Gadis Milik Rhein

Gadis Milik Rhein
Sang Model


__ADS_3

Hazel mulai melakukan pemotretan, dan dia tampak bingung dengan apa yang harus dia lakukan?


Salah satu penata gaya mengajari Hazel apa yang harus dia lakukan. Hazel sudah mencoba mengikutinya, tapi ekspresi wajah yang di timbulkan oleh Hazel sangat tidak pas dengan produk yang akan ditampilkan.


"Hasilnya tidak ada yang bagus, Tuan Rhein."


Hazel yang mendengar hal itu agak sedih. "Aku harus bagaimana, Rhein?"


"Oh God! Rhein, setidaknya kalau kamu ingin melihat pertunjukkan sirkus, jangan di sini tempatnya." Magdalena memutar bola matanya jengah.


"Aku bukan pertunjukan sirkus. Rhein sudah aku beritahu jika aku tidak akan bisa menjadi model untuknya, tapi Rhein tetap memaksa."


Rhein berjalan santai mendekati Hazel. "Tenangkan diri kamu dulu, dan jangan berpikiran jika yang kamu lakukan ini sangat berat dan susah."


"Aku benar-benar tidak bisa, Rhein. Hal ini benar-benar bagiku."


"Santai dulu. Apa mau aku ambilkan minum?"


Rhein meminta minuman dingin pada asistennya di sana, dan kemudian dia memberikannya pada Hazel.


Hazel dengan cepat meneguk minuman itu agar dirinya lebih tenang.


"Rhein, aku lapar," ucap Hazel lirih.


"Apa? Bukannya kamu tadi sudah makan banyak?"

__ADS_1


"Iya, tapi kalau aku tegang, aku menjadi lapar."


"Kamu mau makan apa?"


"Terserah, Rhein."


"Cheese Burger. Kamu mau?"


Hazel mengangguk dengan cepat. "Aku sampai lupa kapan terakhir merasakan makan burger?"


"Aku akan pesankan."


Kebetulan dekat tempat pemotretan itu ada junk food yang menjual burger yang enak.


"Padahal hanya sebuah burger, tapi kamu terlihat seperti menemukan sebuah berlian," celoteh Rhein.


"Dia gadis istimewah, Rhein, dan aku merubah pandanganku padanya. Biasanya setiap wanita atau yang menjadi model untuk sebuah perhiasan mahal, akan tercengang dulu melihatnya, tapi dari pertama aku memakaikan berlian itu, dia sama sekali tidak terpukau, bahkan tidak peduli sama sekali."


Rhein melirik dengan tersenyum miring pada Magdalena. "Dia gadis yang membutuhkan uang, tapi hal itu tidak menjadikanya serakah dengan uang.


Hazel tampak menghabiskan dua buah burger berukuran sedang. Dia pun tidak merasa sungkan bersendawa dengan seenaknya.


"Apa sudah kenyang, atau mau membeli lainnya?"


Hazel menggelengkan kepalanya. "Tidak, Rhein, ini saja sudah cukup. Aku senang sekali bisa menikmati burger ini. Aku jadi teringat saat makan bersama kedua orang tuaku dulu."

__ADS_1


"Aku bisa melihatnya tadi. Kamu sangat menikmati burger itu."


"Terima kasih ya, Rhein."


"Sama-sama. Jadi, kamu mau melanjutkan pekerjaan ini atau tidak? Kalau tidak juga tidak masalah, kita bisa pulang saja."


"Aku mau melanjutkan pekerjaan ini. Entah kenapa jika mengingat orang yang sangat aku sayangi, membuat aku sedih, tapi ada semangat yang aku rasakan."


"Gadis Aneh. Ya sudah kalau mau melanjutkan."


Hazel kembali berada di spot foto yang sudah disiapkan. Dia mendengarkan dengan baik sang fotografer mengarahkan gayanya.


Hazel mencoba mengingat orang yang dia cintai, yaitu kedua orang tuanya.


Hazel kali ini harus menunjukan ekspresi datarnya, sembari memegang kalung di lehernya.


"Perfect,"


Sang fotografer sudah mendapatkan beberapa foto indah Hazel.


"Kamu terbaik, Gadis Perawan. Sekarang kamu berganti kostum lagi dan setelah selesai ini aku akan mengajak kamu makan siang."


"Ada pemotretan lagi?"


"Iya, dan kali ini temanya lebih serius. Gaun malam yang sexy." Rhein mengedipkan salah satunya.

__ADS_1


__ADS_2