
Rhein tidak mengeluarkan satu katapun di dalam mobil dia hanya terdiam. Hazel pun hanya bisa diam tidak mau mengajak Rhein bicara karena dia tau jika Rhein terlihat sedang marah dengannya.
"Kamu nanti apa bisa pulang kuliah sendiri?"
"Memangnya kamu tidak bisa menjemputku?"
"Aku mungkin akan mengikuti apa yang disarankan oleh adikku Orlaf."
"Makan malam dengan Dinda?"
"Iya, aku mungkin harus lebih mengenal dan dekat dengannya. Siapa tau aku bisa mencintainya."
Hazel ingin mengatakan sesuatu, tapi kembali ditahannya. "Aku bisa pulang sendiri, nanti aku akan meminta tolong si kembar untuk mengantarku pulang."
"Bagus kalau begitu."
Rhein kembali mengendarai mobilnya dan mereka sampai di depan kampus Hazel.
"Rhein, terima kasih."
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Anggap saja ini tugas seorang calon kakak ipar pada adik iparnya."
Hazel tidak berkata apa-apa, dia turu dan disambut oleh dua sahabatnya.
"Hai, Kak Rhein," sapa Sasa dan Sisi barengan pada Rhein.
"Hai, aku pergi dulu ya duo kembar yang cantik. Bye!"
Rhein pergi dari sana tanpa mengucapkan salam perpisahan pada Hazel.
"Dia tampan sekali ya, Hazel! Tau begitu aku dekati itu kakaknya Orlaf, sebelum si gadis menyebalkan itu mendekatinya."
"Mereka akan segera bertunangan."
"Apa? Kamu serius?" Sasa dan Sisi lagi-lagi kaget barengan.
Hazel mengangguk perlahan. "Aduh! Kasihan kak Rhein jika menikah sama gadis itu."
"Kalian, kan, baru mengenalnya. Lagi pula mommynya Orlaf juga tidak mungkin mencarikan putranya calon istri yang tidak baik. Dinda itu calon istri idaman untuk Rhein." Hazel seolah tidak ikhlas mengatakan hal itu.
Mereka kemudian masuk ke dalam kelas dan mulai ujiannya hari ini. Sedangkan Rhein pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke kantor Akira.
"Aku kira kamu tidak mau datang."
"Aku lapar, Akira, apa kamu tidak bisa menyuruh sekretarismu mengantarkan sesuatu yang bisa aku makan di sini?"
"Duduklah dulu, aku akan menyuruhnya untuk menyiapkan makanan untukmu."
Akira menghubungi sekretarisnya untuk menyiapkan makanan dan membawa ke ruangan Akira.
Tidak lama sekretaris Akira masuk dengan salah satu OB membawa beberapa makanan untuk Rhein.
"Ini, Pak, apa ada lagi yang Anda butuhkan?"
"Terima kasih, Cantik." Rhein mengedipkan salah satu matanya pada sekretaris Akira.
__ADS_1
"Kamu boleh pergi. Terima kasih."
"Nama dia siapa, Akira?"
"Dia sudah menikah dan memiliki dua orang anak."
"Oh God! Kenapa dia sudah menikah?"
Akira menggelengkan kepalanya tidak percaya pada sikap adiknya. Rhein makan dengan lahap semua hidangan yang disediakan oleh Akira.
"Kamu tidak makan?"
"Aku sudah makan, setiap hari Nala selalu membuatkan masakan yang enak untukku."
"Enak sekali kamu ada yang membuatkan masakan tiap pagi."
Akira duduk tepat di samping Rhein. "Makannya, kamu segera menikah."
"Kalau seperti itu tidak harus menikah. Di apartemenku sana, aku bisa memiliki seseorang yang bisa tiap pagi membuatkan aku masakan, bahkan menemaniku tidur." Rhein tersenyum miring.
"Siapa? Pelayan kamu yang bernama Hazel itu?"
Rhein melihat pada Akira. "Nala pasti sudah menceritakan sama kamu. Kenapa dia tidak bisa menyimpan rahasia darimu?"
"Itulah namanya pasangan suami istri sebenarnya, tidak ada rahasia. Kamu besok kalau sudah menikah juga tidak boleh ada rahasia."
"Aku tidak akan menikah."
"Serius? Dengan Hazel juga kamu tidak akan menikah?"
Rhein melihat heran pada Akira. "Apa maksud kamu menikah dengan Hazel? Dia akan menikah dengan Orlaf."
"Bukan aku yang tidak mau memperjuangkannya, tapi dia ingin dengan Orlaf, dan aku akan mengabulkan permintaannya."
"Apa dia tidak mencintaimu?"
"Dia mencintaiku, sangat mencintaiku, tapi hati malaikatnya lebih besar dari cintanya padaku. Dia tidak mau aku sampai ada masalah dengan keluargaku, bahkan dia takut menyakiti Orlaf. Apa yang harus aku lakukan? Tetap bercerita pada keluarga kita dengan resiko Hazel akan membenciku dan bisa saja hubunganku dengan Orlaf akan tidak baik."
"Bukannya hubunganku dan kamu juga bisa baik pada akhirnya."
"Kata siapa? Aku sebenarnya belum bisa memaafkan kamu karena diam-diam mencintai wanita yang aku cintai. Aku saja waktu itu ingin tidak mengakui kamu sebagai kakakku."
Akira malah terkekeh. "Lalu, kenapa sekarang kamu berada di sini?"
"Aku lapar." Rhein melihat datar pada Akira. "Aku memaafkan kamu karena Nala yang membuatku memaafkanmu."
"Menurutku, kamu seharusnya memperjuangan Hazel apapun resikonya."
Rhein berdiri dari tempatnya. "Terima kasih makanannya dan biarkan aku menyelesaikan masalahku dengan caraku."
"Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu."
"Kamu pernah merenggut kebahagiaanku dan sekarang kamu mendoakan aku."
"Dengan Hazel semoga kamu bahagia, jangan mengulang kisah sedihmu lagi."
__ADS_1
"Lebih baik aku ke tempat kakak iparku saja. Lebih menyenangkan saat bercerita dengannya."
"Awas saja kalau kamu sampai menggodanya." Rhein pergi dari sana.
Pulang kuliah Hazel menemui Belinda, dia mengatakan jika Orlaf kemarin mengalami insiden dan harus dirawat di rumah sakit.
"Kalau kamu mau ke sana, kita pergi bersama-sama saja karena si kembar juga mau menjenguk Orlaf."
"Aku takut nanti Orlaf tidak mau menerimaku."
"Kamu jangan khawatir, Orlaf bukan pria yang seperti itu."
Hazel akhirnya mengajak Belinda untuk pergi ke rumah sakit. Belinda diantar oleh supirnya dan Hazel pergi dengan si kembar.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Belinda agak ragu untuk melangkah masuk ke dalam kamar Orlaf.
"Tidak apa-apa, Orlaf tidak akan mengusirmu."
Hazel menggandeng tangan Belinda dan mengajaknya masuk ke dalam kamar Orlaf.
Hazel agak terkejut saat dia membuka pintunya. Di sana dia melihat ada Dinda dan Rhein yang sedang bicara dengan Tante Kei.
"Hazel, kamu sudah datang."
"Iya, Tante."
"Tadi Rhein aku tanya kenapa dia tidak menjemput kamu, katanya dia mau ke rumah Dinda dan Dinda tadi ingin menjenguk Orlaf."
"Hazel bisa pulang sendiri dengan Sasa dan Sisi."
"Iya, Tante, aku bisa pulang dengan Sasa dan Sisi. Oh, ya, Orlaf. Ini Belinda ingin menjengukmu."
"Hai, Orlaf, bagaimana keadaan kamu?" sapa Belinda agak takut.
"Aku sudah lebih baik. Terima kasih kamu mau menjengukku."
"Kamu Belinda mantan kekasih Orlaf, Kan?"
"Iya, Tante."
"Senang bisa berkenalan dengan kamu."
"Aku juga senang bisa berkenalan dengan Tante."
"Kamu mantan kekasih Orlaf? Dan Hazel yang adalah calon tunangan Orlaf membawa kamu ke sini? Wow! Hati kamu kuat sekali, Hazel."
"Aku tidak masalah dalam hal ini. Belinda bisa menjadi temanku."
"Aku berteman dengan mantan? Itu tidak akan terjadi."
"Dasar kamu saja yang tidak memiliki hati seperti Hazel," gerutu Sasa dan dia mendapat cubitan dari Hazel.
"Kamu mengatakan sesuatu, Si?"
"Aku Sa, bukan Si."
__ADS_1
"Sama saja, lain kali biar orang lain tidak tertukar memanggil kalian, pasang saja tag name di dada kalian."
"Memangnya kita mahasiswi yang baru masuk kuliah apa?"