
Hazel menunjuk ke arah cermin oval yang ada di ruang tengah itu. Orlaf segera beranjak dan melihat ke arah cermin yang ada di sana.
"Oh my God! Coklatnya menempel pada bibirku."
Hazel pun ikut beranjak dari tempatnya dan menghampiri Orlaf. Hazel memberikan tisu untuk Orlaf.
"Kamu ternyata usil juga." Orlaf membersihkan sisa coklat di mulutnya.
"Aku tidak usil, memang kalau di rumah saat minum coklat hangat itu bibirku juga sering seperti kamu, tapi hal itu yang malah membuat rasa coklatnya terasa."
"Terus, kenapa tadi kamu menyuruhku membersihkannya?"
Hazel tampak seperti orang berpikir. "Iya juga, ya." Hazel malah tertawa. "Orlaf, sisa coklatnya masih ada." Hazel membersihkan sisa coklat yang masih ada di tepi bibir Orlaf.
Orlaf yang melihat begitu dekat wajah Hazel tampak tersihir oleh wajah manis dan polos Hazel.
__ADS_1
"Hazel, kamu cantik sekali saat benar-benar terlihat sangat dekat."
Hazel seketika menghentikan tangannya yang sedang membersihkan bibir Orlaf. "Kamu bicara apa, Orlaf?"
"Aku bicara kenyataan, Hazel. Kamu ternyata cantik sekali dan aku suka denganmu serta segala kesederhanaan yang kamu miliki."
Hazel mendelik mendengar apa yang dikatakan oleh Orlaf. "Orlaf, kamu sedang mengantuk, ya?"
Orlaf tersenyum. "Tentu saja aku tidak mengantuk, aku serius mengatakannya. Hazel, aku itu orangnya suka hal yang to the point. Tidak Suk bertele-tele."
Hazel langsung terdiam dan dia merasa memang Orlaf tidak sedang bercanda. "Kamu jangan berkata menyukaiku karena aku tau kamu sudah punya kekasih di kampus."
"Iya. Bukannya Belinda itu adalah kekasihmu? Tadi saja di kelas dia menghampiriku dan marah denganku. Dia bahkan akan ribut dengan Sasa, tapi dosenku datang tepat waktu dan akhirnya mereka tidak jadi ribut.
"Jadi, tadi Belinda ke kelas? Dia kapan datang?"
__ADS_1
"Katanya baru saja datang, aku sudah mengatakan jika aku adalah saudara jauh kamu, tapi Sepertinya dia tidak suka denganku."
Orlaf sampai tidak percaya jika kelakuan Belinda semakin tidak terkendali. "Aku memang dulu pernah menjalani hubungan dengannya, tapi tidak bertahan lama karena ternyata Belinda sangat egois dan arogan. Aku benar-benar tidak menyangka dia akan seperti itu. Padahal aku senang waktu dulu dia sangat perhatian padaku."
"Apa masalah kalian tidak bisa dibicarakan baik-baik? Dan kamu bicarakan tentang sifatnya yang tidak kamu sukai."
"Sudah pernah, tapi sifatnya itu malah semakin menjadi. Dia menjadi sangat posesif dan sensitif sekali. Bahkan dia hampir mencekik leher gadis yang memberiku coklat."
"Hah? Itu namanya sudah bukan cinta biasa, tapi cinta gila."
"Makannya, daripada terjadi hal yang lebih parah lagi, aku putuskan saja dia."
"Iya juga. Namun, sepertinya dia tidak berubah. Buktinya tadi langsung menemuiku dan dia kesal padaku, seolah aku gadis yang akan menjadi kekasihmu dan bersaing dengannya."
Tangan Hazel di gandeng oleh Orlaf dan dia mengajak Hazel untuk duduk kembali ke tempat di mana mereka tadi belajar."
__ADS_1
"Hazel, aku harap jika Belinda menemui kamu, kamu jangan diam saja. Kamu harus mengatakannya kepadaku, dan aku minta jika dia memanggil kamu ingin bicara denganmu, sebaiknya jangan dipedulikan. Aku kadang-kadang menyesal, kenapa aku dulu bisa menyukai gadis itu?"
"Kamu jangan berkata seperti itu karena kita tidak tau di mana dan dengan siapa kita jatuh cinta." Hazel lagi-lagi teringat akan Rhein.