arah Rhein. "Kak Rhein, apa aku boleh tanya?"


"Kamu mau bertanya soal apa?"


"Kak Rhein itu, berpacaran dengan gadis menyebalkan itu berapa lama?"


Rhein bingung. "Apa maksud kamu gadis sok menyebalkan itu si Dinda?"

__ADS_1


__ADS_2