
Pagi itu Rhein yang terbangun terkejut melihat seseorang tidur di sampingnya. Dia merasa tidak mengajak pulang gadis di club malam itu, tapi kenapa ada yang tidur di sampingnya?
"Seorang pria?" Rhein mendelik dan segera turun dari tempat tidurnya, dan karena tidak hati-hati, Rhein sampai terjerembab ke lantai.
"Aduh!" erang Rhein kesakitan.
Orang yang tidur di kamar Rhein itu terbangun karena mendengar benda jatuh.
"Rhein, kamu kenapa?"
"Sean? Brengsek! Untuk apa kamu tidur di kamarku?" Rhein bangun dan berdiri dengan wajah marah
"Semalam aku mengantarkan kamu pulang dan aku lihat di sini tidak ada siapa-siapa, apalagi apartemen kamu sangat berantakan. Rhein, di mana Hazel?"
Seketika wajah Rhein yang tadi marah perlahan berubah bingung. Rhein berjalan mengambil segelas air. Dia menghabiskan secara cepat satu gelas air.
"Dia pergi ya? Kenapa? Apa kalian ada masalah?"
"Tidak ada. Dia pergi atas keinginannya sendiri, lagi pula aku tidak peduli dia mau pergi atau tetap bekerja denganku. Itu bukan urusanku." Rhein kembali menuangkan air ke dalam gelasnya.
Sean yang melihat tau jika Rhein sedang ada masalah dengan Hazel.
"Kalau kamu tidak peduli, kenapa kamu memanggil namanya terus?"
"Apa maksudmu?" Rhein menatap Sean heran.
"Lady bilang jika saat kalian berciuman, kamu malah memanggil nama Hazel dan seolah kamu sedang berciuman dengan Hazel."
Rhein agak terkejut mendengar apa yang Sean katakan. "Dia juga mengatakan jika kamu sepertinya menyukai gadis itu."
"Aku menyukai Hazel? Kamu bercanda?"
Sean bangkit dari tempat tidur Rhein dan dia sekarang berdiri sejajar dengan Rhein.
"Kamu tidak salah jika mencintainya, Rhein. Hazel gadis yang baik dan dia pantas untuk dicintai. Kadang ucapan bisa membohongi, tapi hati tidak akan bisa. Carilah dia dan ungkapkan apa yang ada dalam hatimu sebelum nanti kamu menyesal akan kehilangan dia selamanya." Tangan Sean menepuk pundak rindu berapa kali lalu pria itu berjalan pergi dari hadapan Rhein.
"Jangan menasehatiku. Aku tidak peduli bila Hazel dengan orang lain." Rhein menghabiskan air minumnya.
"Jangan jadi gila saja kalau nanti sampai Hazel menjadi milik orang lain," teriak Sean.
Rhein jadi memikirkan kata-kata Sean. Dia duduk di atas tempat tidurnya dan melihat tempat tidur itu yang biasanya dia melihat ada Hazel yang tidur di sana. Rhein teringat wajah Hazel yang baru bangun. Sangat lembut dan cantik.
"****! Kenapa aku harus merasakan lagi perasaan seperti ini?" Rhein tampak benar-benar frustasi.
Tidak lama bel pintu di apartemen Rhein berbunyi. Rhein beranjak dengan malas membuka pintunya.
Ternyata Darren sudah berdiri di depan pintu apartemen Rhein. "Ada apa kamu ke sini? Aku bisa berangkat bekerja sendiri. Apa kamu takut aku terlambat masuk bekerja?"
__ADS_1
"Saya ke sini mau mengatakan sesuatu, Tuan Rhein."
Darren tidak meneruskan kata-katanya dia agak terkejut melihat apartemen Rhein yang keadaannya berantakan.
"Ada apa? Kenapa diam?"
"Apartemen Tuan Rhein baru saja kemalingan, ya? Kenapa berantakan sekali keadaannya?"
"Mau mati maling itu berani masuk ke sini."
"Oh... jadi, yang membuat kacau seperti ini Tuan Rein sendiri?"
Rhein terdiam dan menatap tajam pada Darren, Darren yang merasa ditatap seperti itu langsung terdiam dan takut.
"Kamu ada apa ke sini?"
"Tuan, saya sudah mendapat informasi di mana sekiranya Hazel mungkin berada. Aku tidak tau informasi ini masih Tuan Rhein butuhkan apa tidak?"
"Di mana dia?"
"Apa Tuan yakin masih ingin mengetahui di mana Hazel?"
Sekali lagi Darren mendapat tatapan tajam dari Rhein.
"Kalau keluarga sahabat mamanya Hazel tidak pindah rumah, Hazel bisa jadi berada di Indonesia karena setahu keluargaku sahabat mamanya itu tinggal di Indonesia."
"Iya,Tuan." Darren masih terdiam di sana, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa lagi?"
"Tuan, kalau nanti bertemu dengan Hazel, sampaikan salamku padanya."
"Iya, nanti aku sampaikan."
"Dan tolong berikan nomor teleponku padanya, supaya kami bisa berkomunikasi."
"Kamu menyukai Hazel?" Kedua alis Rhein mengkerut.
"Dia sudah seperti adikku, Tuan. Oleh karena itu sebenarnya saya tidak mau memberikan informasi ini pada Tuan Rhein karena saya tidak mau Tuan Rhein mencari Hazel hanya untuk menyakitinya."
Rhein terdiam mendengar apa yang di sampaikan oleh Darren.
"Aku tidak akan menyakitinya, tapi aku memiliki urusan yang belum terselesaikan dengannya."
"Kalau begitu saya permisi dulu." Darren pergi dari apartemen Rhein.
Terlukis senyum miring pada bibir Rhein. "Aku akan mendapatkan kamu, Hazel. Urusan kita belum selesai," ucapnya tegas.
__ADS_1
***
Di tempatnya, Hazel sedang berada di dalam kampusnya. Ini hari pertama dia kuliah dan ternyata Hazel dapat mengikuti pelajaran dengan baik walaupun tersendat akan bahasa, tapi dia di sana memiliki teman-teman yang sangat baik.
"Hazel, apa benar kamu tinggal di rumah si pangeran kampus Orlaf?"
"Pa-pangeran? Prince maksud kamu? Tapi dia bukan seorang pangeran."
Dia orang teman wanita Hazel tertawa. "Itu hanya perumpamaan, Hazel."
"Iya, semacam kita membayangkan seorang dia seorang pangeran tampan berkuda putih yang ada di dongeng," timpal gadis yang duduk di sebelah Hazel.
"Oh ...! Aku minta maaf. Aku memang tinggal dengan keluarga Orlaf. Mereka sudah mengangkat aku menjadi anak angkatnya."
"Wow! Bagaimana ceritanya?"
Hazel menceritakan tentang hubungan persahabatan mamanya dengan mommy Orlaf.
"Maaf, ya, Hazel, kita jadi membuat kamu mengingat kenangan buruk masa lalumu."
"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak marah dengan kalian. Terima kasih sudah menjadi temanku."
"Sama-sama, Hazel." Tangan mereka saling berpegangan.
Tidak lama pria yang tadi mereka bicarakan datang ke sana. Dia duduk di sebelah teman Hazel. Sontak saja kedua gadis itu terkejut dan tampak senang melihat ada Orlaf di sana.
"Hai, semua," sapa Orlaf ramah.
Di kampus Hazel ada beberapa kelas, dan Orlaf beda kelas dengan Hazel dan dia gadis teman Hazel.
"Hai, Orlaf, apa boleh berkenalan sama kamu?"
"Tentu saja."
"Aku duluan yang kenalan, Sa." Gadis satunya tiba-tiba menyerobot tangan gadis yang duduk dengan Orlaf.
"Hei, aku akan kenalan dengan kalian berdua."
Hazel yang melihat menahan senyum. Tingkah dua gadis yang memiliki wajah sama itu tampak lucu. Ya! Teman Hazel ini dua gadis kembar.
"Namaku Sisi, dan Ini adikku Sasa."
"Aku juga mau berjabatan tangan dengan Orlaf, Si."
"Bagaimana kalau kita berjabat tangan semua." Kedua tangan Orlaf saling menjabat. Satu jabatan dengan Sasa, dan satunya dengan Sisi.
"Kita senang sekali akhirnya bisa berkenalan dengan kamu, Orlaf."
__ADS_1
"Aku juga senang bisa berkenalan dengan kalian. Tolong bantu Hazel jika dia menemukan kesulitan di kelasnya."