
Hazel perlahan mengangkat wajahnya melihat wajah Rhein yang bagi Hazel tampak sangat sempurna, bagai pahatan seorang masterpiece terkenal, baru kali ini Hazel dapat melihat wajah Rhein dengan begitu terang dan jelas.
“Dia ayah tiriku, Tuan, dan dia juga yang tadi malam datang ke sini memukuliku.”
“Apa? Ayah tiri kamu? Dan tadi kamu bilang dia datang ke sini dan memukuli kamu?” Wajah Rhein tampak tidak percaya melihat Hazel. “Apa yang dia inginkan dari kamu? Uang?”
“Uang dan dia menginginkan diriku, ayah tiriku dulu hampir melecehkanku jika dia sedang mabuk. Aku berhasil kabur setelah memukul kepalanya dengan botol minumannya, dan sahabatku mau menampungku di sini.”
Rhein benar-benar tidak percaya mendengar apa yang terjadi dengan gadis di depannya. “Lalu pria yang seumuran dengan kamu waktu itu siapa?”
“Dia Bill kakak tiriku, dia putra dari ayah tiriku yang juga memiliki sifat seperti ayahnya.” Hazel meneteskan air matanya menceritakan tentang kisahnya.
“Lalu kamu akan tinggal di flat ini sendirian? Lalu kalau mereka datang bagaimana?”
“Aku akan mengunci pintu dan menyiapkan semprotan bawang yang diberikan sahabatku dan aku selalu membawanya.”
“Kapan sahabat kamu akan datang?”
__ADS_1
“Aku tidak tau, aku sebenarnya ingin pindah dari sini, aku tidak mau membahayakan sahabatku, karena ayah tiriku bisa berbuat buruk terhadapnya, tapi--.” Hazel kembali terdiam.
“Tapi apa? Kamu tidak memiliki uang?” Hazel mengangguk. “Pria brengsek itu mengambil uang kamu dengan paksa, mereka benar-benar brengsek!” seru Rhein kesal.
Rhein menggandeng tangan Hazel dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya, dan membawa Hazel pergi dari sana. ”Tuan, kita mau ke mana?”
“Ke apartemenku. Kamu akan tinggal di sana mulai sekarang.”
“Apa?” Hazel sangat terkejut mendengar ucapan Rhein.
Hazel hanya bisa terdiam, walaupun dia merasa takut, dia takut apa yang diinginkan Rhein membawa dia ke apartemennya? Walaupun setahu Hazel, Rhein pria yang sudah dua kali menolongnya, tapi tetap saja dia baru mengenal Rhein. Dulu Hazel juga menganggap saat ibunya membawa suami barunya dan anaknya datang ke rumah, mereka berdua terlihat baik dan sangat menyayangi Hazel, tapi berjalannya waktu, saat ibunya jatuh sakit, mulai terlihat sifat asli dari kedua orang tersebut.
“Ini apartemen Tuan?”
“Iya. Ayo cepat turun! Jangan membuatku menunggu, atau kamu mau aku gendong sampai ke dalam apartemen?” Hazel segera turun dan berjalan cepat mengikuti langkah besar Rhein yang mau masuk ke dalam lift.
Ting!
__ADS_1
Pintu lift terbuka dan Rhein melangkah keluar berjalan dengan melepaskan suit yang dia kenakan. Meletakkannya pada lengan tangan kekarnya. Rhein membuka pintu apartemennya, dan seketika kedua mata gadis manis itu membulat sempurna melihat isi ruangan apartemen milik Rhein.
“Anda tinggal di sini, Tuan?”
“Iya, aku tinggal di sini, dan kamu boleh tinggal di sini sesuka kamu karena kalau kamu tinggal di flat teman kamu tanpa orang lain, bisa-bisa ayah tiri kamu itu melukai kamu, bahkan kalau kamu tinggal di tempat lain sendirian, hidup kamu juga tidak akan aman.”
“Maaf, Tuan, apa saya boleh tanya sesuatu sama Tuan?”
“Boleh, kamu mau tanya apa?” Tangan Rhein memberikan sebotol minuman ringan yang barusan dia ambil dari dalam kulkas kepada Hazel.
“Tuan membawa saya kesini tidak ada maksud lain selain ingin menolongku, kan?” tanya Hazel dengan muka takut.
“Maksud kamu?” Kedua alis Rhein mengkerut.
“Maksud saya, Tuan tidak bermaksud menjadi saya sebagai gadis simpanan Tuan di sini, Kan?”
Bbrrr ...
__ADS_1
Rhein yang kaget sampai menyemburkan minuman yang barusan akan masuk ke dalam mulutnya. Hazel mendelik melihat Rhein yang seperti itu, dia merasa sudah membuat Rhein terkejut dengan pertanyaannya.